Minggu, 21 Desember 2014
Resensi: Pasung Jiwa, Menguak Ketakutan
Senin, 17 Juni 2013 | 07:27 WIB
|
Share:
GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

Pasung Jiwa, karya Okky Madasari.

KOMPAS.com - Membaca buku terbaru dari Okky Madasari ini seperti menelusuri kisah hidup orang-orang yang terjebak dalam diri mereka sendiri. Yang pria membenci dunia macho yang sudah terbentuk di sekitarnya, sementara yang wanita menolak untuk selalu menerima. Pasung Jiwa lalu seperti cermin yang memantulkan wajah kita sendiri.

Ada empat tokoh utama dalam novel ini; Sasana, Jaka Wani, Elis, dan Kalina. Keempatnya punya pertalian dan benang merah yang saling mempertemukan.

Cerita dibuka dengan Sasana dari masa kecilnya, remaja, hingga dewasa. Bagaimana ia terbentuk menjadi sosok yang sudah merasa terperangkap karena terlahir sebagai laki-laki. Dipaksa bermain piano dan musik klasik, sementara ia jatuh cinta dengan musik dangdut. Diperas dan dikeroyok sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuh adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtua, dan semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui serta segala sesuatu yang kulakukan.” Sasana (hal 9).

Lompat ke masa kuliah, Sasana menemukan dirinya sendiri dengan melahirkan sosok Sasa. Memakai daster, berbedak, dan bergincu, bebas menyanyikan lagu dangdut yang ia suka. Tapi itu tak berlangsung lama hingga ia dan Jaka Wani yang menjadi temannya mengamen ditangkap polisi.

Jaka Wani, sosok lain yang terjebak dalam kemiskinan. Menjadi buruh pabrik yang hidup teratur dari Senin sampai Jumat, bekerja dari pagi sampai sore dengan upah yang hanya Rp 90.000 seminggu. Hidup seperti robot, sementara keinginan terdalamnya sebagai seniman tertimbun dalam-dalam. Perjalanan dengan Sasa berakhir, dan mempertemukannya dengan Elis, lalu Kalina.

Elis adalah sosok pelacur yang melayani para buruh pabrik dengan bayaran rendah. Menjadi pelacur katanya bukan karena paksaan, melainkan suatu pilihan, daripada hidup dengan suami yang bajingan. Jika orang pintar bekerja dengan otaknya, dan buruh bekerja dengan tenaganya, maka ia memilih bekerja dengan organ kewanitaan yang ia punya.

Sementara Kalina, ditemukan Jaka Wani ketika sedang berontak dan meronta di hadapan buruh pabrik. Ia protes dipecat karena ia hamil, sementara yang menghamilinya adalah mandor sendiri. Nasibnya hampir sama dengan buruh perempuan lain yang dipaksa melayani permintaan para mandor tanpa bisa mengelak.

Menyoal keberanian
Di antara persoalan konflik batin dan personal yang diusung masing-masing karakter, Okky menyelipkan sedikit tentang nasib buruh perempuan Marsinah yang karena keberaniannya lalu hilang tanpa tahu kelanjutan nasibnya.

Sosok Sasana, Jaka Wani, Elis, dan Kalina lalu juga dihadapkan pada perangkap di luar diri mereka seperti agama, aturan, dan pandangan masyarakat. Sasana tidak bisa menjadi dirinya sendiri, karena laki-laki haruslah jadi laki-laki, tak boleh tidak. Jaka Wani sebagai buruh mesti manut saja pada apa pun yang sudah digariskan, walau tertindas. Elis mesti menerima nasib sebagai perempuan yang tidak punya hak atas tubuhnya, lalu Kalina tak bisa memperjuangkan nasibnya karena keterbatasan yang ada.

Novel ini, seperti tiga novel Okky sebelumnya, sangat kental dengan nuansa protes dan memberi suara pada mereka yang selama ini tidak pernah terdengar. Protes terhadap polisi yang dengan gamblang digambarkan sebagai pelaku kekerasan dan sekaligus dalang di balik kekerasan yang timbul.

Lewat keempat tokohnya, Okky menyiratkan keberanian untuk menguak rasa takut. Melawan, itulah kata-kata yang tepat. Tapi sejauh-jauhnya mereka melawan dari diri sendiri dan juga apa yang ada di sekitar, lagi-lagi mereka terperangkap. Mereka tak sepenuhnya bebas. Atau memang sebenarnya tidak ada kebebasan yang mutlak?

Jika dibawa ke kehidupan nyata, maka keempat sosok ini sebenarnya ada. Karena itu juga novel ini terasa dekat tanpa fantasi dan tanpa bumbu fiksi yang kental. Semua terasa dekat. Tak usah jauh-jauh, di sekeliling kita mereka ada, bahkan sebenarnya ada kita di dalamnya. Jika kita bukan mereka, berarti kita orang yang diam menyaksikan nasib mereka.

Okky seperti membuka mata dan hati pembacanya dengan lebar. Mencoba memahami nasib orang-orang yang selama ini ada tapi tidak terdengar. Mencoba memahami bahwa pemimpin atau mereka yang mengatasnamakan aparat belum tentu benar. Setiap kita mestinya berani menguak rasa takut. Kira-kira begitulah maksud novel Pasung Jiwa.

Judul: Pasung Jiwa
Penulis: Okky Madasari
Tebal: 328 halaman
Terbit: Mei 2013
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama


Penulis :
Rahman Indra
Editor :
Dini
BERITA LAIN: