
KOMPAS.com - Masyarakat perkotaan dikenal dengan mobilisasinya yang tinggi. Hal ini disebabkan setiap anggota keluarga memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Bahkan waktu 24 jam pun masih dirasakan kurang.
Sayangnya, padatnya aktivitas ini tidak diiringi dengan situasi di jalanan yang mendukung pergerakan tersebut. Lalulintas yang macet, pengemudi kendaraan yang berkendara tanpa memedulikan keamanan orang di sekitarnya, cuaca yang panas, belum lagi ancaman kriminalitas, akhirnya memengaruhi cara hidup masyarakat. Mereka jadi malas keluar rumah atau kantor. Untuk membeli makanan, misalnya, mereka memilih memesan makanan.
"Delivery service kemudian menjadi kebutuhan karena orang semakin sibuk, di sisi lain kenyamanannya berkurang karena macet, waktunya berkurang, dan keamanan di jalan tidak terjamin. Delivery service menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan dengan menawarkan kenyamanan. Daripada panas-panasan, lebih baik memesan makanan di luar," ungkap Irwan M. Hidayana, antropolog dari FISIP Universitas Indonesia, saat bincang-bincang bersama Wall's Ice Cream in Home di PAD@28, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (19/9/2012).
Kehadiran layanan pesan-antar dari berbagai perusahaan juga membantu meringkas waktu dan tenaga, sehingga masyarakat masih punya cukup waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Maklum saja, masyarakat Indonesia tergolong masih tradisional. Makan bersama masih dianggap bagian dari kultur. Namun di kota, ketika masing-masing anggota keluarga sibuk, waktu untuk menyiapkan makanan di rumah mau tak mau jadi berkurang. Pilihannya kemudian, pesan makanan atau jajan di luar sekalian.
"Akhirnya orang perkotaan jadi cenderung memilih ready to eat food. Mereka berkembang menjadi masyarakat konsumen, dan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di dunia," tambah Irwan.
Hanya saja, ketepatan waktu kemudian menjadi tantangan utama jasa layanan pesan-antar. Bisnis delivery service, menurut Irwan adalah masalah trust. Ketika kita memesan sesuatu barang, akan muncul ekspektasi bahwa barang akan dikirim dalam waktu sesuai yang dijanjikan. Ketika ekspektasi tersebut tidak dapat dipenuhi, masyarakat tidak akan percaya lagi dengan layanan ini.
"Bagaimana memilih jasa delivery service yang baik, harus berdasarkan pengalaman. Kalau baru pertama memesan mungkin akan sulit (mengetahui apakah perusahaan bisa memberi layanan sesuai yang dijanjikan), tetapi kita bisa meminta referensi dari teman,"ujarnya.
Memang, beberapa perusahaan yang menyediakan layanan pesan-antar akan memberikan kompensasi ketika barang yang dipesan datangnya lebih lama daripada yang dijanjikan. Meski begitu, perusahaan tidak bisa selalu mengandalkan kompensasi untuk mempertahankan pelanggan. Bagaimana pun, ketepatan waktu itulah yang menjadi layanan utamanya.