Kamis, 2 Oktober 2014
Peluang Menjanjikan Bisnis "Sculpted Cake"
Jumat, 22 Juni 2012 | 17:34 WIB
|
Share:
STUDIO CAKE

Karena kerumitan dalam pembuatannya, sah-sah saja jika pembuat sculpted cake mematok harga tinggi.

KOMPAS.com - Tiga tahun ke depan bisnis sculpted cake  atau kue 3 dimensi diperkirakan masih menjanjikan. Agar tetap bertahan, lakukan inovasi dan terus belajar. Yang paling penting, percaya diri dan jangan terlalu rendah menghargai karya sendiri!

Seperti apa perkembangan bisnis sulpted cake di Indonesia saat ini, Dewi Anwar (46) dari Kitchen Craft Cake memberi gambaran. Sclupted cake (SC), carving cake, dan cake 3D  (3 dimensi) sebenarnya sama saja pengertiannya. Pemakaian istilah carving atau sculpted  pun tak lantas diartikan secara harafiah yaitu dipahat.

“Istilah yang dipakai boleh apa saja, tapi maksudnya sama. Artinya kue yang dibentuk secara 3 dimensi hingga menyerupai benda aslinya yang diinginkan, seperti mobil atau karakter kartun,” tutur Dewi yang juga pengajar di komunitas Natural Cooking Club.

Sebenarnya kue-kue 3D ini sudah diminati sejak tahun 2005-2006. Ketika itu belum banyak yang melihat kue sebagai karya seni. Padahal, pembuatan SC memang tak ubahnya menciptakan karya seni. “Kebanyakan membandingkan SC dengan cheese cake atau black forest yang lebih murah harganya. Sementara home baker belum punya nama, dan konsumen tidak mengerti proses pembuatan SC. Mereka hanya menghargai kuenya saja, bukan kreasinya.”

Seiring waktu dan peminat yang makin meningkat, nilai bisnis SC pun turut naik. Bahkan tergantung tingkat kerumitan SC, sebuah kue 3D bisa dihargai jutaan rupiah!

Harga jual kreasi

Alat dan bahan pembuatan SC sebenarnya tak terlalu macam-macam, hampir sama dengan alat dan bahan untuk membuat kue biasa. Mikser, oven, loyang, spatula, dan baskom. Jika pesanan sudah mulai banyak, baru boleh perbaharui alat dengan yang lebih canggih. “Kalau mikser kecil sudah tak mencukupi, bisa ganti yang besar dan otomatis. Begitu pula dengan oven yang lebih besar agar lebih banyak adonan yang bisa tertampung,” kata Dewi.

Investasi terpenting dalam usaha SC adalah alat dekor kue yang harganya tidak murah. “Di Indonesia belum ada produsennya, jadi masih harus impor dari Amerika atau Inggris. Kalaupun ada agen yang menjual di sini, harganya lebih mahal lagi.”

Selain itu, investasi lain yang tak kalah penting adalah buku sebagai sumber referensi, kendati Dewi tak menyarankan menggunakan gambar dari buku sebagai contoh kue jualan. “Lebih baik gunakan kue hasil buatan sendiri. Karena jika memberi contoh dari gambar di buku, lalu saat dibuat sendiri hasilnya berbeda, bisa bahaya buat diri sendiri,” terangnya.

Selanjutnya, perlakukan SC tak ubahnya sebuah karya seni. Artinya, ketika membuat SC usahakan bentuk kue semirip mungkin bentuk aslinya. Pasalnya, kini banyak yang menjual SC asal-asalan. “Banyak yang bikin SC, tapi tak semua bisa mirip benda aslinya. Banyak yang asal bikin saja.”

Di sisi lain, Dewi mengaku, rela bersusah-payah demi menghasilkan kreasi yang semirip mungkin dengan asliya. “Saat hendak membuat bentuk Jeep misalnya, karena tak punya Jeep saya bela-belain mencari Jeep asli agar bisa memperhatikan detail sekecil apapun. Nah, perjuangan ini yang harus dihargai,” terangnya.

Pandangan konsumen yang menganggap tukang kue hanya mengocok dan mencampur bahan menjadi kue juga harus diungkap. “Tidak semudah itu. Justru seperti arsitek, pakai hitungan segala. Misalnya saat membuat model panda, bagaimana agar kepala dan badannya seimbang. Jika salah perhitungan bisa amblas,” tukas Dewi.

