Jumat, 25 April 2014
Akibat Konsumsi Gula Berlebihan pada Kulit
Rabu, 12 Juni 2013 | 15:45 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Mengonsumsi gula secara berlebihan menimbulkan efek jangka panjang berupa penuaan dini dan jaringan parut pada wajah.

KOMPAS.com - Terlalu banyak mengonsumsi gula ternyata tidak hanya membahayakan tubuh, seperti menyebabkan penambahan berat badan atau diabetes, tetapi juga memengaruhi kesehatan kulit Anda.

Jerawat yang kerap menghiasi wajah Anda, misalnya, ternyata tidak selalu disebabkan faktor hormonal dan malas merawat kulit. Gula juga bisa menyebabkan kulit meradang karena gula meningkatkan peradangan.

"Kebanyakan orang tidak sadar bahwa kulit langsung berhubungan dengan sistem pencernaan kita," papar Joanna Vargas, ahli facial dan pendiri Joanna Vargas Salon and Skincare Collection. "Kalau kita makan sesuatu yang tidak dapat kita cerna atau kesulitan mencernanya, hal itu menimbulkan konsekuensi tertentu."

Tak semua orang akan terkena efek gula dengan cara yang sama. Ada yang merasa jerawatnya makin parah ketika mengonsumsi cokelat atau gula, tetapi orang lain tidak melihat perubahan ini. Jangan pula berasumsi bahwa menghentikan konsumsi cokelat juga akan menghilangkan semua masalah jerawat. Ketika problem ini terus muncul, solusi paling tepat tetaplah berkonsultasi dengan dokter kulit.

"Kalau Anda tidak mengontrol jerawat, Anda akan berisiko mendapatkan bekas luka dari jerawat yang terus bertumbuh," lanjut Vargas.

Bagi sebagian orang, menurutnya, bekas-bekas jerawat menimbulkan perubahan warna kulit yang berkepanjangan. Atau, tekstur kulit Anda menjadi tidak sempurna. Untuk mengatasinya, Anda disarankan untuk menjalani chemical peeling bersama ahli dermatologi yang berkualitas. Anda mungkin butuh waktu beberapa hari untuk memulihkan diri (karena efeknya kulit menjadi kering dan menimbulkan serpihan-serpihan), tapi setelah itu kulit terlihat mulus dan berkilau.

Mengonsumsi gula secara berlebihan menimbulkan efek jangka panjang berupa penuaan dini dan jaringan parut pada wajah. Hal ini disebabkan gula melekat pada protein di aliran darah, yang lalu membentuk molekul-molekul baru yang disebut produk akhir glikasi tingkat lanjut (advanced glycation end products, atau AGE). Senyawa ini merusak kolagen dan elastin, yang menyebabkan kulit jadi berkerut dan menggelambir. AGE juga menonatifkan enzim-enzim antioksidan alami, membuat kulit lebih rentan terhadap kerusakan akibat paparan sinar matahari.

Menurut sebuah studi yang diterbitkan di British Journal of Dermatology tahun 2007, efek-efek ini meningkat pada usia 35, dan terus berlangsung dengan cepat seiring bertambahnya usia. Untuk melawan efek konsumsi gula ini, Anda butuh produk-produk antiaging yang mengandung retinoid atau retinol.

Sementara itu, produk gula buatan juga tidak lebih baik. Bahkan bagi kebanyakan orang, gula buatan bisa menimbulkan efek yang lebih buruk.

"(Produk-produk ini) Merupakan bahan kimia murni, dan dapat menyebabkan banyak masalah. Semua jenis bahan yang mengotori sistem akan menyebabkan jerawat lebih banyak," kata Vargas. Pemanis buatan seperti aspartam juga akan menstimulasi nafsu makan sehingga menyebabkan Anda ingin makan karbohidrat lebih banyak.

Jenis karbohidrat kompleks seperti roti dan pasta juga dapat memicu lonjakan kadar gula pada tubuh. Beda halnya dengan kandungan gula pada buah-buahan dan sayuran, yang tidak menyebabkan lonjakan kadar insulin yang tinggi, demikian menurut Dr Frank Lipman, Integrative & Functional Medicine Physician dan pendiri Eleven Eleven Wellness Center. Malahan, buah dan sayur diperkaya dengan enzim-enzim yang menyehatkan sehingga mudah dicerna, dan meningkatkan sistem pencernaan. 

Yang tidak disarankan oleh Dr Lipman adalah jus buah dan buah yang dikeringkan, karena keduanya menyimpan kandungan gula yang tinggi. Untuk menghasilkan kulit yang berkilau, cobalah mengonsumsi jus sayuran setiap hari (tanpa gula, tentunya!). Minum jus sayuran juga menjadi cara termudah dan tercepat untuk mencerna antioksidan yang dibutuhkan kulit.

Penulis :
Felicitas Harmandini
Editor :
Dini
TERKAIT: