
KOMPAS.com - Bagi sebagian besar orang, akhir pekan merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu. Selain bisa bersantai dari rutinitas, akhir pekan juga jadi saat yang paling pas untuk menyalurkan hobi, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Aktivitas ini bisa dilakukan untuk mengembalikan energi setelah bergulat dengan pekerjaan seminggu penuh.
Namun, dari sekian banyak cara dan kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengisi akhir pekan, kebanyakan orang pasti memilih untuk pergi ke tempat yang bersifat one-stop-service, seperti mal.
"Mereka lebih memilih ke mal, karena di sini tersedia berbagai fasilitas untuk seluruh keluarga, seperti tempat permainan, sampai toko-toko kebutuhan laki-laki dan perempuan," tukas M. Nofal Kurniawan, penggerak komunitas Wiken Tanpa ke Mall kepada Kompas Female, beberapa waktu lalu di Jakarta.
Nofal melihat pergi ke mal saat akhir pekan bukan cara yang tepat untuk menghabiskan waktu santai bersama keluarga. Ketika pergi ke mal, biasanya semua anggota keluarga punya tujuan sendiri-sendiri. Misalnya, ibu akan lebih tertarik untuk melihat-lihat outlet fashion, ayah akan tertarik melihat gadget, sementara anak-anak tentu menyasar area bermain. Dengan perbedaan tujuan ini, maka kebersamaan tidak akan terjalin, dan tujuan dari berakhir pekan bersama malah tidak akan tercipta.
Berangkat dari keprihatinan ini, Nofal dan beberapa temannya memutuskan untuk menjadi penggerak dan inovator berbagai kegiatan keluarga di akhir pekan yang dinamakan Wiken Tanpa ke Mall (WTM), Mei 2009. “Wiken Tanpa ke Mall tercipta dari beberapa orang yang mempunyai ‘kerinduan’ untuk mengajak masyarakat menyikapi kejenuhan akan tempat wisata yang cenderung monoton dan tidak kreatif. Ide kami tidak hanya menawarkan acara mengunjungi tempat-tempat wisata alternatif, namun juga mengajak masyarakat untuk melakukan sesuatu yang bersifat kreatif, edukatif, menyenangkan, dan dapat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar," tukasnya.
Gerakan ini mengajak para orangtua untuk menikmati lingkungan sekitar yang lebih edukatif dan menyenangkan, antara lain mengunjungi berbagai lokasi alam seperti kebun binatang, museum, planetarium, pantai, sampai taman-taman di seputaran Jakarta. WTM juga mengunjungi berbagai lokasi yang mungkin tak terpikirkan banyak orang untuk mengisi akhir pekannya, seperti mengenal lebih dekat Kantor Pos Cikini, sampai berkunjung ke toko roti yang legendaris di Jakarta.
Ketika berkumpul di tempat-tempat tersebut, semua peserta aktivitas WTM ini juga diberi macam-macam kegiatan yang seru, misalnya bersepeda bersama, melukis tong sampah, menulis surat untuk orang yang disayangi, sampai memainkan aneka permainan tradisional seperti gobak sodor dan ular tangga. "Semua orang bisa ikut dan bergabung dalam acara ini, dan bertemu dengan teman-teman baru sambil merasakan pengalaman akhir pekan yang menyenangkan," bebernya.
WTM bukanlah sebuah komunitas yang memiliki anggota yang tetap, karena lebih merupakan sebuah gerakan pecinta aktivitas akhir pekan. "Sebuah ajakan tak akan terjadi ketika tidak ada yang mulai bergerak. Maka kami memposisikan diri sebagai motor penggerak agar semua orang bisa terlibat," tukas Nofal.
WTM dibentuk dengan tujuan antara lain menawarkan alternatif wisata dan aktivitas kreatif untuk menikmati akhir pekan yang berkualitas bersama keluarga maupun sahabat; mengajak masyarakat untuk memiliki akhir pekan yang kreatif, edukatif dan menyenangkan, dan mengajak masyarakat untuk lebih memerhatikan lingkungan sekitar.
Dalam melakukan berbagai kegiatannya, WTM juga sering menggandeng berbagai komunitas lain, misalnya komunitas pecinta kertas, untuk bergabung dalam kegiatan mereka sekaligus memberikan alternatif kegiatan baru bagi peserta.
Sejak dibentuk tahun 2009, Nofal mengakui respons masyarakat terhadap kegiatan WTM ini sangat baik. Banyak keluarga -dari anak-anak, remaja, sampai manula- yang sering bergabung dalam kegiatan yang diadakan. Anda bisa mengecek jadwal kegiatan WTM melalui situs www.wikentanpakemall.com.
"Kegiatan ini tidak bertujuan untuk memusuhi mal, hanya saja membantu masyarakat untuk lebih kreatif dan tidak menyerah pada satu ide dengan menghabiskan akhir pekan di mal. Masih banyak lokasi di Jakarta yang bisa dieksplor lebihjauh, dan masih banyak kegiatan yang menyenangkan dan edukatif untuk dilakukan bersama keluarga," pungkasnya.