Kamis, 24 April 2014
Efisiensi ala Edward Hutabarat
Senin, 17 September 2012 | 10:49 WIB
|
Share:
KOMPAS/MYRNA RATNA

Edo menunjukkan baju yang bisa dipakai bolak-balik (kiri) dan kain yang disusun dari perca (kanan).

KOMPAS.com - Perancang senior Edward Hutabarat kembali ingin berbagi. Kali ini soal gagasan daur ulang, yang baginya bukan sekadar ”fashion statement”, melainkan lebih dari itu, menjadi pola pikir dan sikap hidup.

Jangan pernah menyepelekan perca dan limbah kain. Di setiap sudut motifnya tergambar kerja keras dan biaya. Pemanfaatan barang sisa bisa menjadi cerminan bagaimana kita bersikap dalam situasi krisis saat ini.

Pada pergelaran bertajuk ”Javanese Royal Heritage” Kamis (13/9/2012) lalu, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, sebagian dari sekitar 50 set rancangan karya Edo memanfaatkan potongan-potongan perca berukuran 5 x 5 cm.

Perca-perca mungil dari batik dan lurik itu disambung dengan teknik quilt selebar setengah cm, dan menjadi materi kain dengan gradasi warna senada. Kain-kain itu kemudian diubah menjadi gaun-gaun berpotongan kasual, beberapa di antaranya bisa dikenakan bolak-balik.

Sepotong gaun yang bagian luarnya bermotif paduan batik dan lurik, misalnya, di bagian dalamnya dibuat dari batik Cirebon bermotif bunga. Ada juga gaun yang bagian luarnya berbahankan batik, dipadukan dengan kain bermotif kotak-kotak berwarna lembut di dalamnya.

Intinya adalah efisiensi. ”Di saat krisis ekonomi seperti sekarang kita tetap bisa tampil cantik, gaya, tetapi tetap efisien dan praktis. Tidak perlu membawa banyak baju sewaktu bepergian,” kata Edo yang ditemui di kediamannya, Senin (10/9/2012) lalu.

Dari kejauhan, gaun-gaun pendek itu seperti gaun ”biasa” khas Edo. Baju batik gaya kasual dengan tambahan aksen berupa bis dan obi atau ikat pinggang dari bahan linen bermotif garis-garis atau kotak-kotak. Namun, dekatilah, rabalah kainnya. Kita akan mendapati produk buatan tangan yang dikerjakan dengan penuh cita rasa, presisi, dan ketelitian yang tinggi.

Sehelai gaun yang materinya terbuat dari potongan perca 5 x 5 cm itu membutuhkan waktu panjang untuk merampungkannya. Diawali dengan penataan perca-perca yang disusun bagai sebuah lukisan utuh. Setelah memperoleh pola warna dan motif yang diinginkan, ”kain” yang terdiri atas potongan-potongan perca itu dijelujur per dua baris sebelum kemudian dijahit rapat seluruh bagiannya.

Demikian juga dengan koleksi Edo yang menggunakan motif batik parang baron. Sehelai gaun koktil motif parang dari bahan crepe de chine membutuhkan waktu pembuatan sampai lima bulan. Proses membatik di atas materi kain yang permukaannya halus itu membutuhkan keterampilan tinggi, selain tentunya ketelitian dan kesabaran.

Koleksi berlabel Part One ini semuanya berpotongan sederhana. Gaun pendek dengan padu padan jaket, gaun bersiluet botol, baby doll, juga gaun panjang tanpa lengan maupun berlengan panjang. Edo membiarkan penonton yang hadir malam itu menikmati keindahan batik dan lurik yang dibuat oleh tangan-tangan terampil perajinnya di desa-desa.

edward hutabarat

”Batik itu bagai lukisan yang harus dinikmati. Apa lagi yang bisa diandalkan negeri ini selain craftmanship yang luar biasa?” katanya.

Inspirasi Iwan Tirta
Separuh dari koleksi Edo malam itu memang bernuansa batik dengan motif parang baron. Edo mengakui motif itu terinspirasi dari almarhum Iwan Tirta, salah satu maestro batik Indonesia. Motif parang itu diselingi dengan motif bunga, kupu-kupu dan burung, yang ditulis dengan sentuhan khas Edo, terutama dengan cecek-nya yang rapat dan halus.

”Look-nya adalah Iwan Tirta, karena dialah satu-satunya maestro, the one and only. Aku gali lagi warisan Mas Iwan dengan penuh cinta sebagai apresiasiku terhadap maestro kita. Aku juga berharap desainer lain terus menggali karya-karya Iwan Tirta agar tetap hidup,” kata Edo.

Edo ingin menguatkan impresi bahwa batik bisa dipadankan dengan semua ”aksesori” modern apa pun, entah itu tas, sepatu, topi, kacamata, perhiasan, dengan merek-merek yang sudah mengglobal. Pesannya jelas, si batik tetap yang jadi ”menu utama”. ”Yang lainnya itu hanya makanan penutup. Batik bisa go global, bisa menyatu dengan brand luar negeri,” tambah Edo.

Pergelaran ini sepertinya menjadi ”pemanasan” bagi perancang yang telah malang melintang di dunia mode Indonesia lebih dari 30 tahun itu. Ia tengah mempersiapkan pergelaran tahunan pada awal 2013 yang akan digabung dengan peluncuran buku dan pameran foto hasil penjelajahannya selama bertahun-tahun di pelosok Nusantara.

FOTO-FOTO: KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Editor :
Dini