Sabtu, 1 November 2014
Tudung Lampu dari Untaian Benang
Selasa, 19 Maret 2013 | 21:39 WIB
|
Share:
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Untaian benang jahit dapat berubah wujud menjadi tudung lampu unik di tangan manusia kreatif.

KOMPAS.com - Untaian benang jahit dapat berubah wujud menjadi tudung lampu unik di tangan manusia kreatif. Hasilnya, cahaya bola lampu yang menerabas celah benang menghadirkan nuansa warna di dalam ruangan.

Di ruang tamu mungil Tri Isti (32) dan Helmi Yuliana (34) di kawasan Jakarta Timur, tudung lampu berbentuk beragam karakter animasi, seperti Angry Birds, Piglet, Spider Man, Mickey Mouse, dan Hello Kitty, mengisi rak kayu. Begitu sakelar listrik disambungkan, tudung-tudung lampu berbentuk karakter animasi memendarkan sinar biru, merah, hijau, dan kuning. Sepintas tak terbayangkan, tudung lampu karakter itu terbuat dari untaian benang jahit.

Sudah dua tahun ini, Tri Isti, yang juga seorang ilustrator dan komikus itu, berbisnis boneka lampu karakter dari benang jahit. Karya tangan itu berawal dari hobi temari (bola sulam ala Jepang) yang ditekuninya.

”Setiap kali pameran temari, orang selalu mengira bola sulam karya saya itu lampu. Padahal bukan,” ujarnya. Dalam sebuah pameran di Jakarta, stan Tri bertetangga dengan stan lampion benang dari Yogyakarta. Hanya saja, lampion yang dipamerkan polos dan tidak menggunakan bola lampu listrik.

Terbiasa berkreasi dengan benang, Tri tertarik untuk mengerjakan lampion serupa dengan pengembangan pada modelnya. ”Barangkali karena latar belakang pekerjaan saya sebagai ilustrator, model tudung lampu yang saya buat kemudian lebih banyak karakter animasi,” ujar Tri, yang menamai usahanya Boneka Lampu Temari. Dia lantas mencari karakter tepat untuk dipadukan dengan bentuk dasar tudung yang bulat sempurna.

Dari lilitan benang
Pembuatan tudung lampu unik itu dengan melilitkan benang jahit ke permukaan bola berlumur lem. Pelilitan benang tersebut tidak mesti beraturan, tetapi dengan ketebalan tertentu. Setelah seluruh permukaan bola tertutup benang, bola dicelupkan lagi ke lem. ”Lem yang ada di pasaran kami tambahkan racikan buatan sendiri supaya kekakuan benang terjaga,” ujarnya.

Setelah kering di bawah matahari, lem yang semula belepotan itu tidak akan terlihat lagi bekasnya dan sebagai gantinya muncul warna asli benang. Tri menggunakan benang jahit karena kekayaan warnanya dibandingkan dengan jenis benang lain. ”Ada ratusan warna dengan ragam gradasinya,” ujar Tri.

Ujung bola benang itu lalu dilubangi untuk mengeluarkan bola yang telah dikempiskan. Ciri karakter animasi, seperti mata, hidung, telinga, atau pakaian dari karakter, ditambahkan belakangan. Tri memakai benang yang telah dikakukan pula sebagai pelengkap dekorasi agar menyatu dengan tudung lampu benang. Sakelar dan bola lampu dipasangkan terakhir. ”Tudung bisa bertahan beberapa tahun asal tidak terkena air. Membersihkannya cukup menggunakan lap kering,” ujarnya.

Untuk pengerjaan tudung-tudung lampu dari benang jahit itu, Tri dibantu oleh tiga ibu rumah tangga di sekitar rumahnya dan seorang pria yang bertugas memasang sakelar lampu.

Produk rumahan yang dilakoni Tri dan Helmi itu penjualannya merambah ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan wilayah Jakarta. Lampu boneka itu dijual dengan harga Rp 65.000 hingga Rp 90.000 tergantung dari ukuran. Dalam sebulan, mereka memproduksi sekitar 300 tudung lampu.

Boneka lampu memberikan tambahan penghasilan berarti bagi Tri dan Helmi. ”Saya ingin mengembangkan usaha ini dengan mencari mesin untuk mempermudah proses pemotongan dan pelilitan benang ke bola,” ujar Tri, yang masih tetap melakoni keahliannya membuat ilustrasi buku. Sejauh ini, Tri membatasi jumlah produksi dan agen penjualan karena kesulitan tenaga kerja.

Lampu benang antiair
Tudung lampu benang jahit juga menarik hati pasangan Ariyanto dan Nina Yulianti, warga Tangerang Selatan, yang mendirikan Zahwa Handycraft. Bahkan, Ariyanto melepaskan pekerjaannya di sebuah perusahaan swasta untuk menekuni usaha tudung lampu benang jahit.

Sebagian tudung lampu mereka berbentuk sederhana bulat sempurna. Ada pula yang berdesain unik, seperti bunga raksasa, lebah, capung, bulan sabit, dan manusia salju besar (snow man) pada saat mendekati perayaan Natal.

”Kami menggunakan balon tiup. Jadi mau sebesar apa tudung lampunya tergantung tiupan, ha-ha-ha,” ujar Nina ketika ditemui dalam sebuah pameran produk kreatif di Jakarta beberapa waktu lalu. Mereka lebih menargetkan tudung lampu digunakan sebagai dekorasi. Pembeli tudung lampu mereka kebanyakan desainer dan pekerja hias ruang toko. Sebagian produk dipasarkan lewat pameran dan agen. Mereka memasarkan tudung lampu itu antara lain ke wilayah Jakarta, Manado, Balikpapan, dan Batam. Produk mereka pernah pula menjelajah ke Singapura.

Bisnis itu bermula ketika Nina membantu tugas prakarya anaknya membuat lampion. ”Kebetulan di rumah waktu itu banyak tersedia benang. Semula benang dililitkan ke bola tendang plastik, tetapi jadi repot mengeluarkan bolanya. Namanya juga masih belajar, akhirnya kami pakai balon tiup,” ujarnya.

Tudung lampu buatan Nina dan Ariyanto berkembang terus. Belakangan mereka membuat tudung lampu benang yang dapat digunakan di luar ruang, seperti lampu penghias taman. ”Permintaan pelanggan makin beragam. Untuk yang jenis luar ruang, bola benang dioleskan cairan antiair. Harga juga lebih mahal karena pengerjaan lebih lama,” ujar Nina. Tudung lampu itu dijual dengan harga Rp 50.000 hingga Rp 650.000.

Seiring dengan majunya usaha tudung lampu tersebut, Nina, yang aslinya berprofesi sebagai sekretaris, dan Ariyanto, yang seorang akuntan, melepaskan pekerjaan mereka untuk menjalankan usaha tudung lampu.

”Kami senang mengerjakannya. Usaha dan hobi menjadi satu,” kata Nina.

(Indira Permanasari)

 


Editor :
Dini
BERITA LAIN: