Senin, 22 Desember 2014
Nasi Cepat Basi, Jangan Salahkan Alatnya
Minggu, 18 Maret 2012 | 12:04 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Jalan keluar terbaik adalah memasak nasi secukupnya setiap pagi agar nasi selalu habis saat makan malam.

KOMPAS.com - Masak nasi dengan dandang, kuno! Ada cara praktis, cuci beras, masukkan ke peralatan masak nasi elektrik, pencet tombol. Setengah jam kemudian, nasi pun matang. Mau hangat terus, juga bisa. Beberapa orang mengeluhkan memasak nasi dengan peralatan elektrik ini membuat nasi cepat basi. Kenapa ya?

Kerja bareng
Bagian penting dari sebuah peralatan masak nasi elektrik yang amat menentukan kualitas nasi ada empat, yakni elemen pemanas (heater), pengendali temperatur (termostat), wadah tempat menanak nasi (jar), dan bagian pengeluaran uap (steam outlet).

Heater yang bekerja menghasilkan panas baru bekerja bila ada arus listrik yang mengalirinya. Itu sebabnya, saat menanak nasi kita harus memencet tombol ON. Daya heater tiap peralatan masak nasi elektrik bervariasi, rata-rata antara 50 - 80 watt.

Heater tidak bisa bekerja sendirian, melainkan bersama dengan termostat yang bertugas memastikan temperatur nasi berada dalam rentang temperatur 75 - 80 derajat Celcius. Nasi, tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin. Bila nasi sudah panas, termostat akan memutus aliran listrik ke heater agar pemanasan menjadi OFF. Sebaliknya, bila nasi sudah mulai dingin, bagian ini akan memberi informasi pada heater agar ON kembali.

Nasi yang berada dalam rentang tadi tidak akan cepat basi. Tetapi, yang terjadi kadang respons termostat tidak sempurna sehingga temperaturnya turun hingga di bawah minimum. Bila ini terjadi, nasi cenderung berair dan cepat basi.

Kedua elemen listrik tadi sangat berkaitan dengan tegangan listrik. Di negeri kita, tegangan listrik yang harusnya 220 V sering tidak stabil terutama pada saat beban puncak yang terjadi pada malam hari, atau jika ada masalah gangguan suplai listrik. Tegangannya bisa turun hingga 180 V atau malah kurang dari itu. Akibatnya, heater yang didesain untuk tegangan 220 V tidak mampu menghasilkan panas yang cukup. Kinerja heater dan termostat pun terganggu dan berdampak buruk terhadap kualitas nasi. Nasi berair dan cepat basi.

Jalan keluar terbaik adalah memasak nasi secukupnya setiap pagi agar nasi selalu habis saat makan malam, dan peralatan masak nasi yang bisa sekaligus menghangatkan nasi tidak perlu bekerja menghangatkan nasi pada malam ini. Cara lain, bila ada nasi yang berlebih, simpanlah di lemari pendingin untuk kemudian dihangatkan kembali esok paginya.

Bau yang menempel
Wadah tempat menanak nasi juga ikut mempengaruhi kualitas nasi. Wadah yang pernah digunakan untuk menghangatkan nasi basi, bau basinya akan menempel di pori-pori wadah, terutama wadah yang memiliki lapisan antilengket, juga di seal karet dan tutup peralatan. Gara-gara bau yang menempel ini, nasi yang tidak basi pun akan mengeluarkan aroma basi.

Yang terakhir adalah bagian pengeluaran uap. Bila lubang pengeluaran uap tersumbat sesuatu, entah itu nasi, lubang cenderung lembab dan menjadi tempat yang nyaman bagi bakteri pembusuk. Uap air yang melewati bagian ini lalu terkontaminasi bakteri tadi dan nasi pun cenderung lekas basi.

Jadi, sesungguhnya nasi basi belum tentu salah peralatannya. Ketidaktahuan kita tentang seluk-beluk peralatan ini bisa jadi menjadi penyebabnya.

(Doan Syahreza A)


Editor :
Dini
BERITA LAIN: