Kamis, 24 April 2014
Menjadi Pemimpin yang Dekat di Hati
Rabu, 29 Mei 2013 | 09:35 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Melalui situasi sehari-hari karyawan bisa mengetahui bagaimana pemimpin meng-approach orang lain, berbicara secara tulus dan jujur, dan menyalurkan emosi secara positif.

KOMPAS.com - Banyak orang yang jago, ahli dan menguasai bidang kerjanya, mengeluh “suara”-nya tidak didengar atau bahkan kehadirannya disepelekan oleh rekan kerja lainnya.

Seorang karyawan, Ani, dengan nada frustrasi mengeluh, “Soal pengalaman dan hasil pekerjaan, saya lebih baik. Namun, rekan saya yang hasil kerjanya tidak hebat-hebat amat, lebih didengar. Dengan situasi ini, kecil kemungkinan saya bisa dipromosikan jadi manager.”

Lain lagi Ari, yang bekerja di perusahaan konsultan global terkenal. Proyek-proyeknya sangat penting. Dan, karena kesuksesannya, ia sering diminta menjadi pembicara di berbagai seminar. “Tapi, mengapa ya, saya punya ‘feeling’ bahwa orang tidak mengerti apa yang saya terangkan dan tidak mem-'buy in' apa yang saya anjurkan?”

Bila kita amati, memang banyak sekali masalah "pengaruh" di sekitar kita. Otoritas, pengangkatan seseorang menjadi direktur, manajer, ataupun pejabat sekalipun, tidak menjamin ia bisa diterima, disayang, di-“buy in” atau juga dikenang oleh orang di sekitarnya. Kita bisa patuh tanpa "suka" pada pemimpin kita.

Masyarakat memang bebas membeli simpati pada tokoh yang dipilihnya. Kita melihat banyak upaya pejabat untuk mengembangkan pencitraan dan kedekatan dengan rakyatnya. Kadang, semakin besar upayanya, malah semakin buruk pencitraannya. Setiap ungkapan, foto, bahkan pesan twitter-nya dikomentari negatif oleh masyarakat.

Sebaliknya, beberapa waktu lalu, kita melihat bagaimana orang berbondong-bondong, mengantarkan Ustadz Jeffrey ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dari berbagai penjuru lokasi, orang-orang datang untuk menyembahyangkan jenazahnya, mengingat-ingat kebaikannya. Seolah-olah tidak seorang pun punya keinginan untuk cepat-cepat  menghilangkan kenangan almarhum dari benak dan kehidupannya. Bahkan kerendahan hatinya, keinginan beliau untuk tidak menonjol pun, malah menjadi "signature voice"-nya. Terasa benar ia “dekat”, disayang, dan “hadir” di hati masyarakat. Hampir-hampir, tidak ada satu media pun yang menyebut-nyebut hal negatif mengenai Uje. Apa yang sudah dilakukan almarhum? Mengapa ia begitu dekat di hati?

Kita tahu tidak sedikit orang memoles “tongkrongan” untuk meningkatkan pengaruh. Namun, sebaliknya, kita melihat tokoh yang tidak punya "tongkrongan", seperti contohnya Ibu Teresa, bisa memimpin barisan relawan yang jumlahnya beribu-ribu orang, disayang, direspek, diikuti, sama berpengaruhnya seperti wanita besi, Margareth Thatcher.

Apa yang membuat pemimpin mempunyai keberadaan kuat seperti ini? Apa yang membuat pengikut jatuh cinta pada pemimpinnya? Apa yang membuat bawahan mengagumi dan percaya pada apa yang dinyatakan pemimpinnya?

Pendapat bahwa karakter yang merupakan "bawaan" kepribadian, sangat menentukan pengaruh, tidak selalu benar, karena orang yang pendiam, kecil tidak keren pun terkadang bisa berpengaruh. Berarti benar, some things need to be believed to be seen, kata orang.

“Earned authority”
Dari beberapa contoh, kita bisa belajar bahwa otoritas pengikut atau masyarakat seringkali diperoleh seorang pemimpin setelah ia membuktikan “harga”-nya di depan mata-kepala pengikutnya, bukan karena cerita atau kata-kata. Banyak orang mengatakan bahwa pemimpin harus menjadi model, contoh bagi pengikutnya. Namun, seringkali hal itu pun masih tidak cukup.

Kita bisa melihat bahwa pamor yang dipancarkan seorang pemimpin benar-benar datang dari tingkah lakunya. Bila individu betul-betul serius ingin mengembangkan kedekatan dan pengaruhnya, ia mesti terlihat menciptakan hal-hal yang baik, bahkan perlu membuktikan kemampuannya menghadapi situasi-situasi sulit, berkonflik, dan mendesak.

Melalui situasi seperti itulah orang bisa menyaksikan obsesi, standar, dan fokus kita sebagai pemimpin. Melalui situasi sehari-harilah orang mengetahui bagaimana kita meng-approach orang lain, berbicara secara tulus dan jujur, dan bagaimana kita menyalurkan emosi kita secara positif.   

Kita tentu pernah mendengar cerita Bung Karno yang rutin mengunjungi rumah-rumah pegawai istana dan menyomot tempe goreng masakan dari dapur rumah pegawai. Bila kita telaah, sebetulnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan kita “hadir” untuk tim.

Kepala pabrik, bisa melakukan briefing harian di lapangan dan kemudian berkeliling pabrik untuk menegur dan menyapa bawahan. Kepala sekolah, kadang perlu berdiri di gerbang masuk, memberi salam pagi pada setiap murid. CEO pun bisa memilih untuk tidak berada di ruangan terpisah, makan siang di kantin, bisa disapa dan didatangi siapa saja.

Semua tingkah laku ini adalah contoh bagaimana orang bisa memancarkan pamornya yang didasari ketulusan, nilai-nilai yang jelas, dan keyakinan diri. Tidak ada kekhawatiran bahwa kedekatan membuat anak buah “kurang ajar”. Tidak ditemui juga niat untuk “jaga image”.

Bisa kita bayangkan, bagaimana reaksi para follower bila pemimpin seperti ini mengajak untuk melakukan sesuatu. Otoritas tidak penting di sini, otoritas seolah sudah mengalir dalam diri pemimpinnya.

Hadir “apa adanya”
Membaur dengan bawahan atau rakyat, bukan berarti kita benar-benar "menyamakan" diri. Sebagai leader, kita mempunyai kewajiban memberi arah. Namun, dari pengalaman menghadapi satu situasi bersama, bawahan akan merekatkan perasaannya pada leader-nya. Itu sebabnya, mau tidak mau, pemimpin perlu berhati-hati dalam tindakannya.

Pemimpin perlu memiliki ketajaman persepsi dan kesiapan ekstra. Kesalahan atau masalah, perlu ditangani dengan bijaksana, tidak diulang. Bahkan, orang lain perlu menyaksikan bahwa kita sebagai pemimpin memiliki jiwa pembelajar dan berguru pada pengalaman. Walau kita tahu bahwa pemimpin perlu mempunyai visi dan pandangan jauh ke depan, orientasi "here and now"-nya tetap harus kuat.

Keberadaan pemimpin sangat berpengaruh pada spirit anak buah, untuk itu ia perlu hadir dalam proses “being in the zone”. Jadi, seorang pemimpin tidak bisa membiarkan dirinya tidak tahu apa-apa, apalagi mengatakan bahwa saat kesalahan terjadi, ia kebetulan tidak hadir di situ.

Tindakan seperti ini bukan sekadar menandakan tidak bertanggung jawabnya seorang pemimpin, tapi juga ketidakmampuannya untuk berlaku sebagai pemimpin. Pemimpin perlu bertindak apa adanya, merasa comfortable dengan dirinya, sehingga membiarkan dirinya terekspresikan apa adanya. Kita perlu ingat, kehadiran bukan suatu respons melainkan suatu pancaran yang dirasakan orang lain, secara kontinyu. Bukan sekali-sekali.   

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)

 

Editor :
Dini