
KOMPAS.com - ”Bahagiakah aku?” Pertanyaan itu muncul dari kaum urban yang hidupnya mapan. Pada satu titik, mereka merasa tak lebih dari robot, mesin pekerja belaka. Mereka keluar dari zona nyaman, mencari jalan hidup baru agar hidup lebih bermakna.
Akhir pekan lalu, di ruang bersuhu 42 derajat Celsius, Mony Suriany (36) mengajar yoga bikram kepada puluhan muridnya di Studio Bikram Hot Yoga, Kemang, Jakarta. Menjadi instruktur yoga sudah dijalani Mony selama tujuh tahun. Sebelumnya, ibu dua anak ini bekerja sebagai analis keuangan di sebuah perusahaan multinasional di Amerika Serikat.
Novianti Kusumawardhani (45) juga dengan berani mengubah jalan hidupnya. Ketika hidup mapan sebagai direktur kreatif di sebuah perusahaan periklanan multinasional, Novi justru memutuskan untuk meninggalkan habitatnya dan memilih ”menyepi” di Bali.
Bagi Mony dan Novi, zona nyaman yang memberi kecukupan materi, pada faktanya, tak membuat hidup tenang. Pada satu titik, mereka memilih meninggalkan dunia yang justru pernah dikejar sebelumnya.
Dua belas tahun lalu, misalnya, Mony memulai perjalanan hidupnya di Amerika Serikat dalam lingkungan yang sangat kompetitif. Hasrat dan jiwa kompetitifnya yang tinggi membuat peraih gelar MBA di Indiana University ini begitu bersemangat ketika sebuah perusahaan multinasional terkenal memilihnya untuk bergabung. Bersama 19 orang lainnya dari sejumlah negara, Mony memiliki kesempatan untuk menduduki jabatan di tingkat eksekutif.
Langkah pertama di perusahaan tersebut dimulai sebagai junior finance analyst di Chicago. Penghasilannya 40.000 dollar AS per tahun, lebih tinggi di antara fresh graduate yang pada umumnya mendapat penghasilan 28.000-30.000 dollar AS per tahun di awal karier.
Namun, dua tahun berjalan, Mony mulai merasa ada yang ”hilang” dalam dirinya. Dia terjebak dalam rutinitas pekerjaan, harus memenuhi target yang selalu mengejarnya, hingga akhirnya dihadapkan pada persoalan pribadi.
Dalam hidupnya yang suram, yoga bikram yang dilakukan pada ruang bersuhu 42 derajat Celsius mengembalikan hidup. Melalui yoga yang dipelajarinya sejak berstatus karyawan magang, tubuh Mony tak hanya rileks secara fisik, tetapi juga mental.
Mony pun memutuskan berhenti bekerja, salah satunya karena yoga. Keseriusannya pada bidang ini dilakukan dengan mengikuti kursus sebagai instruktur di Los Angeles, hingga akhirnya mengajar di beberapa studio. Mony juga sempat mengajar di Sydney, Australia, dan Singapura sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dan mendirikan studio bikram yoga pada 2005.
Pengalaman mengajar di negara-negara yang pernah disinggahi membuatnya kian sadar bahwa yoga adalah jalan hidup berikutnya. ”Yoga telah memberi saya peluang untuk hidup yang baru. Dengan yoga, saya juga bisa membantu orang lain menyembuhkan penyakit dan lepas dari stres. Saya merasa hidup saya berguna,” kata Mony.
Bahagiakah aku?
Keraguan akan tujuan hidup juga dirasakan Novi yang sering kali bertanya kepada diri sendiri, ”Bahagiakah aku?” Untuk menjawabnya, Novi mereka-reka momen penting dalam hidupnya yang menurut dia paling membahagiakan. Jawabannya adalah ketika ia duduk di bangku SMA di Yogyakarta. ”Ketika itu aku masih menari, menulis, dan naik gunung. Masa-masa ketika aku menjalani apa yang aku sukai,” kata Novi.
Setelah datang ke Jakarta, menikah, dan meniti karier, Novi menyadari hidupnya 99 persen diberikan bagi orang lain. Baik itu sebagai istri, ibu, karyawan, ataupun sahabat. Ia hampir tak punya waktu bagi diri sendiri. ”Aku merasa seperti robot. Hampa,” kata Novi. Padahal, secara finansial, hidupnya bisa dikatakan sangat aman. Gajinya saat itu sudah lebih dari Rp 20 juta per bulan.
Suatu hari di bulan Agustus 2007, Novi mengatakan kepada dirinya, ”Cukup. Aku harus pergi.” Novi mengundurkan diri dan memutuskan pindah ke Bali. Ia merasa ada ”panggilan” kuat untuk pindah ke sana.
Setelah sempat bekerja dengan pola ”nine to five”, Novi banting setir karena tak ingin terjebak dalam pola kehidupan lama. Dia memperdalam apa yang menjadi minat dan talentanya selama ini, yaitu mempelajari kartu tarot dan ”membaca” energi seseorang.
Novi juga bisa menikmati kembali hobi lama, yaitu menari dan menulis. Honor dari menulis cerpen, membaca energi, dan mengajar bahasa Indonesia di Bali jauh di bawah gajinya dulu. Namun, dengan uang ”secukupnya” itu, Novi justru bisa merasakan ”kemewahan” dalam hidup. Kebahagiaan itu datang dari hal-hal kecil. ”Aku bisa merangkai bunga, bisa belajar yoga, dan nyanyi bareng teman,” katanya.
Membangun mimpi
Sejatinya, seperti dikatakan Guru Besar Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Koentjoro, setiap manusia memiliki keinginan terpendam untuk berubah. Namun, tak semuanya memiliki keberanian dan kesempatan untuk mewujudkannya.
Theresia Huwae (70), misalnya, harus menunggu hingga 20-an tahun untuk mewujudkan keinginannya yang sederhana, yaitu kuliah. Tak bisa kuliah begitu selesai SMA, karena sang ibu kesulitan membiayai sekolah anak-anaknya, Theresia memupuk impiannya itu hingga berusia 40 tahun.
Adalah sang suami yang mendorongnya kuliah ketika pindah dari Ambon ke Jakarta. Awalnya, Theresia kuliah D-1 Sastra Inggris. Semangatnya tak berhenti di sini. Dia mendaftar ujian untuk kuliah S-1.
”Ketika mendaftar, petugas sempat mengira saya mendaftarkan untuk anak saya. Waktu ujian juga ditanya, apa masih bisa matematika,” ujarnya sambil tertawa.
Theresia memilih program S-1 Jurusan Psikologi di Universitas Indonesia hingga berlanjut ke jenjang S-2. ”Kalau mahasiswa lain bisa belajar satu jam selesai. Saya butuh waktu lebih lama. Kalau soal prestasi, ya, enggak beda,” ujar Theresia, bercerita tantangan semasa kuliah.
Theresia juga harus mengurus mertuanya yang lumpuh dan dua anak angkat. Kegiatannya di kampus dimulai setelah dia menyelesaikan pekerjaannya di rumah.
Begitu lulus, perempuan yang akrab dipanggil Mbak Threes oleh teman-teman kuliahnya ini menjadi dosen psikologi di tiga akademi keperawatan dan dua universitas. ”Kepuasannya adalah kita bisa melakukan sesuatu untuk orang lain, apalagi kalau mahasiswa mengerti. Senangnya beda, tidak bisa dinilai dengan uang. Waktu kita bersyukur ada sukacita dalam diri,” ujarnya.
Menurut Koentjoro, ada tiga alasan mengapa manusia ingin berubah. ”Pertama, karena perubahan merupakan bagian dari aktualisasi diri. Yang kedua adalah perubahan yang terencana, artinya capaian pekerjaan pertama digunakan sebagai batu loncatan untuk meraih pekerjaan kedua,” kata Koentjoro.
Selain itu, ada pula perubahan tidak terencana, seperti berpindah pekerjaan yang utamanya disebabkan adanya pertentangan dengan hati kecil.
Koentjoro juga mengatakan, perubahan memerlukan penyesuaian diri yang sangat mendalam, bahkan terkadang menyakitkan. Ini terjadi karena orang cenderung tak ingin berubah ketika berada dalam posisi zona nyaman.
”Orang seperti ini tidak pernah memiliki mimpi seperti halnya orang yang mau berubah,” kata Koentjoro. (MYR/ROW)