Sabtu, 19 April 2014
Agar Suami Siap Jadi Ayah Siaga
Senin, 4 Februari 2013 | 09:09 WIB
|
Share:
shutterstock

Dukungan suami dibutuhkan agar bumil lebih siap menghadapi persalinan.

KOMPAS.com - Peran suami di masa kehamilan sering diabaikan. Semua perhatian akan difokuskan pada si calon ibu. Mengapa? Sebab perempuan yang mengandung selama 9 bulan, perempuan yang menjalani pemeriksaan rutin ke dokter, dan perempuan yang harus menahan sakit saat melahirkan si bayi. Lalu, pertanyaannya: Apa saja yang seorang suami bisa lakukan selama masa kehamilan ini?

Ini yang bisa para calon ayah bisa lakukan untuk istri dan anak mereka tersayang:

Belajar
Ketika mengetahui istri telah mengandung, secepat mungkin kita juga perlu mengetahui segala sesuatu yang terjadi, akan terjadi dan dibutuhkan oleh istri dan calon bayi. Kumpulkan segala informasi mengenai kehamilan dari keluarga, internet, dokter, dan buku-buku. Semakin cepat dan banyak informasi yang kita dapatkan akan semakin lancar proses kehamilan di bulan-bulan ke depannya.

Beri dukungan
Dukungan suami pada masa kehamilan sangat diperlukan, karena istri butuh pendamping secara emosional dan fisik selama menjalani semua tahap kehamilan.

1. Trimester pertama adalah kuncinya. Biasanya pada tahap ini istri akan mengalami morning sickness dan mual yang paling parah. Ingat, tubuh kita sedang mengalami perubahan yang luar biasa. Jika istri terbiasa untuk berolahraga, suami bisa mengajak istri untuk menurunkan intensitas latihan dan menggantinya menjadi yoga atau pilates. Selain itu, suami juga harus bisa meringankan pekerjaan istri dengan membantu Anda melakukan pekerjaan rumah, seperti memasak dan beberes rumah.

2. Trimester kedua bisa dikatakan sebagai saatnya bulan madu tahap kedua. Mengapa? Sebab pada masa ini segala ketidaknyamanan yang terjadi di trimester pertama telah usai. Segala kelelahan, rasa mual, dan emosi pasangan akan lenyap, dan itu sinyal yang baik untuk merencanakan liburan pendek. Plus di masa ini, berpelesir dengan menggunakan pesawat terbang masih aman.

3. Trimester ketiga adalah tahap dimana bobot tubuh terasa semakin berat dan ketidaknyamanan kehamilan akan kembali datang. Pada ujung trimester ketiga, Anda mungkin akan mengalami pembengkakan pergelangan kaki, kelelahan, sembelit, dan wasir. Kondisi ini akan membuat perempuan tidak nyaman dengan penampilan serta keterbatasan gerak mereka. Bahkan bisa jadi akan sangat membosankan, seperti berjalan, berdiri, dan bahkan saat duduk. Jadi suami harus lebih sabar dan membantu sang istri dalam melakukan segala kegiatan rumah tangga lebih dari sebelumnya.

Selain itu, pada tahap ini perempuan harus sudah siap menantikan kehadiran si bayi. Kontraksi akan sering terjadi, jadi perhatikan tanggal kelahiran yang sudah diprediksi dokter. Tunjukkan kepada pasangan kalau kita juga sangat senang menantikan kedatangan si calon bayi ke rumah. Tawarkan untuk mempersiapkan segala kebutuhan bagi kedua permata hati Anda. Jangan lupa untuk mengikuti setiap kelas pra melahirkan, dan berperanlah menjadi pasangan yang sangat mendukung.

Pegang peran aktif dalam masa kehamilan
1. Dokter adalah ahli yang tahu bagaimana kondisi kehamilan perempuan dan siap menjawab segala pertanyaan yang kita butuhkan. Sebuah ide yang baik jika suami juga mengenal siapa dokter Anda. Membangun hubungan yang baik dengan dokter akan mempermudah kita menghadapi semua tahap kehamilan. Sebagai suami, ia juga tak perlu segan untuk bertanya hal yang mungkin takut ditanyakan oleh Anda.

2. Sebuah studi menyatakan bahwa janin sudah bisa mendengarkan suara dari luar rahim sejak usia 14 minggu. Jangan biarkan calon bayi hanya mengenal suara ibunya saja. Sediakan waktu setidaknya 5 menit untuk bercakap-cakap dengan calon bayi atau bahkan membacakan buku cerita. Kebiasan ini bisa membangun kedekatan antara ayah dan anak, bahkan sebelum mereka benar-benar hadir di dunia.

3. Ikut serta dalam pemilihan nama anak. Nama adalah doa orangtua pada si calon anak. Tahap kehamilan ini adalah waktu di mana kerjasama antara si calon ibu dan ayah dibutuhkan. Kita bisa menemukan daftar calon bayi dari berbagai sumber dari buku, internet, atau pemberian dari orangtua kita.

Saat hari "H"
Pertama, suami harus memutuskan apakah dia akan ikut menjadi bagian dari proses melahirkan atau tidak. Jika tidak, ia harus siap menunggu di ruang tunggu rumah sakit, sekitar 15-16 jam. Tapi jika memilih untuk masuk ke dalam ruang operasi, ia bisa mengambil peran aktif atau pasif. Pasif, adalah ketika ia hanya berdiri atau duduk diam dan membiarkan dokter melakukan tugas mereka. Sedangkan peran aktif adalah ketika suami mendampingi Anda dalam menjalani proses melahirkan, seperti membantu Anda rileks dan memantau cara pernafasan Anda selama proses melahirkan.

Siapkan diri untuk menjadi seorang ayah!
Ketika trimester ketiga bergulir, suami biasanya akan masuk dalam transisi menjadi ayah sepenuhnya. Transisi kilat memang, tapi membangun hubungan yang baik antar ayah dan anak adalah sebagian kecil dari tugasnya. Jadi, bersiaplah untuk peran yang lebih besar dalam keluarga, yaitu menjadi pemimpin dalam mendidik anak. Suami harus diajak memikirkan hal-hal seperti: ingin menjadi ayah yang seperti apa, nilai-nilai apa yang ingin ia tanamkan, hal-hal apa saja yang ingin ia ajarkan kepada anak-anak.

Tidak pernah ada yang menjanjikan proses menjadi seorang ayah akan berjalan mudah. Tapi ia tetap bisa menunjukkan kualitas sebagai seorang suami dan calon ayah yang baik dengan ikut berperan aktif dari masa kehamilan hingga melahirkan.

(Prevention Indonesia Online/Astrid Anastasia)

 

Editor :
Dini