Minggu, 26 Oktober 2014
Margareta Astaman: Ngotot Demi Menulis
Senin, 10 September 2012 | 10:42 WIB
|
Share:
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Margareta Astaman menegaskan, menjadi keturunan China tidak mengurangi keindonesiaannya.

KOMPAS.com - Margie pernah takut bermimpi, meski ia bukan tak berprestasi. Tekad mengantarnya ke posisi strategis di perusahaan multinasional pada usia 22 tahun. Penuh energi, ia menggeluti bisnis media, internet, dan dunia penulisan. Baginya, hidup mesti asyik dan bermakna.

Margareta Astaman—biasa dipanggil Margie—merampungkan kesarjanaan komunikasi dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura, dengan peringkat nilai tinggi pada usia 22 tahun. Karena materi studi dan tugas akhir kelar setahun lebih cepat dari ”jatah” waktu kelulusan, setahun terakhir kuliahnya pun ia isi dengan aneka proyek kerja.

Sebelum tamat kuliah, ia sudah menjajal karier di Ernst & Young, Singapura. Begitu tamat kuliah, ia pilih menjadi editor gaya hidup di portal MSN Singapura sekaligus mengelola perwakilan MSN di Indonesia. Tiga tahun kemudian, ia beralih jadi Asisten Wakil Presiden Multiply, perusahaan multinasional lainnya yang juga bergerak di internet.

Dinamika dunia media dan internet membuat Margie kemudian memilih membangun dari awal PT Indoportal Nusantara yang mengelola iyaa.com—portal agregasi dan aliansi konten 57 media nasional dan 127 blog terpilih. Perencanaan dan eksekusi pengembangan bisnis jasa hingga pengelolaan komunitas pendukung jadi tanggung jawab Margie.

”Di sini aku bisa mulai membangun dari nol. Itu memuaskan kreativitasku banget. Perkembangan dunia online sangat menarik. Enggak ada hal sekecil apa pun yang kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh enggak jadi sesuatu di sini,” ujarnya.

Keasyikan yang terlihat sepele, seperti berkutat dengan jejaring sosial Facebook dan Twitter misalnya, dicontohkan Margie, bisa membuat seseorang sukses sebagai manajer media sosial karena perkembangan teknologi saat ini memang sedang mengarah ke sana.

Di antara kesibukan karier, perempuan belia ini masih sempat menulis dan menerbitkan lima buku. Gaya tulisannya ringan dan renyah, tetapi cerdas dan analitik. Menulis adalah cita-cita Margie. Untuk mewujudkan cita-cita itu, ia harus menepis banyak penolakan dan stempel ”Kamu tidak bisa menulis!”

”Ngotot” demi menulis
Sejak duduk di bangku SMA, Margie sudah memutuskan bermasa depan sebagai penulis. Padahal, ia jago matematika dan peserta Olimpiade Biologi. Tantangan pertama untuk mewujudkan cita-citanya jadi penulis adalah lulus tes untuk beasiswa kuliah di NTU pada jurusan teknik, bukan komunikasi, jurusan idamannya.

Toh, ia tak menyerah. Dia ngotot untuk dipindahkan dari fakultas yang sebenarnya bergengsi itu ke fakultas komunikasi. Akhirnya Margie lolos dengan catatan: bahasa Inggris-nya di bawah standar yang disyaratkan fakultas itu. Konsekuensinya, ia harus dipantau ketat.

Sepanjang tahun pertama kuliah, ia dibuntuti sorot mata para pengajar yang meragukan kemampuannya. Pada tahun kedua, ia sudah termasuk lima persen mahasiswa berperingkat nilai tertinggi di fakultas. Jatah kuliah empat tahun dengan beasiswa pun ia selesaikan dalam tiga tahun.

Sisa waktu setahun di lingkungan Kampus NTU ia manfaatkan untuk mendalami fotografi dan bahasa Perancis sambil bekerja di Ernst & Young. Tak ketinggalan, ia juga sibuk dengan banyak proyek lain. Dengan kamera pinjaman dari kampus, Margie bekerja sebagai fotografer lepas dan jalan gratis ke beberapa negara. Ia juga jadi kontributor kantor berita Reuters.

Meski begitu, tamat kuliah, Margie segera berhadapan dengan tantangan berikutnya: setumpuk surat penolakan yang intinya mengatakan, ia tak bisa menulis dan tak perlu berkarier di bidang penulisan.

”Aku mungkin bisa saja banting setir jadi pegawai dengan modal nilai kelulusan dari NTU. Tapi nyatanya aku ngotot lagi, menulis adalah satu-satunya yang aku suka. Aku asah kemampuan menulisku lagi lewat blog dan tetap pede waktu ditanya apa aku bisa jadi editor.”

Tak tanggung-tanggung, peluang terbuka bagi Margie untuk posisi editor dan manajerial di MSN.

Pengalaman menginspirasi Margie menulis salah satu bukunya, Fresh Graduate Boss. Buku itu bukan biografi dirinya. Ia merasa perjalanannya menuju pensiun dini—berjaya sebelum tua—masih jauh. Meski begitu, dengan lantang, ia sudah bisa menyerukan gagasan lewat buku itu, tak perlu jadi tua dulu untuk jadi bos.

”Plus jangan cari kerjaan yang enggak sesuai sama jiwa kita.” Kesusahan hati itu menguras energi, sebaliknya kecintaan pada apa yang kita lakoni melimpahkan energi untuk melakoninya.

China etnik gue, Indonesia negara gue
Sebelum tragedi kerusuhan 1998, Margie bilang, ia tak sadar betul bahwa dirinya terlahir sebagai warga keturunan China di negeri ini. Ia merasa tak dibesarkan dalam kultur etnik China yang kental.

”Aku enggak kenal barongsai, enggak ada yang bisa ngomong bahasa China di keluarga, orangtuaku juga bukan pedagang. Enggak ke klenteng juga karena kami Katolik. Satu-satunya tradisi China yang aku tahu, tiap tahun ada angpau dengan amplop merah,” ujar bungsu dari tiga bersaudara ini.

Ketika kerusuhan itu terjadi, Margie yang saat itu baru berusia 13 tahun seolah tersentak. Sempat terlintas di benaknya, ”Oh, aku ini China ya, jadi aku harus takut ya”.

Margie mewarisi darah China-Jawa dari sang ayah dan China-Betawi dari ibunya. Antusiasme mengeksplorasi gagasan, pengalaman, dan pengamatannya atas kehidupan multikulturalisme di Indonesia itu ia tuangkan dalam buku Excuse-moi (2011). Kini, Margie bisa menegaskan, menjadi keturunan China tidak mengurangi keindonesiaannya. ”China itu etnisitas gue, Indonesia itu negara gue.”

Terjepit lemari
Berbincang dengan Margie tak ubahnya seperti ngobrol dengan kawan lama yang seru. Dari soal ras dan tantangan karier, boleh saja lompat ke soal penampilannya yang feminin, bergaun tanpa lengan dengan sepatu berhak tinggi dan tas cantik.

Ia menyebut dirinya pencinta gosip, pemburu tempat nongkrong, plus shopaholic in-denial. Meski tak ingin mengaku pembelanja, Margie rajin menyisihkan uang untuk belanja baju, sepatu, dan tas sejak ia bekerja sampingan sambil kuliah.

”Barang-barangku paling banyak dibandingkan mahasiswa lain di kampus, sampai-sampai aku pernah hampir mati kejepit lemari yang isinya tumpah di asrama.” Aduuuh!

• Lahir: Jakarta, 14 Desember 1985
• Pendidikan dan Pengalaman:
- Bachelor of Communication Studies Nanyang Technological University, Singapura, 2004-2008
- Chief Content Officer PT Indoportal Nusantara, Oktober 2011-sekarang
- Ass Vice President Content & Channel PT Multiply Indonesia, Mei-September 2011
- Portal Executive, MSN Indonesia, Mei 2010-April 2011
- Country Editor MSN Indonesia & Lifestyle Editor MSN Singapura, Juli 2008-April 2010
- Assistant Business Development Department Ernst & Young, Singapura, Januari-Juni 2007

• Buku: Fresh Graduate Boss (2012), Excuse-moi (2011), After Orchard (2010), Cruise on You (2010), Have A Sip of Margarita: Love, Life, Journey (2009)

(Nur Hidayati)


Editor :
Dini
BERITA LAIN: