
KOMPAS.com - Kebanyakan orang Indonesia percaya dan terjebak dengan berbagai mitos kesehatan. Kesalahan persepsi mengenai berbagai penyakit, terutama pada anak-anak diwariskan turun temurun. Alhasil, banyak orangtua yang semakin terjebak dengan berbagai informasi kesehatan yang kini semakin mudah didapatkan melalui berbagai media, termasuk melalui forum di internet yang tak teruji secara ilmiah kebenarannya.
Misalnya, menurut penelitian yang dilakukan London School of Hygiene and Tropical Medicine bekerja sama dengan Lifebuoy menunjukkan bahwa 100 persen ibu percaya bahwa infeksi penyakit bertambah parah pada musim hujan. Mitos lain yang juga terlanjur ibu percaya yakni membiarkan anak bermain saat hujan rintik-rintik akan mendatangkan penyakit dibandingkan bermain di bawah siraman hujan deras.
Edukasi dan informasi berbasis penelitian, serta berasal dari sumber terpercaya sesuai bidang dan keahliannya menjadi kebutuhan, terutama bagi kaum ibu. Berdasarkan kebutuhan inilah, PT Unilever Indonesia Tbk melalui merek sabun Lifebouy merilis microsite Lifebuoy Berita Sehat untuk mengedukasi keluarga, sekaligus memberikan solusi kesehatan bersama para pakar.
"Untuk membedakan mitos atau fakta kesehatan, kembali kepada bukti ilmiah seperti jurnal. Selain juga harus ada indeks, dan perbandingan per kasus juga dengan melihat daerah atau bahkan negara mana. Kondisi iklim juga memengaruhi," jelas Dr dr Rachmat Sentika, SpA, MARS saat bincang-bincang di sela peluncuran Lifebuoy Berita Sehat, di fx Sudirman Jakarta, Senin (2/7/2012).
Dr Rachmat menjelaskan, mengenai hujan rintik atau hujan deras atau minum air es yang kerap dianggap mendatangkan penyakit pada anak seperti batuk pilek, ini tidak ada kaitannya. Faktanya, batuk pilek disebabkan virus bukan disebabkan hujan rintik atau deras atau minuman dingin. Namun kondisi dingin akan membuat aliran darah keruh sehingga mempercepat terjadinya batuk pilek. Kondisi atau lingkungan dingin juga tidak membuat anak menjadi sakit kalau daya tahan tubuh anak kuat dan lingkungannya sehat, perilaku juga baik seperti menjalankan kebiasaan yang paling sederhana seperti cuci tangan.
Selain Dr Rachmat yang akan memberikan tips kesehatan keluarga, dan memberikan informasi juga fakta kesehatan, serta konsultasi, sejumlah pakar lain juga dilibatkan. Dr Rachmat adalah Ketua Bidang Kesehatan Ibu dan Anak PB IDI dan Staf Ahli Menko Kesra. Para ahli lain yang juga terlibat dalam situs penyedia fakta kesehatan ini di antaranya dokter spesialis anak di RS Ibu dan Anak Hermina, dr Herbowo Soetomenggolo, SpA; dokter spesialis penyakit dalam di RS Premiere Bintaro; serta dokter ahli mikrobiologi FKUI dr R Fera Ibrahim, Msc, PhD, SpMK.
Dalam kesempatan yang sama, dr Herbowo mengatakan tugas orangtua adalah mencari tahu penyebab penyakit yang kerap menjangkiti anak-anak dan cara mencegahnya. Dengan memiliki pengetahuan yang tepat, orangtua takkan lagi terjebak dalam berbagai mitos atau bahkan meneruskan persepsi keliru yang terpelihara selama ini.
"Kalau anak sering sakit, perhatikan juga kebersihan lingkungan. Karena penyakit juga bisa muncul karena infeksi sekunder. Dari lingkungan yang kurang sehat. Apakah banyak debu, ada yang merokok dan sebagainya. Sebanyak 90 persen pencetus alergi adalah asap, debu, dan bulu," jelasnya.
Dengan mencari informasi kesehatan berdasarkan fakta dan berbasis penelitian, melalui para pakarnya, keluarga Indonesia diharapkan mampu memutus rantai persepsi yang keliru seputar kesehatan keluarga. Tujuan akhirnya, infeksi penyakit pun dapat diminimalisasi atau ketika anggota keluarga terjangkit penyakit, penanganannya lebih tepat dan cermat, bukan berlandaskan mitos semata meski itu berasal dari teman atau anggota keluarga lainnya.