Rabu, 22 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Penuhi Asupan Lemak Esensial untuk Anak!
Penulis : Felicitas Harmandini | Kamis, 5 Juli 2012 | 23:01 WIB
|
Share:
Buat variasi penyajian untuk hidangan yang memenuhi komposisi gizi seimbang. Misalnya, sandwich tuna dengan menggunakan tortila dan sayuran.

KOMPAS.com - Banyaknya pilihan makanan yang tersedia di sekitar kita ternyata tidak menjamin kecukupan komposisi gizi, khususnya bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan, status gizi dan konsumsi gizi anak Indonesia masih bermasalah. Satu dari tiga anak masih mengalami status gizi pendek, sedangkan 9,2 persen anak mengalami kegemukan.

Menurut rekomendasi internasional, anak perlu asupan lemak sebanyak 15-30 persen dari asupan kalori hariannya. Lemak berperan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan dan aktivitas anak, dan selain itu membantu penyerapan vitamin larut lemak (A, D, E, K). Lemak juga menjadi sumber lemak esensial omega 3 (1-2 persen) dan omega 6 (5-8 persen), yang berperan penting bagi pertumbuhan sel-sel dan organ penting seperti retina dan sistem saraf.

Sayangnya, konsumsi asam lemak esensial omega 3 dan omega 6 pada anak-anak usia 4-12 tahun di kawasan perkotaan di 11 provinsi di Indonesia ternyata masih sangat kurang. Konsumsi lemak esensial omega 6 pada anak baru terpenuhi sekitar 60 persen dari angka kecukupan gizi, yaitu 0,67 gr per hari. Sedangkan untuk omega 3 baru 0,02 gr per hari.

"Karena asam lemak esensial ini tidak bisa diolah sendiri oleh tubuh, maka kita harus memperolehnya dari makanan," tutur Dr dr Ratna Juwita, MPH, pengajar dan ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, saat bincang-bincang "Sudah Cukupkah Asupan Lemak Esensial Omega 3 dan Omega 6 pada Anak Anda?" di Hotel Milenium Sirih, Jakarta, Kamis (5/7/2012).

Sebagai orangtua, kita wajib menambahkan sumber lemak esensial omega 3 dan omega 6 dalam makanan harian anak-anak. Makanan utama yang mengandung lemak esensial ini adalah ikan yang berasal dari laut dalam, seperti salmon, tuna, tenggiri, dan tongkol.

"Memang ikan jenis ini harganya terlalu mahal untuk dikonsumsi sehari-hari. Jadi, apa ada yang bisa diganti dengan jenis makanan lain? Ada, misalnya ikan kembung, atau ikan asin. Tapi, kadar lemak esensialnya memang tidak setinggi salmon," tambah Ratna.

Indonesia kaya akan hasil lautnya, dan kita sebaiknya lebih banyak menggali jenis ikan apa saja yang bisa menggantikan salmon atau tuna. Menurut Ratna, ikan lemuru, misalnya, ternyata juga kaya akan lemak esensial. Ikan jenis ini memang kurang populer di masyarakat, dan anak-anak pun cenderung kurang menyukai hidangan ikan. Kalau sudah begini, kita perlu mengubah pola kebiasaan makan, dan memperkenalkan lebih banyak variasi makanan pada anak.

Untuk anak yang kurang menyukai ikan, masih ada jenis makanan lain yang bisa menjadi pengganti. Misalnya, telur, ayam, kacang-kacangan (seperti almond, kedelai), biji-bijian, minyak nabati, atau margarin yang diperkaya dengan lemak esensial omega 3 dan omega 6.

Ratna juga menegaskan, sebaiknya lemak esensial ini didapatkan dari makanan. Ia tidak menganjurkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dari suplemen. "Kalau hanya concern pada cukup atau tidaknya, lalu mengonsumsi suplemen saja, itu tidak mendidik. Suplemen sifatnya hanya mendukung, jadi tetap harus mengonsumsi makanan yang mengandung lemak esensial tersebut," tukasnya.

 

Editor :
Dini