Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Jakarta Fashion and Food Festival
Semangat Cinta Negeri ala Desainer
Penulis : Christina Andhika Setyanti | Rabu, 16 Mei 2012 | 19:00 WIB
|
Share:
Koleksi beberapa desainer dalam fashion show di Swarna Negeri di Jakarta Fashion and Food Festival.

KOMPAS.com - Ajang fashion di Jakarta Fashion and Food Festival pada hari keempat menghadirkan kolaborasi desainer yang tergabung dalam The Catwalk Fashion Gallery. Warna-warni kebudayaan Indonesia menjadi salah satu hal yang menginspirasi para desainer ini untuk menampilkannya dalam pagelaran berjudul Swarna Negeri. Tuti Adib, Merry Yu, Yongki Liu, Lulu Lutfi, Sahasrakirana, Alif, Handy Hartono, Parang Kencana, dan Emia, memiliki interpretasi yang berbeda tentang kekayaan budaya Indonesia. 

Di sesi pertama, Handy Hartono menampilkan sekitar 10 busana santai yang semuanya berwarna putih dengan tambahan siluet biru muda, mirip guci-guci dari China. Mengangkat tema Chinese Bottle, Handy memberi warna yang berbeda dalam budaya Indonesia. Sama seperti tekstur guci China yang berlekuk, Handy juga memberi cutting busana yang simpel seperti pada koleksi cocktail dress, bolero cheongsam, dan mini dress-nya. Untuk mempertegas nuansa China, Handy memberikan motif guci di bagian depan busananya.

Batik sebagai salah satu warisan kebudayaan Indonesia menjadi tema yang dipilih Emia untuk menghadirkan koleksi batiknya yang bertajuk The Legacy Renewed. Emia menghadirkan 10 koleksi batik dengan motif bunga-bungaan, dengan warna-warna yang cerah seperti hijau, ungu, coklat, biru, dan putih. Batik yang dikreasikan dalam bentuk bolero dan mini dress semi formal, bisa dikenakan untuk berbagai kalangan usia dan beragam kegiatan. Garis potongan yang simpel dan modern menjadi kekuatan rancangannya.

Kebudayaan Indonesia yang terwujud dalam sentuhan kebaya dihadirkan oleh Alif di sesi ketiga. Kecintaannya pada teknik draperi menginspirasinya untuk menciptakan aneka lipit dan tumpuk pada koleksi busananya. Kebaya yang ditampilkan Alif mengadaptasi model kebaya lama yang banyak menggunakan unsur garis tegas dalam tiap bentuknya. Kebaya kutu baru diberi aksen bordir di beberapa bagian, membuat kebaya ini terlihat lebih modern. Beberapa koleksi busana cocktail dengan tambahan lipatan yang sedikit menggembung di bagian bawahnya membuat gaun ini terlihat feminin. Pilihan warnanya pun sangat mendukung kesan feminin itu, seperti ungu muda, putih, dan pink.

Di sesi keempat, Sahasrakirana juga menampilkan koleksi batik bertema Sogan Glory. Batik sogan merupakan jenis batik yang identik dengan kota Yogyakarta dan Solo, dan didominasi warna coklat seperti warna coklat pada kulit pohon. Dinamakan sogan, karena batik ini diwarnai dari kulit pohon soga. Untuk memberikan kesan yang modern, Sahasrakirana memberikan tambahan warna merah dan sedikit hijau. Busananya pun tidak sekadar menggunakan gaya tradisional. Dalam beberapa rancangannya, terlihat perancang ini banyak mengombinasikannya dengan ornamen beberapa negara. Misalnya dengan penambahan obi lipit yang diikat dengan pita, dan mini dress yang bergaya cheongsam. Gaun batik sogan juga tampil cantik ketika dirancang dengan gaya one shoulder.

Parang Kencana, sebagai salah satu rumah batik yang terkenal, juga meramaikan panggung Swarna Negeri dengan koleksi batiknya yang bertema Exotic Profusion. Parang Kencana memilih busana-busana berwarna cerah seperti hijau, toska, ungu, dan coklat. Hanya ada satu gaun berwarna hitam dengan motif bunga-bunga berukuran besar. Parang Kencana banyak memberi kesan seksi melalui model backless dan A-line. Untuk menonjolkan motif batiknya, sebuah selendang batik dengan warna senada ditambahkan sebagai pelengkap gaun cantik.

Lurik yang tadinya merupakan busana yang identik dengan busana abdi dalem keraton Yogyakarta ternyata juga bisa tampil menarik berkat sentuhan modernitas yang diberikan oleh Yongki Liu. Kain bermotif garis-garis ini ternyata bisa terlihat elegan ketika dikreasikan menjadi celana panjang formal. Untuk kesan lebih modern, Yongki berkreasi dengan bolero panjang dari kain lurik coklat. Aksen kerah lebar senada dengan warna lurik menghasilkan bolero mini dress. Yang unik, bolero ini diberi aksen dobel fungsional, sehingga bisa dikenakan bolak-balik bagian dalam maupun luarnya. Lurik yang dominan coklat juga dikombinasikan dengan warna-warna lain yang lebih cerah seperti krem, pink, dan biru muda.

Paduan kekuatan dan kecantikan alami perempuan
Busana tradisional tidak hanya dapat menggambarkan sisi lembut seorang perempuan, tetapi juga kesan kuat dan liberal. Hal inilah yang coba diangkat oleh desainer Lulu Lutfi Labibi, Merry Yu, dan Tuti Adib.

Lulu Lutfi Labibi menggunakan berbagai kain dengan motif tradisional, lalu melakukan permainan tabrak motif dan aksen tumpuk untuk menggambarkan kekuatan dan nilai liberal pada perempuan. Lulu terkesan berani dalam mengombinasikan motif garis dengan motif kotak dengan beberapa warna yang berbeda pula. Potongan asimetris dan tabrak warna menjadi nilai lebih pada kreasi Lulu.

Kelembutan perempuan dan kecantikan alaminya digambarkan Merry Yu dalam potongan busana yang simpel dan santai dalam balutan warna putih. Beberapa gaun mini yang santai, dan coat dengan tambahan hood yang besar menjadi salah satu nilai plus dalam busananya. Rancangan sederhana namun tetap elegan dengan tema The Escapade ini bisa jadi pilihan seru untuk berlibur.

Kebudayaan Indonesia tak bisa dilepaskan dari unsur Timur Tengah melalui penggunaan hijab. Jilbab saat ini memang tidak menjadi penghalang bagi kaum perempuan untuk memancarkan kecantikan alami yang santun. Masih dengan kombinasi garis asimetris tumpuk yang menjadi ciri khasnya, Tuti Adib menggambarkan kecantikan perempuan muslim dalam tema Beauty Shiny. Gamis panjang warna abu-abu serta tambahan payet dan manik-manik menambah kesan mewah pada koleksi busananya. Uniknya, koleksi gamisnya tampak terinspirasi dari model baju tradisional Korea (hanbok) dengan ragam warna biru bergaris merah dan hiasan payet di bagian depannya.

Editor :
Dini