Selasa, 2 September 2014
Kisah Arisan "Syur" Kaum Sosialita
Kamis, 21 Februari 2013 | 18:21 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/HESTI PRATIWI

Nadia Mulya dan Joy Roesma dalam acara peluncuran bukunya di Canteen Plaza Indonesia.

KOMPAS.com - Arisan bisa dikatakan sebagai budaya yang akrab dengan kita sebagai orang Indonesia. Kegiatan yang identik dengan perkumpulan kaum wanita ini sebenarnya punya banyak bentuk. Arisan bisa sebagai kegiatan bersosialisasi, tempat sekelompok orang yang terbentuk berdasarkan kedekatan demografis, geografis, hingga kumpulan sahabat untuk berkumpul dan bersilaturahim.

Menariknya lagi arisan merupakan kegiatan yang tak mengenal kelas sosial, mulai dari tingkat RT hingga kalangan jetset bisa melakukannya. Yang membedakan mungkin apa yang dijadikan materi arisan. Ada arisan yang "wah" dari segi jumlah nominal uangnya, arisan perhiasan, hingga batu permata. Benar tidak sih kaum sosialita di kota besar suka “pol-polan” saat menggelar acara yang satu ini?

Jika Anda penasaran mengenai kebenarannya, coba simak buku bertajuk Kocok! The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialites, yang ditulis Joy Roesma dan Nadia Mulya berdasarkan pengalaman pribadi mereka.

“Kami menyebutnya arisan urban legend, gaya arisan yang sering kita dengar tapi ada atau tidak faktanya tidak pernah kita ketahui pasti,” ujar Nadia, presenter dan pembawa acara, saat peluncuran bukunya di Canteen, Plaza Indonesia, Rabu (20/2/2013) lalu.

Dalam buku yang terdiri atas 10 bab ini Nadia dan Joy menuangkan bagaimana peserta arisan harus berdandan sesuai dengan dresscode tertentu, dan apa saja materi yang menjadi bahan arisan. Banyak kasak-kusuk yang beredar bahwa para sosialita juga mengadakan arisan "brondong". Jika biasanya yang menang mendapat sejumlah uang atau barang dari para peserta arisan, dalam arisan brondong pemenang akan mendapatkan pria muda untuk diajak berkencan.

Joy dan Nadia mencoba menelusuri kebenaran kasak-kusuk yang beredar ini dengan cara menggali informasi sebanyak-sebanyaknya. Mereka berdua mengaku bukan pelaku langsung arisan urban legend ini, dan berupaya menguliknya dari rekan-rekan sosialita. “Mereka membagi ceritanya, namun sebagai informan rahasia identitas mereka tidak kami sebutkan di sini,” tambah Joy, tanpa mengungkap secara detail kelanjutan kisah arisan brondong itu.

Selain mengangkat sisi “juicy" arisan warga kelas atas di Jakarta, buku ini juga mengangkat bagaimana arisan dijadikan ajang bisnis, dan bagaimana para peserta terlibat dalam berbagai kegiatan amal. Kegiatan arisan juga diliput oleh media gaya hidup, agar kelompok ini makin eksis.

"Saya harap pembaca bisa menjadikan buku ini sebagai hiburan dan mengambil hikmahnya," lanjut Joy.

Jika Anda ingin sebuah buku yang mengungkap lika-liku kehidupan para sosialita, disampaikan dengan bahasa yang ringan namun menggigit, Kocok! The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialites bisa menjadi teman Anda untuk menikmati waktu senggang.


Penulis :
Hesti Pratiwi
Editor :
Dini
BERITA LAIN: