Kamis, 23 Oktober 2014
La Femme Patisserie: Memasak dengan Cinta
Senin, 17 Juni 2013 | 13:14 WIB
|
Share:
KOMPAS/SRI REJEKI

Anggota komunitas La Femme Pattiserie sedang memasak daging domba dengan arahan Chef Chandra.

KOMPAS.com - Canda dan tawa para anggota La Femme Patisserie (LFP) mewarnai acara memasak daging domba pada Sabtu (1/6/2013) lalu. Meski tangan sibuk meracik bumbu, celoteh riang lebih dari 20 perempuan tak pernah surut memenuhi ruang dapur Ranch Market Pondok Indah, Jakarta.

Seusai menyaksikan Chef Candra beraksi membuat bola daging domba saus yoghurt, tiba giliran para perempuan ini praktik langsung membuat roti goreng isi daging domba. Mereka memasak dengan mengikuti instruksi dari chef.

”Bawang bombay di-chop, diiris-iris. Daging domba diiris dadu,” kata Chef Candra berusaha mengatasi bisingnya dapur pada siang itu.

Tidak lama aroma harum daging domba yang mulai matang menyapa indera penciuman. Sebagian peserta telah mematikan kompornya, sementara Sindya (20) masih mengaduk-aduk terus daging di dalam wajannya. Akibat terlalu banyak menuangkan air, masakannya tidak kunjung matang. ”Sayang, ini kok kenapa banjir begini?” kata seorang peserta yang disambut senyum Sindya.

”Ini pengalaman kedua saya ikut kegiatan komunitas ini, yang pertama memasak kwetiaw di Ranch Market Central Park,” kata Sindya, yang kuliah di jurusan perhotelan.

Belajar, tambah pengalaman
Sindya datang bersama ibunya, Kartika (43), yang sudah bergabung sejak awal kemunculan LFP karena mengenal sang pendiri, Dhani R Satyadharma (46). Kartika menyukai komunitas ini karena bisa menambah pengalamannya memasak dalam suasana yang tidak formal. Sehari-hari ia menerima pesanan kue.

Begitu pula Fani Sadikin (43) dan Turi (43). Sebelum bergabung, Fani sudah memulai usaha rumahan membuat kue dan puding. Semula makanan yang dibuatnya hanya sebatas kue-kue warungan. Pemasarannya sebatas teman-teman arisan atau teman senam selain dititipkan ke warung-warung. Sejak bergabung dengan LFP, pengetahuan Fani bertambah. Sejak bergabung setahun lalu, ia rajin mengikuti kelas memasak yang digelar dua kali sebulan.

Fani juga memanfaatkan LFP untuk tukar pengalaman dan menimba pengetahuan dengan sesama Lafemmers, sebutan bagi anggota LFP. Hasilnya, ia kini memiliki banyak referensi tentang kue. Bukan itu saja, Fani juga memperbaiki kemasan kuenya agar tampak lebih menarik.

Demikian pula Turi. Ia akan mengulang praktik kelas memasaknya di rumah. Jika hasilnya dinilai bagus dan enak, akan dimasukkan ke dalam daftar menu yang ditawarkan kepada pelanggannya.

Jika semula pemasaran hanya dari warung ke warung, kini Fani membuka toko online sehingga pemasarannya semakin luas. Fani mengaku, penghasilannya meningkat tajam dari hasil usaha kue ini. ”Bisa menopang hidup keluarga dan menabung,” ujarnya sumringah.

Dhani R Satyadharma mengungkapkan, niatnya membentuk LFP adalah untuk menyediakan wadah saling berbagi. Ia ingin lebih banyak perempuan terbantu dengan kegiatan kelas memasak yang bertarif murah bahkan gratis. Sebagian besar acaranya bisa gratis karena didukung sponsor. Kalaupun menarik biaya, hanya berkisar Rp 50.000-Rp 100.000 per orang untuk sewa tempat. Terakhir mereka disponsori oleh Meat and Livestock Australia yang tengah gencar mempromosikan daging domba asal Australia. Seusai acara, peserta membawa pulang oleh-oleh produk sponsor.

”Saya merasa biaya kursus masak kok mahal banget. Padahal setelah saya hitung-hitung sebenarnya bisa tidak semahal itu, tetapi tetap efektif karena kami selalu mengundang chef atau orang yang lebih ahli untuk datang berdemo masak dan menuntun praktik,” kata Dhani yang rajin mengikuti kursus masak setelah berhenti bekerja pada tahun 2006.

Lila (45), ibu bekerja yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat, baru sekali ini mengikuti kegiatan LFP. Niatnya adalah untuk menambah pengetahuan dan pengalaman agar masakannya di rumah lebih variatif.

”Kalau kita melakukan sesuatu, termasuk memasak, karena rasa suka, cinta, makanan yang kita hasilkan pasti rasanya akan lain. Ini yang juga mau kita bagi. Motto kami adalah cook and bake with heart. Berbagi dengan hati, memasak dengan cinta,” kata Dhani tersenyum.

Cantik
Dhani memulai komunitas ini dengan membentuk milis yang anggotanya alumni sebuah kursus masak. Nama La Femme Patisserie yang berarti perempuan pembuat kue dipilih karena ia mengagumi kue-kue buatan Perancis yang berpenampilan cantik.

Kopi darat dua tiga orang untuk latihan memasak dan berbagi resep lama-lama diikuti lebih banyak orang. Tahun 2007-2010 ia aktif menggelar aneka kegiatan. Namun, setelah itu Dhani vakum karena sibuk mengurusi kedua anaknya yang sedang butuh perhatian besar. Setelah kedua anaknya kuliah, Dhani kembali menghidupkan komunitasnya pada tahun 2012 hingga kini.

Grup La Femme Patisserie di Facebook kini diikuti lebih dari 2.000 anggota. Obrolan di grup ini tentang resep dan foto makanan yang diiringi pertanyaan tips dan trik memasak agar hasilnya bagus. Peserta aktif kelas memasak LFP di Jakarta mencapai 50-60 orang, di Surabaya 20 orang. Lokasi kelas memasak berpindah-pindah demi mendekatkan pada tempat tinggal anggota. Pertengahan bulan Juni ini LFP menggelar wisata kuliner ke Bandung. Mereka akan belajar delapan resep kue kepada Ny Liem dan mengunjungi toko perlengkapan kue termurah di sana.

Mimpi Dhani kini LFP memiliki kafe dan toko kue yang dipakai bersama oleh anggota. Kue-kue yang dijual adalah buatan anggota yang berpartisipasi secara bergiliran. Kafe ini sekaligus diharapkan bisa sebagai tempat kumpul, tempat kursus, atau kelas memasak dengan pengajar anggota yang lebih ahli atau koki undangan.

(Sri Rejeki)

 


Editor :
Dini
BERITA LAIN: