Rabu, 22 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Srikandi Inspirasi bagi Negeri 2012
21 Srikandi Bertekad Kalahkan Ego Masing-masing
Penulis : Christina Andhika Setyanti | Kamis, 19 April 2012 | 16:32 WIB
|
Share:

KOMPAS.com - Semangat Kartini yang tak pernah putus, membangkitkan semangat dan perjuangan para perempuan Indonesia untuk maju dan mensejajarkan diri dengan pria dalam banyak hal. Untuk membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan setara pria, sejumlah "Kartini modern" melakukan perjuangan secara simbolis dalam suatu perjalanan bersepeda sejauh 600 km.

Sebanyak 21 perempuan yang tergabung dalam komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia pada Kamis, 19 April 2012 ini, akan mengulang keberhasilan para Srikandi Bike to Work jilid 1 yang dilakukan pada April 2011 lalu, dengan bersepeda dari Jepara menuju Bandung. Perjalanan bersepeda yang akan diawali di Jepara pada hari ini diperkirakan akan tuntas dilakukan selama 10 hari.

"Ajang ini tidak hanya bertujuan untuk bersepeda saja, tetapi juga untuk mengangkat kesetaraan hak dan kemampuan perempuan menuju Indonesia yang lebih baik," tukas Ketua Umum B2W, Toto Sugito, saat peluncuran program Srikandi Inspirasi bagi Negeri 2012 di Gedung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Jakarta, Rabu (18/4/2012) lalu.

Perjalanan akan melintasi 21 kota di Indonesia ini melibatkan perempuan dari beragam profesi seperti guru piano, penerjemah, karyawan swasta, dokter, dan lain sebagainya. Kecintaan mereka pada olahraga bersepeda membuat mereka berani berkomitmen untuk menempuh jarak yang cukup jauh. Bahkan beberapa peserta bersepeda ini sudah sering melakukan perjalanan bersepeda dengan menempuh jarak yang cukup jauh hingga lintas pulau.

Diakui Seklie Patyuniestri, salah satu peserta, latihan yang dilakukan untuk persiapan perjalanan ini tidak mudah. Di awal latihan, mereka diwajibkan untuk selalu mengikuti latihan rutin sebanyak lima kali dalam sebulan, dengan jarak tempuh sekitar 70-100 km per sesi. Dalam sesi latihan tersebut, ke-21 Srikandi ini mengaku banyak menemui tantangan dan hambatan, seperti kelelahan fisik, cuaca yang panas, sampai penguasaan teknik bersepeda yang tepat.

"Di sini kami dilatih untuk bisa bersepeda dengan teknik yang tepat. Misalnya, di sini kami baru mengetahui bahwa tinggi sadel sepeda, sampai posisi pedal yang tepat, menentukan kekuatan kayuh," tukas Seklie.

Salah satu tantangan terbesar mereka saat latihan selain kelelahan fisik, adalah tingkat emosional dan ego masing-masing pribadi yang belum bisa disatukan. Seklie mengungkapkan bahwa di awal latihan mereka ditantang untuk melakukan perjalanan sepeda bersama-sama. "Di sini baru terlihat bahwa ego masing-masing orang masih menonjol, yang merasa kuat pasti jalan duluan, dan yang agak lemah biasanya di belakang. Padahal kami harus ada teamwork yang kuat," bebernya. 

Selain itu, rasa lelah yang mendera mau tak mau juga membuat mereka menjadi sempat merasa emosi satu sama lain, meskipun tidak sampai menimbulkan pertengkaran. Namun, kesatuan tekad dan kesamaan visi misi untuk memperbaiki Indonesia dengan mengenang semangat Kartini ternyata membuat mereka kembali bersemangat dan menjalin kerjasama satu sama lainnya.

"Akhirnya pada latihan kedua kami sudah mulai kompak, dan semakin kompak sampai sekarang ini," tukasnya bangga.

Namun bagaimanapun juga pertarungan yang sebenarnya belum lah dimulai. Tantangan yang akan mereka hadapi di lapangan yang sesungguhnya pasti lebih berat. Karena di perjalanan nanti mereka tidak akan mendapatkan waktu istirahat yang banyak, karena mereka hanya akan berhenti dan menginap di enam kota saja. Selain itu mereka juga disarankan untuk tidak banyak membuang waktu untuk makan siang, dan akan menyantap makanan ringan untuk tambahan energi seperti pir, apel, dan cokelat, sambil tetap mengayuh sepeda.  

Misi yang diemban oleh para Srikandi ini pun sangat penting, karena kehadiran mereka diharapkan mampu menginspirasi perempuan lain untuk melakukan banyak perubahan, baik untuk diri sendiri maupun lingkungannya. Srikandi merupakan perlambang dari perempuan modern yang sehat dan peduli pada masa depan lingkungan, dan generasi penerus yang menghargai pahlawannya.

Editor :
Dini