Kamis, 23 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Gemala Hanafiah:
Selancar Belum Jadi Pilihan Perempuan
Penulis : Wardah Fazriyati | Rabu, 13 Juni 2012 | 11:15 WIB
|
Share:

KOMPAS.com - Ombak di Indonesia menyenangkan dan tak terlalu ekstrem. Itulah sebab, 30 persen turis asing yang menelusuri Indonesia, adalah peselancar yang mencari ombak untuk membantunya mengasah keahlian berselancar. Meski begitu, berselancar belum menjadi aktivitas favorit bagi masyarakat Indonesia, apalagi bagi perempuan.

Berselancar identik dengan aktivitas atau hobi bagi laki-laki. Jumlah peselancar laki-laki di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan peselancar perempuan. Hal ini bisa diketahui dari jumlah peserta kompetisi tahunan 6 star dual sanctioned Quiksilver Open West Java 2012 berlangsung 14-17 Juni 2012 di Cimaja, Pelabuhanratu, Jawa Barat. Kompetisi selancar bekerjasama dengan pemerintah Jawa Barat ini memasuki tahun ketiga. Pesertanya berasal dari Indonesia, Jepang, Malaysia, Singapura dan Thailand. Kompetisi ini terdiri dari divisi Pro, Masters, Women's dan Longboard,  memperebutkan total hadiah sebesar Rp
65.600.000.000 (hampir sebesar USD 7.500), selain mendapatkan poin juara baik dari Coca-Cola Indonesian Surfing Championship dan Asian Surfing Championship Tours.

Peselancar perempuan Indonesia, Gemala Hanafiah, turut berpartisipasi pada kompetisi ini bersama sembilan peselancar perempuan lainnya. Gemala mewakili peselancar perempuan di Jakarta yang siap berkompetisi bersama peselancar asal Bali, Padang, Pacitan juga peselancar dari Thailand yang menjadi pesaing terberat dan sejumlah negara peserta lainnya.

"Peselancar perempuan Indonesia masih sedikit jumlahnya, dibanding Malaysia misalnya. Padahal ombak di Malaysia hanya ada enam bulan sekali, sementara di Indonesia setiap bulan selalu ada ombak, tidak pernah flat," jelasnya kepada Kompas Female di sela peluncuran Quiksilver Open West Java 2012 di Rolling Stone Cafe, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Peselancar perempuan usia 13-30 berkompetisi di divisi Women's, lebih sedikit dari jumlah peselancar laki-laki dari Indonesia, sekitar 50 yang unjuk gigi di kompetisi tingkat Asia ini.

Bagi Gemala, selancar bukan semata passion pribadi. Perempuan yang menggemari ombak di Mentawai, Nias, Ujung Kulon ini mengaku ingin mendekatkan selancar dengan masyarakat Indonesia.

"Indonesia punya banyak potensi selancar, tapi banyak yang belum terjun ke dalamnya," tuturnya.

Dunia selancar bagi atlet Roxy ini juga terbuka untuk perempuan Indonesia. Apalagi dengan semakin bermunculannya surfer muda yang punya kesempatan luas mengembangkan diri dan keahliannya. "Peselancar Bali tak bisa disepelekan, namun Malaysia juga punya banyak peselancar perempuan meski tak punya ombak," jelasnya.

Gemala mengatakan, selancar adalah juga dunia perempuan. Banyak hal menyenangkan yang dilakukan perempuan peselancar di luar kompetisi. "Di luar kontes, peselancar perempuan sering berkumpul menikmati perjalanan bersama, berselancar untuk senang-senang," jelasnya.

Menurut Gemala, peselancar belum menjadi pilihan profesi atau bahkan sekadar hobi, karena perempuan khawatir kulitnya menghitam. Rupanya, warna kulit putih yang identik dengan kecantikan, menjadi penghambat perempuan mengembangkan potensinya di bidang ini.

Kulit menghitam dan terbakar menjadi risiko yang paling ditakuti perempuan ketika berselancar, tapi selama apik merawat diri dan penampilan, selancar tak mengurangi kecantikan perempuan.

"Berselancar juga perlu diimbangi dengan perawatan penampilan, penggunaan tabir surya yang tepat, untuk badan dan wajah. Di usia 25 saya memang cuek dengan penampilan, namun mulai usia 28 saya lebih rajin merawat penampilan," tutur perempuan kelahiran Balikpapan, 7 Maret 1980 yang juga berprofesi sebagai presenter acara perjalanan di televisi swasta dan desain grafis freelance ini.

Editor :
wawa