Senin, 21 April 2014
Suvenir Boneka Jepang Asli Bandung
Senin, 4 Maret 2013 | 10:52 WIB
|
Share:
KOMPAS/INDIRA PERMANASARI

Bahan baku untuk boneka kayu Jepang ini dari limbah peti kemas dari pabrik-pabrik di Cikarang, Karawang, dan Bekasi.

KOMPAS.com - Gambaran orang Jepang yang berkulit putih, berkimono, dan berbibir mungil terabadikan menggemaskan dalam boneka kayu. Namun, ini bukan boneka dari ”Negeri Sakura”, melainkan kelahiran asli Bandung.

Dari garasi rumah Ceppy Setiawan (57) di Jalan Pagarsih, Bandung, Jawa Barat, lahir sekitar 3.000 boneka model Jepang menggemaskan setiap bulan. Kayu bekas peti kemas yang berciri putih bersih dengan guratan serat kayu halus dibubut menjadi tubuh boneka. Rambut, mata, hidung, bibir, dan motif pakaian khas Jepang lalu dilukiskan di atas kayu. Ada boneka yang lebih sulit pembuatannya, seperti boneka dengan kimono dari tumpukan kayu. Boneka-boneka lucu itu berukuran mulai dari 7 cm hingga 40 cm.

Ceppy Setiawan, pendiri perusahaan Vildea yang memproduksi boneka-boneka Jepang, memasarkan karyanya lewat pameran, situs internet, gerai di hotel, dan department store. Sebagian boneka dipasarkan oleh pedagang di sejumlah kota, seperti Jakarta, Bali, Jawa Timur, Sumatera, dan Kalimantan.

Beberapa kali staf Kedutaan Besar Jepang di Indonesia berbelanja boneka untuk buah tangan ke pabrik boneka Ceppy. ”Kadang mereka butuh suvenir dalam waktu cepat. Kalau ke Jepang, barangkali lama dan mahal. Jadi, belanja di sini, he-he-he,” ujarnya.

Sebelum krisis moneter 1998, boneka model Jepang buatan Ceppy dan sejumlah pekerjanya telah melanglang ke luar negeri, seperti Australia, Kanada, dan Singapura. Begitu krisis menerpa pesanan dari luar negeri berkurang lalu benar-benar berhenti.

Berawal dari hobi
Bisnis boneka model Jepang itu bermula dari hobi Ceppy membuat perabot berbahan kayu bekas. Hasil dari hobi yang rada serius itu tersebar di dalam rumahnya mulai dari satu peranggu dapur (kitchen set), kursi, hingga meja. Saking hobinya, Ceppy membeli mesin bubut untuk membentuk bulatan dan oval dari kayu sebagai pendukung mebel.

”Waktu membuat bulatan dan oval dari kayu dengan mesin bubut itu, saya iseng berpikir kayaknya kalau kayu bulat dan oval itu dibuat boneka bakal bagus,” ujarnya. Dia mencoba membuat boneka yang diinginkan dan mengoleksinya.

Akhir tahun 1996, Ceppy mengikuti pameran kerajinan di Cikapundung agar bisa memamerkan koleksi boneka buatannya. ”Pengunjung yang melihat lalu menyebut boneka saya sebagai boneka Jepang. Saya sendiri menyebutnya boneka model Jepang karena boneka ini kreasi sendiri dan tidak meniru,” ujarnya.

Saat mengikuti pameran, Ceppy disambangi pengurus Himpunan Masyarakat Pengrajin Indonesia Kota Bandung dan disarankan memproduksi massal boneka itu. Tak terpikir oleh Ceppy menjual boneka-boneka itu. Bagi Ceppy, boneka itu bagian dari hobi saja. Apalagi, pria yang berlatar pendidikan akuntansi ini masih bekerja di PT Telkom. Namun, benak Ceppy tergelitik memulai usaha.

Dia mencoba memproduksi lebih banyak boneka itu. Bahan berupa limbah peti kemas pabrik yang nasibnya akan berakhir sebagai kayu bakar diperoleh dari pabrik-pabrik di Cikarang, Karawang, dan Bekasi. ”Warna kayu limbah peti kemas itu bersih dengan serat kayu yang indah. Kalau diolah dengan baik, akan bagus hasilnya. Tanpa kreativitas, bahan baku mahal juga sia-sia,” ujarnya.

Melotot
Setelah itu, Ceppy keluar masuk berbagai pameran untuk menjual bonekanya. Boneka itu rupanya disukai. Meski demikian, terlontar kritik terhadap Ceppy yang dianggap lebih memilih membuat boneka Jepang ketimbang boneka berlanggam tradisi Jawa Barat atau budaya Indonesia lainnya.

”Saya agak terpukul dengan kritik itu. Persoalannya, saya harus membuat boneka corak tradisi seperti apa? Semua ide boneka model Jepang ini berawal dari bentuk bulat dan oval,” ujarnya.

Gara-gara kritik itu Ceppy mencoba membuat boneka langgam Sunda dari kayu. Namun, hasilnya tidak memuaskan. Boneka bergaya Sunda itu terlalu kaku dan kurang cocok dengan karakter keras kayu. Begitu dipasarkan, boneka itu benar-benar tidak laku.

Ceppy kembali membuat boneka model Jepang dengan mempertahankan bentuk sederhananya. ”Anehnya, begitu boneka model Jepang itu saya ubah matanya jadi melotot, ternyata kurang laku juga. Akhirnya, matanya cuma segores saja, baru laku lagi, ha-ha-ha,” ujarnya.

Ceppy telah menciptakan ratusan motif dan model boneka kayu. Sebagian merupakan model lama yang dimodifikasi. Saat memasuki kamar khusus penyimpanan ratusan model boneka, serasa dikerubuti orang Jepang dalam ukuran mini.

Ketika usahanya semakin maju, Ceppy yang telah bekerja di PT Telkom selama 30 tahun memutuskan pensiun dini. Sulit membelah diri dan pikiran untuk mengurus pekerjaan dan usaha boneka itu.

Ceppy juga kian aktif sebagai pengurus di Himpunan Masyarakat Pengrajin Indonesia Kota Bandung, Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft, dan sempat menjadi pengurus di Kerukunan Usaha Menengah Kecil Indonesia.

Kini, Ceppy tengah menjajaki kemungkinan mengirim boneka-bonekanya ke luar negeri lagi. ”Belakangan, saya sedang menjajaki kerja sama dengan pedagang dari Korea,” ujarnya. Dia juga berencana menambah kapasitas dan memindahkan lokasi produksi dari rumahnya ke tempat lebih memadai. Boneka-boneka model Jepang yang bermula hobi itu menjelma menjadi penghidupannya.

(Indira Permanasari)

 

Editor :
Dini