Sabtu, 29 November 2014
Anak Bertubuh Pendek? Ini Sebabnya!
Selasa, 11 September 2012 | 10:48 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Malnutrisi adalah faktor utama terhambatnya pertumbuhan anak, dan dapat berlangsung dalam jangka panjang.

KOMPAS.com — Mempunyai anak, dan menjadi seorang ibu, seharusnya membuat kita bahagia. Jika kita mengalami depresi pada tahun pertama kehidupan anak, anak tidak akan tumbuh dengan sempurna dan cenderung akan bertubuh pendek, demikian menurut temuan para peneliti John Hopkins Bloomberg School of Public Health.

Temuan ini didapatkan setelah dilakukan analisis data terhadap 6.550 ibu dan bayi dalam kurun waktu empat tahun. Sembilan bulan setelah melahirkan, 17 persen ibu dilaporkan menunjukkan gejala depresi menengah hingga parah. Empat tahun kemudian, hampir 50 persennya cenderung memiliki anak yang pendek (dari tinggi rata-rata anak seusia). Pamela Surkin, ketua peneliti, meyakini hal tersebut sebagai efek samping depresi postpartum (DPP).

"Hipotesis kami mengenai kaitan utama antara gejala depresi postpartum maternal dan tinggi badan anak adalah melalui perilaku saat merawat anak, kemungkinan pada saat memberi makan, atau karena berkurangnya kemampuan para ibu untuk membantu anak yang sakit, ketika mereka sendiri sedang sakit," ujar Surkin, yang juga asisten profesor di Johns Hopkins.

Ibu akan mengalami kesulitan memberikan makan, khususnya menyusui, yang mengakibatkan anak mengidap malnutrisi. Inilah faktor utama terhambatnya pertumbuhan anak, dan berlangsung dalam jangka panjang.

Dalam banyak penelitian selama 10 tahun terakhir telah diungkapkan bahwa ibu yang mengidap DPP mengalami kesulitan bonding dengan anak-anak yang masih kecil, yang membuat mereka makin sulit menangkap gejala anak yang mengalami masalah secara fisik.

Lantas, mengapa tinggi badan menjadi begitu penting?

Menurut Surkin, tinggi badan anak menjadi indikator kesehatan yang berkaitan dengan ketidakwajaran dan kematian, serta prestasi belajar mereka kelak. Jika kedua orangtua si anak memang pendek, hal ini tentunya disebabkan faktor genetik, dan tidak menunjukkan masalah kesehatan yang buruk.

"Tetapi, jika alasannya karena Anda kekurangan nutrisi, atau karena Anda memiliki sejumlah penyakit sepanjang masa awal kelahiran yang tidak dirawat dengan semestinya, itu yang jadi masalah," jelas Surkin pada HealthDay News.

Diperkirakan, satu dari lima perempuan mengalami DPP. Namun, 85 persennya tidak mengetahui masalah ini karena kurangnya pengetahuan akan kondisi tersebut. Problem yang mungkin bisa terjadi adalah gangguan kognitif dan masalah kesehatan fisik pada anak. Namun, hal ini bisa diatasi melalui perawatan medis, terapi hormon, dan konseling.

Namun, Anda tak perlu terlalu mengkhawatirkan hasil penelitian ini. Sebanyak 24 persen dari responden Surkin hanya mengalami gejala depresi ringan yang sering disebut baby blues. Anak-anak mereka menunjukkan kesenjangan tinggi badan yang sama pada usia 4 tahun. Namun, setelah berumur 5 tahun, mereka bisa mengejar tinggi badan teman-temannya karena para ibu telah berhasil mengatasi problemnya.


Penulis :
Felicitas Harmandini
Editor :
Dini
BERITA LAIN: