Minggu, 26 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Fashion Tanpa Muara Bagdja
Penulis : Wardah Fazriyati | Selasa, 1 Mei 2012 | 15:22 WIB
|
Share:

KOMPAS.com - Nama Muara Bagdja tak asing di kalangan praktisi dan pecinta mode Indonesia. Dunia fashion kehilangan sosok penulis mode dan pengamat fashion yang kritis namun santun dalam bertutur ini. Muara Bagdja telah berpulang di usianya yang ke-55, Senin, 30 April 2012, setelah berjuang melawan kanker kelenjar getah bening.

Kini dan nanti, Muara Bagdja selalu terekam dalam sejarah fashion Indonesia dengan berbagai kontribusinya, dan kenangan dari sahabat dan kolega.

Bagi desainer Lenny Agustin yang telah mengenal baik almarhum Muara Bagdja sejak 2006, sosok almarhum adalah seorang sahabat yang baik buat semua orang, bagi insan mode baik yang senior maupun pendatang baru.

"Saya sangat kehilangan mas Muara, seorang pengamat dan penulis mode yang cerdas dan berwawasan luas. Saya tak bisa berhenti menangis kalau ada yang membicarakan mas Muara," ungkapnya melalui pesan singkat kepada Kompas Female.

Bagi desainer senior Edward Hutabarat, almarhum Muara Bagdja punya andil besar terhadap dunia mode, meski kiprah dan kontribusinya tak banyak diketahui orang.

"Muara turut andil membuat kebaya meledak hingga sekarang ini dengan tulisan-tulisannya. Fashion tanpa Muara tak akan seperti ini. Ia turut terlibat dalam perkembangan fashion. Namun memang tak banyak orang yang menyadari perjuangan almarhum karena ia memang bukan orang yang doyan tampil, ia tidak vokal dan cenderung pendiam," jelasnya saat ditemui  di rumah duka di jalan Rawasari Timur IV/28, Jakarta Pusat, Selasa (1/5/2012).

Bagi Edward, almarhum merupakan salah satu penulis fashion senior di dunia mode, sekaligus penggagas penulisan fashion di Indonesia.

"Tulisannya tidak menyakiti, tidak menggurui, tapi memberikan pesan dan solusi untuk mode. Ia mahir berbahasa Perancis, literatur dalam menulis bukan hanya lokal saja. Ia menguasai berbagai istilah fashion. Wawasan fashionnya berskala internasional," ungkapnya.

Edward pun berharap, akan muncul penulis muda yang bisa menerjemahkan karya desainer dengan baik. Seperti Muara yang dengan cerdas menulis kebaya hingga karya-karya Dior.

"Fashion memiliki infrastruktur, salah satunya penulis. Penulis fashion inilah yang juga harus diperkuat. Tulisan fashion hebat kalau penulisnya bisa membaca konsep sebuah karya, filosofi di dalamnya, dan memberikan solusi," tandasnya.

Editor :
Dini