Rabu, 20 Agustus 2014
Nendo, Karya Seni dari Roti Basi
Senin, 25 Maret 2013 | 09:41 WIB
|
Share:
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Nendo adalah seni mengolah roti tawar basi menjadi bahan pembuat lukisan, rangkaian bunga, hingga suvenir unik.

KOMPAS.com - Tangan terampil dan telaten Emmy Subagyo mampu mengubah roti tawar basi menjadi benda seni bernilai lumayan tinggi. Limbah roti itu diolah jadi adonan clay, atau biasa disebut "nendo", yang dipelajari dari Jepang. Ragam nendo karya Emmy bisa dijumpai di rumah makan soto karak miliknya di Jalan Jenderal Sudirman, Bogor, Jawa Barat. Di restoran itu, Emmy memajang aneka lukisan, hiasan dinding, hingga boneka nendo.

Untuk lukisan sakura di Gunung Fuji, Jepang, misalnya, Emmy membutuhkan waktu pengerjaan hingga satu tahun. Setiap kuntum bunga sakura mungil berwarna putih itu dibuat secara telaten. Emmy selalu menyediakan waktu satu jam di pagi hari untuk membuat nendo.

Ia juga membuka kursus nendo bagi masyarakat umum, terutama pada akhir pekan. Seperti Selasa (12/3/2013) lalu, Emmy membagi keahlian membuat nendo kepada tamu di restorannya. Ia memulai dengan menunjukkan bahan baku nendo berupa roti tawar basi, lem, dan lotion.

Semua bahan itu dicampur menjadi adonan clay sebelum kemudian dibentuk menjadi bunga atau tokoh kartun Angry Bird. Bulatan kecil adonan nendo dipipihkan untuk membuat kelopak bunga. Tujuh kelopak mungil itu lalu disatukan membentuk bunga mawar yang merekah sempurna.

”Pertama kali pasti saya ajari membuat bunga. Bunga paling mudah karena enggak ada dimensi waktunya,” kata Emmy.

Emmy lalu menunjukkan karyanya berupa lukisan senja yang juga dibuat dari nendo. Lukisan tiga dimensi tersebut tampak hidup dan sama sekali tidak memiliki jejak limbah roti tawar. Begitu bersentuhan dengan udara, nendo akan segera mengeras seperti keramik dan bisa bertahan lama.

Resep rahasia
Agar bisa awet tanpa ditumbuhi jamur, Emmy memiliki resep rahasia dalam pengolahan nendo. Dengan resep temuannya itu nendo bisa bertahan lebih lama dan tidak mudah mengeras. ”Ada perbedaannya dengan nendo asli Jepang. Terutama di bagian finishing,” tambahnya.

Emmy mulai belajar dasar pembuatan nendo ketika tinggal di Jepang selama enam tahun sejak 1994. Kala itu, ia mengikuti suaminya yang bekerja sebagai bankir dan ditempatkan di Jepang. Untuk mengisi waktu luang sembari menunggu anak-anak pulang dari sekolah, Emmy belajar nendo pada seorang sensei.

Guru itu melatih Emmy menjadi terampil menggunakan tangan. Ia, misalnya, diminta membuat seribu benang sari dari nendo. Dari sekadar benang sari, Emmy lantas bisa menghasilkan lukisan nendo. Lukisan itu bahkan laku terjual dengan harga hingga puluhan juta rupiah. ”Otomatis tangan kita bergerak terus,” kata Emmy.

Ketika suaminya sakit, nendo menjadi semacam ”pelarian” bagi Emmy. Sembari menunggui sang suami di rumah sakit, Emmy membuat banyak lukisan nendo. Setelah suaminya meninggal, Emmy tetap membuat nendo. Ia mulai menerima pesanan kreasi nendo setelah pulang ke Indonesia pada 2001.

Di Tanah Air, nendo segera menjadi primadona karena harga clay pabrikan yang cenderung mahal. Selain murah, nendo bisa digunakan untuk terapi kesehatan syaraf karena hanya bisa dibentuk dengan keterampilan tangan. ”Nendo melatih kesabaran dan memotivasi,” ujar Emmy.

Ragam ”clay”
Selain memproduksi nendo, Emmy menularkan keahliannya lewat kursus yang dibuka bagi masyarakat umum mulai dari anak-anak hingga lanjut usia (lansia). Sebagian siswanya adalah anak berkebutuhan khusus yang berhasil belajar konsentrasi melalui nendo.

Bagi anak di bawah usia lima tahun, nendo menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan motorik halus, belajar pengenalan warna, serta tekstur. Para lansia juga memperoleh manfaat lewat keterampilan nendo, yaitu memelihara ingatan agar tidak mudah lupa.

Pencinta kerajinan clay, Bernadette Beta (45), juga membagikan keterampilannya membuat beragam clay yang dibuat dari tepung, sabun, dan kertas melalui kursus. Bahan-bahan tersebut murah dan gampang diperoleh. Dengan membuat sendiri, mereka tidak bergantung pada clay impor yang cenderung mahal.

Hanya butuh waktu sekitar satu jam untuk membuat adonan clay. Setelah dibentuk menjadi beragam wujud, clay dibiarkan mengering di udara terbuka. Hal ini berbeda dengan clay dari tanah liat yang harus dibakar untuk membentuk tembikar atau keramik.

Jenis clay yang banyak dikenal masyarakat umum adalah lilin atau malam untuk mainan anak. Namun, pencinta kerajinan tangan cenderung menyukai clay dari bahan tepung terigu, tepung beras, tepung tapioka, ataupun tepung maizena. Tepung itu hanya perlu dicampur dengan lem dan diwarnai dengan cat air, cat minyak, atau pewarna makanan.

Beta mulai membuka usaha rumahan BB Clay sejak 1997. Karyakaryanya berupa kalung, gelang, ataupun bros dijual ke beberapa factory outlet di Jakarta, Bogor, dan Bandung. Pada 2010, Beta membuka kursus keterampilan clay bagi segala umur di Kafe Gue, Bogor. ”Tidak ada patokan harga jual bagi barang seni seperti clay,” tuturnya.

Harga memang bukan segalanya dalam menggarap karya seni. Kepuasan psikologis yang diperolehnya lebih tak ternilai.

(Mawar Kusuma)

 


Editor :
Dini
BERITA LAIN: