Sabtu, 1 November 2014
Belajar Sabar dengan Kerajinan Kurumie
Senin, 3 Juni 2013 | 09:44 WIB
|
Share:
SAIGA-JP.COM

Kurumie adalah kerajinan tangan asal Jepang, di mana penggemar dilatih tekun dan sabar saat membungkus gambar dengan kertas.

KOMPAS.com - Kurumie adalah kerajinan tangan asal Jepang yang mulai digemari di Indonesia. Penggemar dilatih tekun dan sabar dengan kerajinan tangan membungkus gambar dengan kertas.

Kurumie sudah menjadi bagian budaya Jepang sejak zaman Edo, sekitar tahun 1600-an. Di Jepang, kertas yang digunakan adalah kertas washi. Di Indonesia, kertas washi bisa diganti dengan beragam kertas lain, bahkan juga digunakan kain-kain perca batik sebagai bentuk inovasi perpaduan budaya Jepang-Indonesia.

Penggemar kerajinan tangan kurumie sudah cukup banyak di Indonesia. Namun, secara resmi, perajin kurumie menggelar pameran karya baru pertama kali, yaitu 2-14 Mei 2013, di Japan Foundation Jakarta. Dalam pameran tersebut ditampilkan sekitar 50 karya dua perajin kurumie, yaitu Linda Khang dan Rohana.

Selain pameran, juga digelar dua kali workshop atau pelatihan kurumie bagi masyarakat umum. Pelatihan pertama dilakukan Senin (6/5/2013) dan yang kedua pada Senin (13/5/2013). Satu kelas terdiri dari 20-an peserta.

Di ruang lokakarya, sekitar 20 orang, mulai dari usia remaja hingga usia 50-an tahun, terlihat antusias menggunting, menempel, dan melipat kertas-kertas washi pada pola. Meski butuh ketelitian dan kesabaran tinggi, ibu-ibu paruh baya itu tanpa mengeluh menyelesaikan karya kurumie satu per satu. Dalam hitungan waktu 2-3 jam, karya-karya kurumie peserta pelatihan pun jadi.

”Selesai juga, tidak mengira bisa membuat kerajinan sebagus ini,” ujar Ella (53), salah satu peserta workshop kurumie.

Menghasilkan uang
Ella menuturkan, ia sudah sejak SMP menyukai kerajinan kurumie. Namun, saat itu ia kesulitan mendapatkan pola dan bahan untuk membuatnya.

”Saat itu saya dikenalkan oleh guru dan tidak tahu nama kerajinannya apa. Setelah telanjur suka, rupanya bahan dan polanya sulit didapat. Akhirnya saya tidak bisa menekuninya. Saat ini saya tahu nama kesenian ini kurumie dan sudah ada orang-orang yang bisa dimintai tolong mencarikan bahan-bahannya,” ujar Ella.

Ella yang memang menyukai kerajinan tangan itu ingin mengembangkan kerajinan tangan yang baru dipelajarinya untuk membuat karya-karya sendiri.

Edelyn (16), mahasiswi sekolah mode LaSalle Jakarta, juga tertarik untuk mendalami kerajinan kurumie. ”Saya baru pertama mengenal kerajinan tangan ini. Saya langsung menyukainya. Mungkin saya akan menekuninya sambil kuliah,” ujarnya.

Tidak pernah diketahui secara pasti kapan kerajinan tangan ini mulai masuk Indonesia. Namun, rata-rata yang mengerjakannya adalah perempuan- perempuan yang memiliki waktu senggang.

”Kurumie ini butuh kesabaran dan kerapian. Asal tekun saja, maka hasilnya bisa bagus,” ujar Rohana, perajin kurumie yang sudah memasarkan karyanya sebagai kerajinan tangan tersebut. Karya kurumie Rohana dijual Rp 150.000-Rp 350.000 per potong. Karyanya dititipkan di toko milik temannya.

”Kalau saya, baru menekuni kurumie pada tahun 2012. Namun, kerajinan kurumie kira-kira sudah masuk ke Indonesia tahun 2008-2009 karena saat itu saya pernah melihatnya di suatu tempat,” ujar Linda.

Akulturasi
Linda dan Rohana saat itu merupakan dua perajin yang memamerkan karya di Japan Foundation Jakarta. Linda memamerkan karyanya yang bertema Jepang dan kebudayaannya, sedangkan Rohana mengusung tema akulturasi budaya Jepang-Indonesia.

Linda, misalnya, membuat kurumie gadis Jepang berkimono, pesta rakyat Jepang, gadis dengan bunga, dan motif-motif berlatar belakang kebudayaan Jepang. Adapun Rohana mencoba lebih membumi dengan membuat kurumie ondel-ondel, gadis Jepang berbusana batik Pekalongan, dan sejumlah kurumie dari kain perca batik lainnya.

”Tantangannya adalah mendapatkan bahan baku dengan mudah dan murah. Sebab, selama ini bahan bakunya masih impor dari Jepang. Satu paket bahan kurumie bisa seharga Rp 50.000 - Rp 75.000,” ujar Linda.

Untuk menyikapi sulitnya mendapatkan bahan kurumie asli, Rohana berinovasi dengan mengganti kain washi dengan kain perca batik. Dia mendapatkan bahan itu dari teman-teman penjahit. Lagi pula, kebutuhan untuk kurumie tidak banyak. Ukuran kain 12 cm x 10 cm sudah bisa digunakan membuat karya. Dari keterbatasan bahan baku, Linda mampu menciptakan karya-karya kurumie bernuansa Indonesia, seperti ondel-ondel dan perempuan Jepang berkimono batik.

Bahkan, kini Rohana sudah mengajar kurumie ke berbagai tempat, mulai dari ibu-ibu pengajian, ibu-ibu paroki, hingga membuka kelas khusus bersama temannya di Ruko Sunter Garden, Jakarta.

”Komunitas kurumie semakin banyak. Komunitas saya saja sudah ada sekitar 30 orang. Di luar itu saya yakin masih ada,” ujar Rohana.

Bagi Rohana dan Linda, kurumie bisa menjadi salah satu alat peraga pendidikan. ”Dahulu saya jika dijelaskan soal baju adat nusantara misalnya, sangat sulit membayangkan karena hanya diucapkan dan tidak ada bentuk fisiknya. Namun, kalau ada bentuk tiga dimensinya seperti kurumie ini, saya yakin pelajaran akan cepat diserap anak-anak. Ini salah satu nilai positif yang menurut saya bisa diserap dari kurumie,” kata Linda.

Melalui karya tiga dimensi lipatan kertas dan kain ini, komunitas pencinta dan perajin kurumie berharap bisa menularkan kebaikan bagi semua.

(Dahlia Irawati)

 


Editor :
Dini
BERITA LAIN: