Rabu, 23 April 2014
Di Malaysia, Produk Indonesia Laku dan Tak Bisa Ditiru
Selasa, 15 Mei 2012 | 19:03 WIB
|
Share:
BANAR FIL ARDHI

Mukena bordir masih menjadi pilihan pasar di pusat grosir Tanah Abang. Mukena bordir warna putih juga menjadi produk favorit pengusaha dan pelanggan dari Malaysia.

KOMPAS.com - Masyarakat dan pengusaha Malaysia menggemari produk Indonesia. Mulai busana muslim, mukena, produk fashion sulam dan bordir, tekstil, kerajinan tangan, hingga hantaran pernikahan dan pernak pernik suvenir yang unik khas buatan perajin Indonesia.

Ani Mulyani, Atase Perdagangan KBRI Kuala Lumpur, Malaysia mengatakan secara berkala, umumnya jelang Ramadhan, pengusaha Malaysia memborong busana atau produk fashion dan lifestyle dari pasar Tanah Abang, selain juga Bandung yang menjadi destinasi belanja favoritnya. Produk Indonesia di jual kembali oleh para pengusaha ini di negeri asalnya.

Tingginya animo masyarakat Malaysia terhadap produk Indonesia juga didapati dari penyelenggaraan pameran kerajinan produk lifestyle Indonesia, Inacfrat di Malaysia sejak 2009. Memasuki tahun keempat, penyelenggaraan Inacraft di Malaysia kian menjadi pilihan dan destinasi belanja favorit penggemar produk Indonesia di negeri jiran. Baik dari kalangan pengusaha, masyarakat Malaysia, juga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia baik kalangan ekspatriat hingga pekerja di perkebunan dan kilang.

Menurut Ani, produk Indonesia yang unik juga inovatif menjadi incaran masyarakat Malaysia. Pameran seperti Inacraft di Malaysia, menjadi kesempatan emas bagi mereka untuk memborong atau membeli satuan ragam produk Indonesia, dengan harga lebih kompetitif.

"Kebanyakan, produk yang diminati adalah mukena buatan dari Padang. Mungkin karena faktor kedekatan, banyak orang Malaysia keturunan Minangkabau. Makanan Indonesia juga diminati di Malaysia, terutama oleh orang Indonesia selain juga semakin banyak orang Malaysia yang mulai suka makanan Indonesia," jelas Ani saat peluncuran Inacraft Lifestyle in Malaysia ke-4 di Auditorium Kementrian Perdagangan, Jakarta, Selasa (15/5/2012).

Ia melanjutkan, "Busana muslim model abaya juga diminati, karena kebanyakan perempuan Malaysia berkerudung dan tidak menyukai busana two pieces termasuk tunik. Satu hal lagi, busana ukuran S tidak laku di Malaysia. Jadi, ukuran busana sangat penting diperhatikan jika ingin menawarkan produk busana ke Malaysia."

Makanan
Menurut Ani, produk makanan dari Indonesia sangat berpotensi dipasarkan di Malaysia. Terutama kepada TKI yang bekerja di pedalaman, di perkebunan atau kilang. Ia menambahkan, Atase Tenaga Kerja KBRI di Malaysia memiliki program mendatangi TKI ke kilang dan perkebunan. Pada pelaksanaan program inilah TKI di Malaysia mendapatkan informasi mengenai produk makanan Indonesia yang didapatkan melalui distributor Malaysia. Pihak KBRI juga bekerjasama dengan paguyuban TKI untuk memasarkan produk Indonesia.

"Saat ini kami sedang mengusahakan pemasaran produk Indonesia melalui koperasi agar penetrasi pasar untuk TKI di pedalaman lebih luas lagi," jelasnya.

Ani mencatat, sejumlah restoran dan produk makanan ternama dari Indonesia, seperti Bumbu Desa, Es Teler 77, Sari Ratu, memiliki cabang di Malaysia, antara 3-6. Bakso Cak Man pun berencana membuka cabang di Malaysia, untuk memenuhi selera kuliner orang Indonesia di Malaysia juga masyarakat setempat.

Produk Fashion dan handicrafts
Produk fashion, tekstil, sulam, bordir, dan handicrafts dari Indonesia juga tak kalah populer di Malaysia. "Handicraft memberikan sumbangan besar terhadap ekspor ke Malaysia, karena produk kita unik dan memenuhi selera masyarakat Malaysia," ungkap Ani.

Ia menambahkan, masyarakat Malaysia menggemari produk kerajinan Indonesia lantaran keunikannya, dan mereka pun mengalami kesulitan untuk menirunya karena kekhasannya.

Produk Indonesia yang paling digemari di Malaysia adalah keranjang hantaran pernikahan. "Pengusaha Malaysia bisa mengimpor keranjang hantaran 2-3 container per bulannya," tuturnya.

Produk tekstil juga digemari kaum ibu, terutama kalangan Datin di Malaysia. Para ibu di Malaysia bahkan sengaja mengirim kain ke Tasikmalaya untuk mendapatkan bordiran dan sulaman khas.

Busana muslim model baju kurung atau abaya juga sangat digemari terutama kalangan ibu. "Desainer busana muslim Indonesia juga terkenal dan memiliki pelanggan tetap di Malaysia, seperti Irna Mutiara, Dian Pelangi, butik Rabbani dan Shafira juga ada beberapa di Malaysia. Kaum ibu di Malaysia banyak yang menjadi langganan menjahit baju di Indonesia, karena biaya jahit di Malaysia lebih mahal," jelasnya.

Mengenai busana muslim, Ani menegaskan pentingnya memahami kebutuhan para ibu di Malaysia akan ukuran. Ukuran busana di atas XL lebih diminati. Panjang baju juga penting. Kaum ibu lebih suka menyukai ukuran yang lebih panjang daripada harus menjahit baju yang kependekan. Selain itu, pilihan warna juga harus tepat. Kaum ibu pengguna busana muslim di Malaysia lebih menyukai warna terang, tidak suka warna lembut atau gelap. Mereka juga menyukai busana muslim dengan detil manik dan payet. Kerudung ala Turki juga digemari di Malaysia.

Perhiasan dan mutiara menjadi produk Indonesia lainnya yang populer di Malaysia. Kaum perempuan juga ingin tampil modis dan beda dengan aksesori. Desainer Indonesia menjadi incarannya. Ani menyebutkan, perlengkapan sholat buatan Indonesia, terutama mukena berwarna putih paling digemari di Malaysia.

Suvenir
Orang Malaysia yang berencana menikah, mencari suvenir unik di Indonesia. Termasuk kebutuhan pernikahan seperti undangan. "Pasar Tebet menjadi destinasi masyarakat Malaysia yang mencari kartu undangan pernikahan," ujar Ani. Lagi-lagi, pertimbangan biaya produksi kartu undangan yang cenderung tinggi di Malaysia, membuat mereka lebih memilih datang ke Indonesia untuk memesan kartu undangan dengan desain jauh lebih menarik dan harga lebih kompetitif.

Selain selera masyarakat Malaysia yang sesuai dengan produk Indonesia, pendapatan per kapita per tahun Malaysia juga cenderung tinggi, sekitar 9.136 dollar, dengan pertumbuhan 5,1 persen. "Daya beli masyarakat Malaysia cukup tinggi," tambah Ani.

Masyarakat Malaysia merupakan ceruk pasar yang potensial untuk pebisnis, perajin, pengusaha Indonesia. Tertarik mencari peruntungan darinya?

Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
wawa