Sabtu, 22 November 2014
Motif Warak Khas Batik Semarangan
Senin, 17 Desember 2012 | 17:20 WIB
|
Share:
KOMPAS.COM/FELICITAS HARMANDINI

Batik Semarang dengan motif warak, binatang berkepala naga, bertubuh kuda bersayap, dan berkaki kambing.

KOMPAS.com - Ketika membahas tentang batik di Jawa, khususnya Jawa Tengah, orang mungkin hanya akan teringat pada batik yogyakarta, batik solo, batik pekalongan, batik lasem, atau batik kudus. Padahal, saat Anda beranjak ke ibukota Jawa Tengah, yaitu Semarang, Anda akan mendapatkan batik semarangan.

Popularitas batik semarang memang masih kalah dibandingkan kawasan lain di Jawa Tengah. Hal ini disebabkan batik semarang sempat menghilang akibat penjajahan Jepang. Batik tulis juga kalah bersaing dari batik printing dari segi harga, menyebabkan regenerasi jadi terhenti. Baru sekitar tujuh tahun terakhir batik semarang diaktifkan kembali.

Untuk menemukan pusat batik semarangan berikut bengkel kerjanya, Anda bisa berkunjung ke jalan Batik di kawasan Gedong, Bubakan, Semarang. Di sini  terdapat Kampung Batik Semarang, di mana rumah-rumah penduduk dijadikan showroom sekaligus bengkel kerja. Kampung batik ini belum sebesar sentra pembuatan batik di kawasan lain, sebutlah di Pekalongan. Di sini hanya ada delapan perajin batik.

Meski begitu, Anda tetap dapat membeli kain atau busana batik, melihat proses pembuatannya, sekaligus mendapatkan informasi mengenai riwayat batik semarangan. Sayangnya, Eko Hariyanto, pengusaha sekaligus koordinator perajin batik semarangan, sedang tak berada di perkampungan ini ketika rombongan trip "Enchanting IndOriental Beauty Journey" dari Martha Tilaar Group berkunjung, awal Desember lalu.

Bagaimana corak khas batik semarang?

Seperti pada umumnya kota pesisir utara Jawa Tengah, batik semarang juga dipengaruhi oleh budaya China. Motif-motif flora dan fauna khas China peranakan seperti merak, ikan, kupu-kupu, ayam jago, bambu, cendrawasih, atau bangau, bisa ditemukan di sini. Dalam pengembangannya, batik semarang juga memiliki motif khas seperti Gedung Lawang Sewu dan Tugu Muda yang menjadi landmark kota Semarang, dan pohon asem yang banyak ditemukan di Semarang.

"Motif asem dan lawang sewu itu baru ada setelah batik semarang hidup lagi, dan dibuat untuk memperkaya motif semarangan," papar Iin Winda Cahyani, salah satu perajin batik semarangan. Menurutnya, motif dengan ikon Semarang lebih banyak dituangkan ke dalam batik cap. "Kalau di batik tulis pasti diprotes oleh penggemar batik, karena mereka tahu motif batik semarang itu ya gaya pesisiran."

Selain itu ada pula motif warak. Warak tak lain binatang yang menjadi simbol kota Semarang. Binatang legenda ini melambangkan tiga ikon Semarang yang menyatukan tiga etnis, China, Jawa, dan Arab. Bentuknya adalah binatang berkepala naga (simbol China), bertubuh bouraq atau kuda bersayap (Arab), dan berkaki kambing (Jawa).

Banyak dari motif khas Semarang ini yang melambangkan regenerasi dan kemampuan untuk bertahan. Misalnya seperti motif warak ngendog (warak bertelur) dan kupu-kupu (binatang yang menyebarkan serbuk sari). Bangau adalah binatang yang hidup di air dan di darat, sehingga dapat hidup di mana saja. Bunga cempaka sekali dipetik tidak mudah layu, ranting mawar memiliki duri yang memberikan perlindungan, sedangkan bambu sekali ditancapkan akan tetap kokoh.

Dari sisi warna, batik semarang cenderung berwarna oranye kemerahan. "Warnanya cenderung cerah. Tetapi makin ke arah barat, Cirebon, lebih soft dan lebih berwarna-warni," imbuh Iin, yang memiliki 15 pegawai.

Tidak ada standar harga untuk batik semarang, karena harga yang dipajang memang tergantung perajin. Untuk koleksi batiknya sendiri, Iin menjual dengan harga mulai Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Itu pun hanya dibuat beberapa potong saja. "Untuk harga Rp 1 juta ke atas saya hanya bikin satu potong, karena pembuatannya lama," ujar Iin, yang memproduksi sendiri batik-batiknya.

Iin mengatakan, harga batik memang dinilai dari kualitas bahan, motif, dan lama pengerjaannya. Jika sudah memahami faktor-faktor tersebut, menurutnya para penggemar batik umumnya sudah dapat menerka harganya sendiri.

Baca juga:
Menata Ulang Batik Semarang


Penulis :
Felicitas Harmandini
Editor :
Dini
BERITA LAIN: