Kamis, 23 Oktober 2014
Tantangan Bisnis Kebaya Encim
Minggu, 13 Januari 2013 | 10:57 WIB
|
Share:
KOMPAS/NINA SUSILO

Melalui merek Nabilah Bordir, Henny Hasyim sudah menjajal pasar untuk konsumen di Jerman, Belanda, Jepang, dan Amerika.

KOMPAS.com - Ketika banyak orang memodifikasi kebaya menjadi sangat modern, Henny Hasyim justru berjibaku mencari peninggalan leluhur itu ke segala pelosok negeri. Dia pun membuat duplikatnya dengan kualitas kain dan bordiran yang nyaris sama dengan aslinya.

Mesin bordir yang digunakan pun masih model lama, yakni mesin pancal yang dioperasikan dengan kaki, tanpa dinamo. Bordir kerancang dengan jarum halus yang menyatu dengan kain. Jadi, bukan guntingan apalagi tempelan.

Hasilnya, bordiran halus menggurat kain dan membentuk lubang motif yang rapi dan sangat memesona. Selain itu, ada pula bordiran bunga dan motif klasik lain tanpa kerancang. Semuanya membentuk kebaya encim motif kuno yang klasik dan digarap oleh sekitar 40 perajin yang seluruhnya tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur.

Desain warna dan motif kebaya encim kuno Indonesia indah sekali. Menurut pengusaha perempuan ini, warna dan motif kebaya encim kuno lokal sangat beda dengan kebaya encim Malaysia ataupun Singapura karena kuno lokal ada ciri khasnya, lebih simpel dan kecil-kecil, tetapi justru memancarkan keagungan ketika dipakai.

”Pengerjaan kebaya dengan mesin saat ini jarang bisa menyamai kebaya zaman dulu. Jadi, saya tertantang untuk membuat yang sama sekaligus melestarikan budaya,” kata Henny yang mulai mengumpulkan kebaya lawas sejak lima tahun terakhir ini.

Kebaya-kebaya antik ini diperoleh dari mana-mana. Hasil berburu ke pasar loak atau pemberian konsumen yang puas dengan karya Henny. Bahkan, ada generasi kedua atau ketiga dari pemilik kebaya encim membawa peninggalan itu kepada Henny untuk diduplikasi. ”Ada saja yang datang membawa kebaya encim dalam kondisi sudah robek dan meminta dibuat duplikasi sebagai kenang-kenangan. Saya anggap tantangan apalagi kalau hasilnya bisa mirip dan konsumen senang,” ujarnya.

Jadi, karena kebaya encim yang diberikan sudah tua, kondisinya pun kerap kali sudah rapuh dan mulai sobek, sehingga membutuhkan ketelatenan untuk mengembalikan ke bentuk asli agar mudah diduplikasi pada kain baru.

Henny yang pumya nama asli Zakiyah Handayani (47) dan pernah menjadi presenter di TVRI Surabaya ini sempat menunjukkan sekitar 100 koleksi kebaya lawasnya. Sebagian berupa kebaya renda yang diyakini hasil akulturasi dengan budaya Eropa.

Biasanya kata ibu dari Nafis Arrozani (25), Nabilah Arrozini (21) dan Raisa Chilmina Arrosyada (13) ini, kebaya yang baru diperoleh segera dicuci dan dikanji. Dengan demikian, kebaya lebih awet kendati tampak kaku. Setelah dikanji, proses duplikasi yang rumit dimulai.

Kain yang cocok harus dicari dulu sebelum pembordiran dikerjakan. Lama pengerjaan untuk selembar kebaya encim minimal satu minggu hingga berbulan-bulan, bergantung pada kerumitan dari bordir. Waktu penggarapan yang begitu lama, menjadi salah satu faktor Henny tidak bisa memasang target produksi. Maksimal ia hanya bisa menghasilkan 40 lembar kebaya per bulan.

”Menggarap bordir tidak mudah, butuh kesabaran dan ketelatenan, apalagi masih menggunakan mesin tempo dulu. Hasilnya harus benar-benar nyaris seperti aslinya. Kendala utama tidak banyak perajin yang bisa mengoperasikan mesin bordir peninggalan tempo dulu,” kata Henny yang membuka ruang pamer dan bengkel kerja di rumahnya di kawasan Serujo, Sidoarjo, Jatim.

Mendunia
Kebaya bordir yang umumnya menggunakan kain voile, paris, katun, dan sutra itu dipasarkan dengan merek Nabilah Bordir ke Bali, Jakarta, dan Surabaya. Sebagian karyanya bahkan sudah menjajal pasar untuk konsumen di Jerman, Belanda, Jepang, dan Amerika. Harga hasil karya Henny bersama perajin bervariasi mulai Rp 500.000 sampai Rp 3 juta.

Promosi kain bordir tidak dilakukan khusus, tetapi sering ditampilkan pada acara-acara budaya baik di Surabaya, dan beberapa kota lain. Upaya lain memperkenalkan karyanya melalui situs web Nabilahbordir.com.

Di Surabaya, misalnya, karya Henny sempat dipamerkan pada Pasar Malam Tjap Toendjoengan tahun 2009 dan 2010, oleh para model dengan memperagakan kebaya encim kepada pengunjung yang menikmati makanan tradisional dan suasana Surabaya dulu.

Selain hadir dalam pameran komunitas pencinta batik dan kain Nusantara, Henny pernah berpameran tunggal di Hotel Majapahit, Surabaya. Berbagai kebaya encim, sebutan untuk perempuan peranakan Tionghoa setelah menikah, yang dahulu identik dengan baju kaum ibu, ditampilkan dengan gaya lebih muda. Motif dan warna dibuat kian beragam meski tetap menggunakan bordir sulam ataupun bordir kerancang.

Kebaya encim tak lagi hanya cocok untuk kaum ibu yang sudah tua, tetapi bisa dikenakan semua kalangan dan tidak mengenal waktu. ”Saya buat busana model kebaya encim dari kain katun sehingga pantas dipakai sehari-hari dan mulai banyak peminatnya, baik mahasiswi maupun karyawati,” katanya.

Padahal, kata Henny, corak kebaya encim yang ditampilkan biasanya sudah berumur di atas 50 tahun, bahkan ada replika batik encim usia 100 tahun. Kalau ditampilkan yang asli jelas tidak mungkin karena kondisinya sudah sobek di sana-sini sehingga perlu duplikasi.

Dia pun tidak berhenti pada bordir, empat tahun terakhir ini, istri dari Hasyim Rosyidi (54) ini membagikan keterampilannya membuat kain ikat celup kepada masyarakat di seluruh Surabaya dan 16 kota di Jawa Timur.

Terkadang, para perajin yang didukung badan usaha milik negara (BUMN), instansi pemerintah, perusahaan swasta dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), ataupun perkumpulan dari sejumlah daerah datang mempelajari beragam teknik ikat celup.

Di tengah kesibukannya menggarap pesanan dari sejumlah penjuru kota dan negara, Henny masih harus berbagi ilmu soal bordir dan teknis pewarnaan pada kain ke beberapa kota di Indonesia. Dia juga tetap membagi waktu untuk menulis buku.

(Agnes Swetta Pandia/Nina Susilo)


Editor :
Dini
BERITA LAIN: