Jumat, 31 Oktober 2014
12 Menit, Menularkan Semangat Marching Band Bontang
Kamis, 27 Juni 2013 | 12:07 WIB
|
Share:
KOMPAS.COM/WARDAH FAJRI

Oka Aurora, penulis skenario film dan novel berjudul 12 Menit.
KOMPAS.COM/WARDAH FAJRI Oka Aurora, penulis skenario film dan novel berjudul 12 Menit.
KOMPAS.com - Anak butuh role model untuk menyerap nilai kebersamaan, kedisiplinan, juga semangat pantang menyerah. Melalui novel dan film layar lebar berjudul 12 Menit, anak-anak hingga orangtua bisa menyelami pengalaman grup marching band asal Bontang, Kalimantan Timur, dalam mencapai impian melalui kerja sama tim yang solid, juga perjuangan individual yang memberikan banyak pesan positif.

Novel dan film ini tak muncul bersamaan, namun berangkat dari impian yang sama dan membawa pesan seirama. Film 12 Menit untuk Selamanya masih dalam proses produksi, rencananya tayang di bioskop pada 29 Agustus 2013. Sementara novel 12 Menit lebih dahulu terbit, dengan peluncuran resminya berlangsung Rabu, 26 Juni 2013 di Jakarta.

"Awalnya membuat film tentang marching band untuk memajukan marching band di Indonesia, juga sebagai role model, agar semangat anak-anak Bontang bisa menyemangati anak lain, menularkan semangat. Namun tak semua anak bisa mendapatkan akses film, terutama di daerah yang tidak ada bioskop. Di Bontang sendiri tidak ada bioskop. Melalui novel, harapannya semangat ini bisa menular ke anak-anak di berbagai daerah," jelas Regina Septapi, produser film 12 Menit untuk Selamanya, saat talkshow di Torino Cafe, Jakarta, Rabu (26/6/2013).

Menularkan semangat
Film dan novel tentang perjuangan tim marching band juga individu yang tergabung di dalamnya ini, bukan semata ditujukan kepada komunitas marching band di Indonesia. Justru hadirnya film dan novel 12 Menit ini ingin menularkan semangat anak-anak yang berlatih marching band selama ribuan jam, berbulan-bulan hingga 1-2 tahun, untuk tampil bersama dalam sebuah pertunjukkan megah dengan durasi 12 menit saja.

Banyak pesan moral juga pembangunan karakter positif yang bisa didapatkan seseorang dengan menjadi bagian tim marching band. Film dan novel ini memberikan gambarannya.

Tak hanya itu, film dan novel 12 Menit juga menceritakan berbagai tantangan yang dihadapi anak untuk mencapai impiannya. Dalam film, dikisahkan tokoh Elaine, anak pemain biola yang pindah ke Bontang dan beralih menjadi pemain marching band. Juga tentang Tara yang berusaha menguasai nada-nada snare drum meski memiliki keterbatasan pendengaran. Lalu tentang Rene sang pelatih yang berkomitmen membawa timnya menjadi juara meski hanya berasal dari kota di pelosok negeri. Tampil dalam film sejumlah aktris papan atas seperti Olga Lidya, Titi Rajo Bintang, dan pendatang baru Amanda Sutanto pemeran Elaine.

Kisah-kisah ini diangkat lebih mendalam di novel karya Oka Aurora. Oka yang juga penulis skenario film, mengembangkan cerita di skenario menjadi cerita yang sama dengan karakter berbeda dalam penulisan novel.

Melalui dua media berbeda, skenario film dan novel, Oka Marching mengangkat kisah yang terinspirasi dari marching band asal Bontang. Marching band asal Bontang merupakan satu-satunya grup dari daerah yang berhasil merebut gelar juara umum nasional pada Grand Prix Marching Band tahun 1994.

Kemenangan grup asal Bontang ini membuktikan bagaimana anak daerah bisa berprestasi dalam kebersamaan, dan memiliki semangat pantang menyerah yang tinggi. Keberhasilan ini juga sekaligus menepis mitos yang berkembang bahwa juara hanya menjadi milik tim marching band Jakarta.

Hingga 2011, Marching Band Bontang PKT (binaan Pupuk Kaltim) meraih juara umum 10 kali.  Selain meraih penghargaan internasional yakni Sudler Shield Award dari World Assosiation of Marching Show Bands (1998) dan Band of the Year dari World Association of Marching Show Bands (2001).

Regina menambahkan, "Film dan novel berjudul 12 Menit ini ingin memberikan inspirasi ke anak muda, bahwa dalam 12 menit jika kita bisa berbuat sesuatu dari hati akan terbawa selamanya. Lakukan yang terbaik dalam 12 menit dalam hidup, seperti para pemain marching band yang berjuang dalam latihan untuk tampil maksimal dalam 12 menit dalam pertunjukkan atau perlombaan."

Lisa Ayodhia, Ketua Yayasan Grand Prix Marching Band mengatakan, setiap grup marching band hanya boleh tampil 10-12 menit, tidak boleh lebih. Dengan latihan berbulan-bulan bahkan tahunan, pertunjukkan marching band hanya berlangsung maksimal 12 menit. Ini mengajarkan banyak hal kepada pemain marching band, terutama kedisiplinan.

Pesan positif dan role model terinspirasi dari marching band Bontang inilah yang ingin disebarluaskan kepada keluarga Indonesia. Regina mengatakan rencananya film ini akan dibawa keliling daerah.

Lisa menambahkan, untuk menjangkau sebanyak mungkin orang di berbagai daerah, pihaknya merencanakan roadshow film di 20 kota.

"Sudah kami tawarkan ke kementerian pendidikan dan kebudayaan, untuk mengadakan bioskop keliling ke 20 daerah terpencil, terutama daerah yang tidak memiliki bioskop, seperti di Bontang," tandasnya.






Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
Wawa
BERITA LAIN: