Sabtu, 25 Oktober 2014
Agar Harmonis dengan Pengasuh Anak
Rabu, 21 November 2012 | 10:11 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Pilih pengasuh yang menyayangi anak dan punya kemampuan merawat, dan jalin hubungan harmonis dengannya.

KOMPAS.com - Pastikan Anda memiliki pengasuh yang mempunyai hard skill (ilmu merawat bayi) dan soft skill (menyayangi bayi). Anda bisa melakukan pengamatan serta wawancara untuk mendapatkan pengasuh berkualitas seperti ini. Jika Anda sudah menjatuhkan pilihan, langkah berikutnya adalah menjalin kerjasama dengan pengasuh.

Agar hubungan berjalan harmonis dengan pengasuh demi kebaikan si kecil, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan seperti disarankan oleh Erfianne Cecilla, Psi, psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia ini:

1. Posisi sama.

Posisi pengasuh dan orangtua adalah sama dalam menjalankan tugas pengasuhan. Pengasuh juga bertanggung jawab agar anak yang diasuh sehat secara jasmani dan rohani, sebagaimana dengan target orangtua. Lakukan kerja sama dan komunikasi agar hal ini berlangsung lancar.

Contoh kalimat yang sebaiknya diucapkan di awal kerja untuk menyamakan kedudukan, "Mbak, ini anak saya, saya tidak bisa sepenuhnya mengurus, jadi kita kerja sama. Saya butuh mbak untuk mengurus anak saya, mbak juga membutuhkan penghasilan. Kalau ada yang kurang atau mbak lebih tahu, tolong kasih tahu. Jangan marah juga kalau saya memberitahu tentang pengasuhan atau perawatan anak. Tujuannya hanya satu agar anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohani."

2. Jangan sungkan memuji.

Ketika pengasuh berhasil menemukan suatu metode yang lebih baik, tak ada salahnya memberikan pujian langsung ke pengasuh. Pujian akan menambah rasa percaya dirinya dan yang terpenting mitra Anda dalam mengasuh anak tersebut merasa dihargai.

3. Berikan contoh langsung.

Pengasuh belajar dari lingkungan di sekitarnya. Untuk itu, Anda perlu menjadi panutan dalam mengasuh bayi. Contoh, saat mengganti popok si kecil, ajaklah bayi "mengobrol" sambil sesekali melakukan kontak mata dan tersenyum. Berikan penjelasan kepada pengasuh, membersihkan kelamin bayi perempuan hendaknya dari arah depan (vagina) ke belakang (anus) sambil memberikan contoh langsung.

4. Tegas untuk aturan baku.

Sampaikan kepada pengasuh ada beberapa aturan yang tidak bisa ditawar-tawar dan hendaknya dijalankan sesuai dengan aturan yang ada. Billa dilanggar ada sanksinya. Misal, tidak diizinkan mengajak bayi makan di jalanan.

5. Sampaikan kritikan dengan bahasa yang enak.

Ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan orangtua, sampaikan dengan bahasa sederhana dan tidak terkesan menuduh. Ingat, jangan langsung menyalahkan.

6. Lakukan evaluasi.

Penting melakukan evaluasi dengan pengasuh. Evaluasi berguna untuk meningkatkan kinerja. Selain juga untuk mengetahui bila ada hal-hal yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan. Bukalah ajang evaluasi dengan pembicaraan ringan, sehingga tidak membuat tegang pengasuh.

7. Perhatikan kesenangan pengasuh.

Berikan kesempatan kepada pengasuh untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan (termasuk hobinya). Melakukan aktivitas rutin setiap hari selama seminggu penuh dapat mengundang kejenuhan. Kesempatan beristirahat dapat membuatnya bersemangat kembali melakukan pekerjaan.

8. Komunikasikan rencana orangtua.

Seandainya ada rencana untuk pulang malam karena tugas kantor yang harus diselesaikan, sampaikan rencana tersebut kepada pengasuh. Dengan demikian pengasuh dapat mempersiapkan diri dengan baik.

(Tabloid Nakita/Utami Sri Rahayu)

 


Editor :
wawa
BERITA LAIN: