Jumat, 18 April 2014
Perkiraan Kelahiran Bayi Kok Meleset?
Kamis, 29 Maret 2012 | 06:41 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Untuk mengurangi kepanikan karena si bayi tak kunjung lahir, Anda bisa menjalani beberapa pemeriksaan tertentu untuk memastikan calon bayi masih dalam keadaan sehat.

KOMPAS.com - Menjelang akhir masa kehamilan, rasanya sudah tidak sabar ingin menimang si jabang bayi. Tak hanya Anda, orang-orang terdekat juga akan selalu bertanya, kapan si kecil akan lahir. Namun, tunggu punya tunggu, si bayi mungil tak juga kunjung lahir. Bahkan bisa jadi saat itu usia kehamilan Anda sudah melewati minggu ke-40.

Merasa cemas? Perlu Anda tahu, jadwal kelahiran bayi itu sebenarnya hanya berupa perkiraan saja. Faktanya, hanya sekitar 5 persen bayi yang lahir tepat sesuai perkiraan. Sisanya dapat bergeser lebih cepat atau lebih lama. "Pergeserannya bisa satu minggu setelah tanggal perkiraan, bahkan bisa dua minggu. Jadi, Anda tidak perlu terlalu cemas," kata Alex C. Vidaeff, MD, MPH, peneliti dan praktisi  di bidang maternal-fetal medicine, University of Texas Medical School, Houston.

Pada trimester pertama, tanggal kelahiran bayi akan dihitung dengan cara menambahkan 40 minggu (280 hari) pada hari pertama dari menstruasi terakhir Anda, kemudian dicocokkan dengan gambar USG yang diambil untuk mencatat usia embrio atau fetus pata saat itu. Namun, semuanya itu tetap saja masih dalam bentuk perkiraan. "Anda bisa jadi hamil 39 minggu, sementara perkiraan menunjukkan Anda sudah masuk ke minggu ke-40," imbuh Vidaeff.

Kehamilan baru disebut "post-term" (melewati batas) apabila telah melewati minggu ke-42. Untuk mengurangi kepanikan, Anda bisa menjalani beberapa pemeriksaan tertentu untuk memastikan calon bayi masih dalam keadaan sehat, serta kondisi plasenta maupun cairan ketuban masih pada level normal. Dokter akan menunggu hingga akhirnya bayi lahir dengan alami, namun bila tidak kunjung lahir juga, proses kelahiran akan dilakukan melalui proses operasi.

Penulis :
Irene J. Haris / Jeane Meiske Widi
Editor :
Dini