
KOMPAS.com - Gadget menjadi alat bantu yang dibutuhkan individu dalam menjawab tantangan pekerjaan, menjadi benda multifungsi bukan sekadar alat komunikasi. Namun, penggunaan gadget yang mulai salah kaprah memunculkan kekhawatiran termasuk berisiko merusak hubungan berpasangan.
Pasalnya semakin banyak orang, termasuk pasangan menikah yang bekerja, terlalu dekat dengan gadget. Waktu lebih banyak tersita dengan kegiatan bertegur sapa sekadar meng-update status menggunakan ponsel pintar. Komunikasi tatap muka dengan pasangan, bahkan ketika berada di rumah pun, kian terlupakan.
SariWangi melihat kebutuhan akan komunikasi tatap muka ini. Untuk itu, SariWangi memulai gerakan Romantic Hour, Satu Jam di Malam Hari Tanpa Gadget guna mengingatkan kembali pasangan suami istri akan pentingnya kebersamaan dan komunikasi tanpa gangguan gadget, untuk menciptakan romantisme.
Gerakan ini berlangsung mulai 12 Mei 2012, dengan dukungan dari tokoh perempuan Prof Dr Meutia Hatta, pasangan selebriti Artika Sari Devi dan Baim, juga sejumlah pasangan suami istri yang diundang menikmati makan malam bernuansa romantis di Hotel Shangri-La Jakarta.
SariWangi ingin memberikan inspirasi, bahwa pasangan suami istri bisa meninggalkan sejenak gadget-nya untuk saling bicara. SariWangi memilih waktu malam hari, sekitar pukul 19:00 hingga 20:00 sebagai momen kebersamaan bagi pasutri membangun romantisme tanpa gadget.
Fiona Anjani Foebe, Marketing Manager Beverages PT Unilever Indonesia mengatakan 12 Mei 2012 bisa dikatakan sebagai langkah awal sekaligus peringatan dimulainya gerakan yang mengajak pasutri untuk berkomunikasi dengan menyingkirkan gadget selama satu jam.
"Kami tidak akan berhenti memberikan cara-cara baru supaya komunikasi pasangan lebih berarti," ungkapnya di sela acara.
Meutia mengatakan mematikan gadget selama satu jam membuat pasangan dapat merasakan sejumlah manfaat. Pasangan semestinya dapat memelihara kebiasaan ini karena memperkuat komunikasi suami dan istri.
Gerakan yang berlangsung 12 Mei 2012 menjadi inspirasinya. Selanjutnya, lanjut Meutia, pasangan bisa mengatur sendiri. Apakah akan melakukan kebiasaan ini setiap minggu atau setiap bulan.
"Gerakan tidak hanya sekarang ini. Tapi pasangan bisa mulai membiasakan diri bahwa ada yang lebih penting daripada menggunakan gadget. Jangan sampai gadget menganggu kebutuhan lain yakni meningkatkan kualitas komunikasi," tutur perempuan yang aktif dan peduli pada pemberdayaan perempuan, dan menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini.
Baim dan Artika pun sepakat dengan Meutia yang melihat sisi positif dari gerakan ini. Keduanya menilai gerakan sosial ini menyangkut kepentingan orang banyak, dan bisa dilakukan bersama-sama namun perlu disikapi dengan baik.
"Hal ini bisa menjadi bumerang kalau pasangan tidak menyikapi dengan baik. Kami akan mencoba di keluarga dahulu dengan cara meminta baik-baik dan mengajak pasangan demi kebaikan bersama," tutur Baim.
Artika menambahkan, pasangan bisa mencuri waktu untuk memulai kebiasaan positif ini, selain juga berkomitmen dan membuat kesepakatan berdua.
"Berdua sepakat sebenarnya mau gadgetnya mati atau menyala. Kalau ada kebutuhan berbicara dengan pasangan, abaikan dan letakkan gadget. Karena kadang kita suka bicara tapi masih memegang gadget," ungkapnya.
Menurut Artika, gerakan Romantic Hour, Satu Jam di Malam Hari Tanpa Gadget juga menjadi pengingat bagi pasangan suami istri untuk fokus pada pembahasan ketika saling bicara. Bukan bicara tapi dengan gadget yang menjadi perhatian atau tak lepas dari tangan.
Bagaimana dengan Anda, cara seperti apa yang akan Anda lakukan untuk melakukan gerakan serupa saat berdua bersama pasangan di rumah?