Karena kerumitan inilah, sebut Dewi, sah-sah saja jika pembuat SC mematok harga tinggi. Padahal, modal untuk bahan-bahan dasar kue paling hanya mencapai Rp 150 ribu. “Biaya kreasi bisa ditambahkan hingga 100 persen. Malah, jika memang sangat rumit boleh saja tambahkan 150 persen dari modal. Ditambah margin profit sebanyak 40 persen, harga SC bisa mencapai sekitar Rp 500 ribuan. Itu untuk model sederhana. Semakin sulit bentuknya, semakin mahal,” papar Dewi yang pernah menjual kue berbentuk kecoa seharga Rp 1 juta. “Saya ambil kecoa betulan lalu dimasukkan ke plastik. Saya pelajari bentuk kecoa itu dari berbagai sisi.”

Jurus jitu pemesanan
Setelah total dalam menciptakan kreasi SC, strategi promosi menjadi langkah selanjutnya. Lewat teknologi internet, seperti Facebook, Twitter, dan website , tentu kegiatan berpromosi jadi makin terbantu. Meski begitu, jangan lupakan pula cara-cara lain yang bisa ditempuh agar produk makin dikenal.

“Misalnya, begitu ada waktu luang, berikan kue gratis ke teman sebagai hadiah ulangtahun. Di kemasannya pasang stiker yang mencantumkan nomor telepon. Harapannya, teman-teman kantor lain memesan,” saran Dewi yang berpromosi lewat memberikan demo. “Tak masalah dibayar sedikit atau memberi bahan gratis. Yang penting, orang jadi tahu saya bisa bikin SC.”

Mantra lain, lanjut Dewi, adalah selalu jujur pada konsumen. Jika kegagalan terjadi, jangan pelit untuk memotong harga kue atau memberi diskon.

Nah, jika bisnis sudah berkembang, perlukah menyewa seorang asisten? “Sayang, mencari asisten untuk SC masih sulit. Kebanyakan hanya bisa membuat adonan dasar kue atau menggiling fondant. Kalau untuk membentuk dan membuat detail, tetap saya pegang sendiri,” ujar Dewi. Saat membuat SC, biasanya Dewi menyiapkan detailnya terlebih dahulu. “Misalnya mau membuat mobil, siapkan dulu jendela atau lampunya. Saat badannya sudah jadi, tinggal tempel.”

Sebagai seseorang yang sudah hafal seluk beluk SC, Dewi juga memperingatkan akan kelemahan kue ini. Salah satunya, jangan dimasukkan lemari pendingin. “Udara kulkas, kan, dingin. Begitu dikeluarkan ada embun yang menetes hingga kuenya basah. Makanya harus disimpan di suhu normal. Celakanya, apabila udara lembab harus berburu waktu dengan udara.”

Kue yang menggunakan krim susu hanya tahan maksimal 3 hari, maka perhitungkan benar-benar waktu layak makan kue. “Kadang konsumen tidak langsung memakan kue, gara-gara sayang memotong kue yang bentuknya bagus.”

Jika yang dipakai adalah fondant, bentuknya memang akan lebih bagus. “Ada juga SC berbahan butter cream. Memang lebih gampang dimakan, tapi bentuknya kurang bagus. Biasanya terdapat lubang-lubang di atas kuenya.”

Bisnis menjanjikan
Yang juga perlu diperhatikan dalam berbisnis kue ini adalah faktor pengiriman. Pilih kurir yang bisa dipercaya, selain membekali mereka dengan kemasan sebaik mungkin. Jika toh kue sampai rusak, jangan lantas menyalahkan kurir. “Tawarkan alternatif pada konsumen, mau diperbaiki tapi makan waktu, atau berikan diskon.”

Meski memiliki kekurangan dan kerumitan, Dewi melihat bisnis SC masih potensial. “Saat ini, kan, banyak ibu-ibu bekerja yang tidak sempat membuat kue ulangtahun. Sampai tiga tahun ke depan bisnis SC masih ramai. Yang jelas, harus inovasi dan punya teknik baru. Misalnya dulu tidak bisa bikin kue bentuk tangan melambai, sekarang harus bisa.”

Tak lupa, lebarkan referensi model dan bahan-bahan dari website  luar negeri. “Biasanya bahan-bahan di sana lebih lengkap. Kalau tidak ada di sini, titip ke orang atau beli sendiri ke luar negeri.”

Menyangkut bahan, kalaupun membuat sendiri, Dewi berpesan untuk selalu menggunakan bahan yang aman dan tidak membahayakan. “Ada, kan, yang bikin kue bentuk robot ternyata di dalamnya ada pralon yang ditempeli kue. Memang robotnya bisa berdiri dengan bagus tapi, kan, kuenya jadi berbahaya jika dimakan. Kalau harus menggunakan bahan kayu, pakailah sumpit, spaghetti, atau tusuk gigi.”

(Tabloid Nova/Noverita K Waldan)


Editor :
Dini
BERITA LAIN: