Kamis, 28 Agustus 2014
Ketika Kehamilan Sudah Lewat Bulan
Senin, 25 Maret 2013 | 10:37 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Kehamilan lewat waktu tak perlu dicemaskan berlebihan karena hal ini sebenarnya normal, dan angka kejadiannya relatif sedikit.

KOMPAS.com - Usia kehamilan sudah 42 minggu atau lebih, namun si kecil belum juga menunjukkan tanda-tanda akan "keluar". Untuk itu Anda perlu segera memeriksakan diri ke dokter. Dengan demikian dokter dapat memastikan, apakah benar bumil mengalami kehamilan lewat waktu, sehingga persalinan dapat segera dilakukan.

Dalam bahasa medis, kehamilan yang sudah lewat bulan disebut postterm atau prolonged pregnancy. Umumnya, kehamilan aterm (cukup waktu) berlangsung sekitar 38-41 minggu (mencapai 80 persen), sedangkan di atas 42 minggu disebut kehamilan lewat waktu (postterm). Diperkirakan frekuensi  atau angka kejadian kehamilan lewat waktu sekitar 3-12 persen. Ada pula yang mengatakan hanya 2 persen. Yang jelas, angka kejadiannya relatif sedikit.

Keliru menghitung
Sesungguhnya, angka pasti kasus postterm ini memang sulit ditentukan. Bahkan, angka yang sebenarnya bisa lebih rendah dari yang diperkirakan. Umumnya lantaran penghitungan tanggal haid yang tidak akurat. Dengan kata lain, sejak awal terjadi kesalahan menghitung usia kehamilan lantaran siklus menstruasi yang tak jelas.

Ketika seorang perempuan mengalami terlambat datang bulan, belum pasti sudah terjadi pembuahan. Pembuahan terjadi 2-3 minggu kemudian. Untuk meningkatkan ketepatan usia kehamilan perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG), terutama pada trimester awal, dan pengukuran tinggi rahim secara teratur.

Namun meski sederet prosedur di atas sudah dijalani, masih ada saja persalinan yang meleset dari minggu yang diperkirakan. Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Para ahli kebidanan dan kandungan hanya memperkirakan, kemungkinan mengalami kehamilan postterm dapat dilihat dari faktor ibu maupun janin.

Dari faktor ibu, kemungkinan karena ada riwayat postterm pada kehamilan sebelumnya. Selain itu, diperkirakan 30 persen kejadian postterm lantaran faktor genetik. Kemungkinan lain penyebabnya adalah kekurangan hormon tiroid, kekurangan enzim sulfatase di plasenta, dan sebagainya.

Dari faktor janin, postterm bisa terjadi akibat kelainan pertumbuhan tulang tengkorak atau kelainan letak janin, meskipun kasus ini jarang terjadi. Bisa juga karena janin besar (makrosomi). Selain itu, meski belum ada penelitian yang sahih, kehamilan lewat waktu sering terjadi pada janin laki-laki ketimbang janin perempuan.

Rencana persalinan
Bila kemungkinan masuk 42 minggu dan belum ada tanda-tanda si bayi ingin segera muncul ke dunia, dokter akan menentukan apakah benar kehamilan lewat waktu. Caranya dengan melakukan evaluasi berdasarkan haid terakhir dan data USG di trimester awal. Bila benar lewat waktu, diupayakan untuk mencari faktor penyebabnya. Dokter juga akan memantau kesejahteraan janin dari jumlah air ketuban, kematangan plasenta, dan kardiotokografi.

Bila perlu dilahirkan segera akan ditentukan cara persalinannya. Bila dilakukan persalinan pervaginam, biasanya dokter akan melakukan induksi dengan obat-obatan dan cara tertentu. Pada keadaan tertentu, persalinan terpaksa melalui operasi Caesar, misalnya induksi gagal, ukuran bayi terlalu besar, gawat janin, dan lain-lain.

Itulah mengapa, ibu hamil perlu mempersiapkan mentalnya sejak awal untuk menghadapi berbagai kemungkinan cara persalinan kelak. Rencana persalinan perlu segera dilakukan mengingat persalinan lewat waktu dapat menyebabkan komplikasi, baik pada ibu maupun janinnya.

Meski begitu, kehamilan lewat waktu tak perlu dicemaskan berlebihan. Selain karena angka kejadiannya relatif sedikit, juga kejadian ini adalah hal yang normal. Apalagi bayi pun dapat dilahirkan dengan baik asalkan dipantau secara ketat serta ditangani  dengan baik oleh dokter.

Narasumber: Dr Irsyad Bustamam, SpOG, dari RSIA Hermina Podomoro, Jakarta

(Tabloid Nakita/Hilman Hilmansyah)


Editor :
Dini
BERITA LAIN: