Rabu, 3 September 2014
Lari 10K, Tantangan untuk Pribadi Pantang Menyerah
Minggu, 23 Juni 2013 | 17:31 WIB
|
Share:
DOK. NESTLE MILO

Nestle Milo menantang tiga orang mewakili kalangan urban yang sibuk dan tak sempat berolahraga untuk mengikuti lari 10K. Mereka adalah perencana keuangan Ligwina Hananto, arsitek dan Regional Technical Manager Milly Ratudian P, serta Associate VP Marketing Edho Alhabasya.

KOMPAS.com - Lari jalan raya 10 kilometer (10K) bisa dilakukan siapa saja. Tak harus atlet atau mereka yang terbiasa berolahraga. Mereka yang tak terbiasa berolahraga juga bisa melakukannya sekaligus menjawab tantangan untuk diri sendiri agar tak mudah menyerah. Namun memang, lari 10K butuh persiapan matang tak bisa dilakukan secara spontan apalagi bagi pemula atau mereka yang tak pernah berolahraga.

Memeriahkan HUT Jakarta ke 486 dan melanjutkan dukungannya terhadap kegiatan "Jakarta International 10K" prakarsa Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah provinsi DKI Jakarta, Nestle Milo kembali menantang berbagai kalangan untuk turut serta mengikuti lari 10K.

"Kegiatan ini mengajak semua orang untuk menyadari gaya hidup sehat. Bagi yang tidak pernah atau jarang olahraga bisa kok lari 10K. Ini kami buktikan dengan menunjuk tiga orang merepresentasikan kalangan urban yang umumnya sibuk beraktivitas, merasa sulit mencari waktu berolahraga, atau mengaku tak punya waktu berolahraga," jelas Brand Manager Nestlé MILO Dani Oktobianto kepada Kompas Female seusai lomba lari "Jakarta International 10K 2013" di Silang Monas Barat Daya, Jakarta, Minggu (23/6/2013).

Tiga orang yang mendapatkan tantangan ini adalah perencana keuangan Ligwina Hananto, arsitek dan Regional Technical Manager Milly Ratudian P, serta Associate VP Marketing Edho Alhabasya.

Ligwina, Edho dan Milly membuktikan dengan semangat pantang menyerah, juga komitmen untuk menjawab tantangan lari 10K. Mereka menjadi bagian dari 35.000 peserta lomba lari jalan raya 10 kilometer yang dimulai sejak pukul 6:30 dan berakhir pukul 10:00.

Ketiganya membuktikan, dengan persiapan matang juga komitmen dan semangat serta kepercayaan diri, mereka bisa memotivasi diri untuk menyelesaikan perlombaan. Berkompetisi dengan pelari profesional juga masyarakat umum termasuk kalangan muda (pelajar). Meski waktu tempuh berbeda jauh dengan pemenang lomba asal Kenya, setidaknya semangat pantang menyerah berlari menyelesaikan lomba memberikan inspirasi bagi siapa saja yang ingin hidup sehat dengan berolahraga.

"Komitmen bukan hanya saat berlari 10K tapi saat harus rutin berlatih mempersiapkan diri menjelang lomba," tambah Dani.

Ligwina, Edho, dan Milly dilatih intensif oleh mantan pemegang rekor nasional lari marathon tahun 1986, Gatot, dan pelatih M Adri Roesad, didampingi ahli nutrisi Nestle Indonesia, Chairunita. Latihan berlangsung selama dua bulan, berisi pemanasan berupa senam, lari, dan diakhiri dengan pendinginan dengan durasi latihan 1,5-2 jam.

Menurut Dani, pola latihan ini secara umum bisa dilakukan siapa saja yang ingin menantang dirinya lari 10K. Namun, tentu ada penyesuaian untuk beberapa orang yang memiliki kebutuhan khusus, misalnya mereka yang pernah cedera.

Meski persiapan turut menentukan keberhasilan menjawab tantangan lari 10K, komitmen dan semangat tak kalah pentingnya. Berlari memiliki banyak nilai dan manfaat. Dengan menjalani olahraga ini, Dani mengatakan banyak nilai dan manfaat yang bisa didapat juga banyak karakter yang bisa dilatih oleh setiap pribadi.

"Tidak hanya hidup sehat, lari punya banyak nilai seperti pantang menyerah, kerja keras dan komitmen. Nilai yang juga bisa didapatkan dari olahraga lari di antaranya mengalahkan diri sendiri untuk bisa menyelesaikan long run atau marathon. Mengalahkan diri merupakan ujung dari komitmen," tandasnya.

 


Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
wawa
BERITA LAIN: