Jumat, 18 April 2014
Mengapa Orang Berani Berbohong?
Rabu, 7 Maret 2012 | 10:09 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Benarkah kerakusan dan konsumerisme di era sekarang menyebabkan manusia mempunyai lebih banyak alasan untuk berbohong

KOMPAS.com - Suatu hari saya mengucapkan kata “bohong” kepada seorang anak, dan tidak disangka-sangka ibunya protes, “Kami tidak menggunakan kata kasar itu di hadapan anak-anak“. Bukan main. Bila semasa kecil saya dipelototi orang tua untuk mengakui bila diduga berbohong, dihukum bila melakukan kebohongan kecil sekalipun, ternyata pendekatan positif dalam pendidikan era modern ini menekankan agar anak-anak terbiasa mendengar dan mendapatkan rangsangan positif saja.

Kata “integritas” dan “jujur” lebih dipilih daripada kata “bohong”. Ini sesungguhnya hal yang sangat baik dan hasilnya juga terlihat nyata. Beberapa anak yang saya kenal, tidak mau pekerjaan rumahnya dikerjakan dengan bantuan orang tuanya. Anak terbiasa untuk menjaga integritasnya. Pertanyaannya, sampai kapan situasi ini bisa dijaga? Bagaimana dengan tontonan berita di media yang jelas-jelas menggambarkan orang berbohong? Bagaimana kalau kegiatan berbohong itu dikemas secara rasional sehingga anak tumbuh dengan kemampuan rasionalisasi yang kuat, sehingga berbohong pun kemudian terselimutkan dengan alasan-alasan yang masuk akal? Bagaimana menghadapi aparat yang begitu menyulitkan sehingga anak menyaksikan sendiri orangtua atau orang dewasa mengambil jalan pintas dan tidak bertumpu pada kebenaran dan mematuhi peraturan?

Ternyata tidak jelasnya garis antara berbohong dan tidak, serta tidak ekstrimnya hukuman yang diberikan terhadap tindakan berbohong, juga mempunyai dampak pada gaya hidup dan cara berpikir kita. Bahkan bisa dibilang bahwa saat sekarang dunia sedang dilanda “truth decay”. Betapa sering kita menemui janji yang tidak ditepati, tetap berbohong setelah jelas-jelas disumpah, "cutting corners" atau tidak menepati komitmen yang sudah diucapkan.

Filosof Mark Twain bahkan mengatakan: "Truth is more of a stranger than fiction." Benarkah kerakusan dan konsumerisme di era sekarang menyebabkan manusia mempunyai lebih banyak alasan untuk berbohong? Benarkah kejujuran bisa dibedakan implementasinya dalam kehidupan personal, profesional, atau bisnis? Bisakah kualitas kejujuran seorang individu digunting-copot, dipakai bila diperlukan, ditinggalkan bila tidak menguntungkan? Bukankah kita paham bahwa integritas dan kredibilitas kita sangat mempengaruhi bisnis dan keinginan pelanggan berhubungan dengan kita? Kenapa orang berani-beranian berbohong? Bisakah kita mengajarkan anak nilai kejujuran, sementara dalam bisnis kita berbuat curang? Mungkinkah kita menjadi panutan bila kita hidup di alam kebohongan?

Peningkatan kualitas hidup
Masih segar di ingatan kita betapa dunia terkejut dan kecewa ketika kita menyaksikan skandal Enron, perusahaan yang direspek hampir semua orang di dunia. Semua yang mendengar bagai patah hati dan tidak habis pikir bahwa kecurangan bisa terjadi di perusahaan canggih dengan SOP (prosedur standar) yang baku. Bila di perusahaan yang canggih dan dilengkapi alat kontrol yang baik, kebohongan dihalalkan, bagaimana dengan kita? Mungkinkah kita menganggap bahwa kejujuran adalah kualitas yang bisa kita lupakan? Atau subyek yang lebih hidup dalam legenda pinokio saja? Apakah kita akan membiarkan orang yang jujur masuk penjara, sementara yang tidak jujur berkeliaran dengan bangga?

Kita memang perlu berjuang keras untuk memperjuangkan peningkatan kualitas hidup. Itu sebabnya, kita tidak boleh menomorduakan kejujuran. Kejujuran adalah dasar dari pengembangan diri seseorang. Bila seseorang sudah tidak bisa berlaku jujur dalam lingkungan eksternalnya, mana mungkin ia mengembangkan kejujuran terhadap dirinya sendiri? Di keluarga, sekolah, perusahaan, pemerintahan, kejujuran tetap bersifat mendasar.  Kepemimpinan yang efektif sudah pasti berlandaskan kejujuran. Integritas menjadi nilai penting yang dianut hampir semua organisasi, sehingga individu yang menegakkan integritas semestinya diutamakan untuk dipromosikan. Setidaknya kita perlu meyakini bahwa dengan menegakkan integritas kita akan lebih direspek, bisa melangkah dengan bangga, sekaligus bisa melakukan pekerjaan dengan lancar.

Modal keberanian
Kejujuran kedengarannya sangat simpel. Kesesuaian antara kata-kata, tindakan, dengan realitas. Tambahan lagi, kejujuran adalah hubungan yang dekat dengan nurani, patuh, dan aktif mengembangkannya. Apa yang menyebabkan kita tidak menerjang lampu merah pada saat lengang? Apa yang menyebabkan kita tidak melakukan mark up gila-gilaan ketika kesempatan ada? Apa yang menyebabkan kita tidak menghalalkan white lies?

Tanpa disadari kita sering terganggu pada konsekuensi dari perilaku kita. Mungkin kita akan menghadapi sikap tersinggung orang lain atau bahkan tekanan sosial dari orang-orang yang menyepelekan kejujuran. Satu hal yang pasti adalah bahwa kita memerlukan keberanian tinggi untuk tetap bertindak jujur, dalam keadaan ekonomi, bisnis, nilai-nilai yang semrawut ini. Apapun situasinya, kita perlu menghidupkan disiplin diri yang tinggi dan berupaya keras mengungkapkan kebenaran yang pas, tidak lebih tidak kurang. Kita sering, tanpa sadar mendramatisir ide-ide kita, menggeneralisir, ataupun mendiskon kalimat-kalimat kita. Kitapun sudah terbiasa membuat penilaian terhadap suatu situasi, melebihi kemampuan ahlinya. Kata-kata yang kita susun sering demikian bagusnya, sehingga kita sendiri tidak mencerna dan menelaah kebenarannya lagi. Sebagai akibat, kita tidak terlatih untuk menggambarkan keadaan yang obyektif dan deskriptif.

Kebiasaan mencari fakta yang obyektif ini adalah latihan bagi kita agar kita tidak gampang dibelokkan, diselewengkan, atau dimusnahkan. Sejarah, politik, dan fakta di masyarakat akan terjaga kebenarannya bila semua orang di sekitar suatu lingkungan terbiasa dengan kebenaran faktual tadi. Honesty is the best policy. Not because someone in authority says it is. Not because you might get found out. But because it has practical benefits in your life.

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)

Editor :
Dini