Selasa, 2 September 2014
Wajah Patricia Gosong Karena Sesi "Tanning"
Jumat, 4 Mei 2012 | 15:28 WIB
|
Share:
THE DAILY MAIL

Patricia Krentcil kemungkinan mengidap tanerexia, kondisi dimana penderitanya tidak menyadari seberapa gelap warna kulitnya.

KOMPAS.com - Berita tentang seorang perempuan asal Nutley, New Jersey, yang ditangkap karena mengajak Anna, anaknya yang berusia 5 tahun, ke salon tanning (untuk menggelapkan kulit) sehingga mengalami luka bakar parah di sekujur tubuhnya, ramai dibincangkan kemarin. Patricia Krentcil (44) mengajukan permohonan tidak bersalah di pengadilan tinggi atas tuntutan membahayakan anak, karena hukum di New Jersey memang melarang anak di bawah 14 tahun menggunakan salon tanning.

Lepas dari pertanyaan apakah Krentcil bersalah atau tidak atas tuduhan tersebut, sebagian kalangan justru mempertanyakan kesehatan mental perempuan ini. Banyak perempuan yang menjalani perawatan tanning agar kulitnya terlihat lebih coklat berkilau. Namun wajah Krentcil tampak gosong karena proses pencoklatan kulit yang berlebihan, dan membuatnya tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Jelas, ia tidak merawat kulitnya dengan baik, tidak menerima keadaan dirinya apa adanya, dan lebih dari itu juga tidak memberikan pesan yang tepat pada anaknya.

Doris Day, ahli dermatologi, menyebut Krentcil mengalami tanerexia, kondisi dimana penderitanya tidak menyadari seberapa gelap warna kulitnya. Penggunaan tanning bed yang terlalu sering juga meningkatkan risiko kanker kulit. Penelitian yang pernah dilakukan membuktikan bahwa pengguna tanning bed menunjukkan perubahan otak yang mirip dengan yang terlihat pada pecandu obat-obatan terlarang. Otak pengguna indoor tanning menunjukkan penggerakan area yang berfungsi mencari kesenangan dan apresiasi, hampir sama dengan yang kita rasakan ketika makan permen atau minum alkohol.

Mengapa ada orang, seperti Krentcil, yang sampai mengalami tanerexia?

"Menggunakan tanning bed memiliki efek penghargaan pada otak, sehingga orang mungkin merasa dipaksa untuk bertahan, meskipun hal itu tak baik untuk mereka," papar Dr Bryon Adinoff, profesor bidang psikiatri di Southwestern University.

Yang menjadi masalah, Krentcil tampaknya memiliki ketergantungan pada tanning, dan hal itu bisa menandakan kondisi medis yang sah. Orang yang tak mampu menghentikan hal-hal yang mereka lakukan terhadap tubuh, meskipun efeknya membahayakan, bisa dibilang mengalami kecanduan. Maka, kesehatan mentalnya pun pantas dipertanyakan.

Masalah ini bahkan mencuat karena guru TK Anna melihat bagaimana bocah perempuan berkulit pucat dan berambut merah itu suatu hari menampakkan luka bakar pada kulitnya. Sang ibu mengakui bahwa Anna memang ikut ke salon, tetapi tidak masuk ke booth tanning dan hanya menunggu ibunya menjalani sesi pencoklatan kulit. Krentcil berkeras kulit Anna terbakar matahari karena bermain di halaman.

Tanning booth disebut-sebut memancarkan radiasi sinar ultra violet, yang diketahui sebagai karsinogen. Ahli dermatologi Dr Stephanie Badalamenti mengatakan bahwa tanning booth bisa meningkatkan risiko melanoma, sejenis kanker kulit yang mematikan, hingga 75 persen. "Efeknya bisa sangat berbahaya, dan mengubah hidup penderitanya," ujar Badalamenti.

Menurut polisi, Anna tampaknya menerima paparan radiasi ini cukup banyak sehingga membakar kulitnya. "Tak pernah sekalipun dalam hidupku aku berniat membahayakan anakku, dengan memasukkannya ke tanning booth. Aku tidak bodoh," bela Krentcil, yang mengaku sudah bertahun-tahun rutin mengunjungi salon tanning.

Apapun pembelaan Krentcil, polisi menangkapnya pada Selasa (24/4/2012) lalu.

 

 


Penulis :
Felicitas Harmandini
Editor :
Dini
BERITA LAIN: