Rabu, 22 Oktober 2014
Gunanya Mengajarkan Anak Mengelola Uang
Minggu, 1 April 2012 | 15:54 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Karena sejak kecil diajarkan untuk mengelola uang, anak terbiasa untuk berhati-hati ketika menggunakan uang, dan selalu memikirkan masa depan.

KOMPAS.com - Mengajarkan anak cara mengatur keuangan sebaiknya dilakukan sejak mereka masih kecil, terutama untuk anak perempuan. "Anak perempuan harus mampu mengatur keuangan dengan bijaksana, karena suatu saat mereka akan menjadi ibu rumah tangga yang mengatur keuangan keluarga," ungkap Donna Tyrrell, perencana keuangan dari Lighthouse Financial Advisors.

Mengajarkan anak perempuan perencanaan keuangan sejak dini juga membuat mereka lebih mampu menyikapi perlunya perjanjian pranikah dalam hal keuangan bersama pasangannya kelak. Dengan mengenal uang sejak kecil, anak perempuan diharapkan akan lebih menghargai nilai uang dan usaha orangtuanya dalam mencari uang. Dalam hal ini ibu merupakan panutan utama bagi anak perempuan.

Beberapa perencana keuangan di Amerika berbagi pengalaman saat mereka mengenalkan uang pada anak-anak perempuannya.

1. Jill Gianola, perencana keuangan dari Gianola Financial Planning

Gianola mulai mengenalkan uang sejak putrinya duduk di kelas satu sekolah dasar. "Saya memberinya uang saku mingguan dan menyarankannya untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung," ungkapnya.

Ketika ia membukakan buku tabungan, semula sang anak menolaknya. Tetapi beberapa tahun kemudian sang anak baru berterima kasih karena merasakan manfaatnya. Karena sejak kecil diajarkan untuk bijaksana dalam mengelola uang, si anak terbiasa untuk hati-hati ketika menggunakan uang, selalu memikirkan masa depan seperti membeli asuransi kesehatan, dan mengerti bagaimana membuat pos-pos pengeluaran.

2. Susan Honig, perencana keuangan dari Veritana Financial Planning

Honig mengajarkan anaknya untuk hidup hemat sesuai kemampuan. "Ketika tidak punya uang untuk membeli permen atau mainan yang diinginkan karena harganya yang mahal, saya mengajarkannya untuk bersabar dan menabung untuk mendapatkannya," tukasnya.

Memang ada cara instan untuk mengatasi masalah ini, misalnya menggunakan kartu kredit. Namun Honig menghindari penggunaan kartu kredit terlalu sering di depan anak, karena dengan demikian ia justru mengajarkan anak untuk berutang dan meremehkan nilai uang.

Honig bangga karena putrinya mendengarkan saran ibunya. Sampai saat ini putrinya selalu menyisihkan setidaknya 10 persen dari penghasilannya untuk ditabungkan, dan merencanakan pajak penghasilannya. "Bahkan sekarang ini dia sudah dapat membeli rumahnya sendiri dari hasil tabungannya," ungkapnya.

3. Jeanne Brutman, perencana keuangan
Brutman belum mengenalkan uang pada putrinya yang berusia 13 tahun secara formal. Ia membiarkan putrinya melatih kemampuannya sendiri untuk mengelola uang. "Saya tidak mengajarkannya secara langsung, namun saya selalu mengevaluasi setiap benda yang dibelinya," ungkapnya. Ia rajin menanyakan apakah barang yang dibeli anaknya memang berguna, dan bukan dibeli dengan cara berutang.

Brutman juga memberikan hadiah untuk setiap hal baik yang dilakukan putrinya, seperti kegiatan amal untuk membantu orang lain. Dengan cara ini, anak-anak dapat belajar mengelola keuangannya sekaligus berbuat baik dengan uang yang dimilikinya dengan kesadarannya sendiri.

4. Stacy Hefty, perencana keuangan Hefty Wealth Partners
Stacy mengungkapkan bahwa salah satu cara untuk mendidik putrinya tentang masalah keuangan adalah dengan tidak memberinya kartu kredit. "Ada waktunya untuk memperkenalkan mereka dengan kartu kredit, dan bagaimana cara yang tepat untuk menggunakannya," ujarnya.

Stacy mencoba menggambarkan bahwa uang tidak akan selalu membuat mereka bahagia, sebaliknya bisa membuat hidup seseorang menjadi tak bahagia. Oleh karena itu pengelolaan keuangan yang baik sangatlah dibutuhkan.


Penulis :
Christina Andhika Setyanti
Editor :
Dini
BERITA LAIN: