Sabtu, 20 Desember 2014
Manfaat Lain Main Layang-layang
Selasa, 16 Juli 2013 | 14:38 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/Krismas Wahyu Utami

Bekerja sama dalam membuat layangan
KOMPAS.com/Krismas Wahyu Utami Bekerja sama dalam membuat layangan

KOMPAS.com - Bermain, baik di rumah atau di luar, akan mendorong kreativitas anak-anak. Contohnya, hanya dengan bermain layang-layang, anak akan mengambil banyak manfaat dari situ.

Untuk melanjutkan komitmen dalam membawa kembali konsep “bermain” yang menekankan pada gerak fisik, sosialisasi (dilakukan bersama), outdoor, dan kreativitas, Tango Waffle kembali mengadakan Tango Wafle Play Day 2, bertemakan “Ngabuburit Sambil Main Layangan, Yuk!”, di Theater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (13/7/2013) lalu.

Budayawan JJ Rizal menceritakan bagaimana seluk-beluk lahirnya layang-layang, yang selama ini diketahui berasal dari Cina. Namun berdasarkan studi dan penemuan terbaru, layang-layang sebenarnya merupakan produk asli Nusantara, Indonesia.

“Ada penemuan dari penelitian terbaru bahwa layang-layang sebenarnya berasal dari pulau Puna, Sulawesi Selatan. Di sebuah gua ditemukan lukisan purna dengan gambar orang-orang yang sedang bermain layang-layang. Dan layangan dulu terbuat dari daun gadung,” ujar Bang JJ, sapaan akrabnya.

Ternyata memang begitu banyak pengetahuan sejarah yang belum diketahui banyak orang, terutama anak-anak, salah satunya mengenai layangan yang sering mereka mainkan. Menurut Bang JJ, layangan di Indonesia tidak hanya dianggap sebagai permainan, tapi juga sebagai tradisi.

Di beberapa daerah Nusantara, layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu, biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian,” ceritanya.

Dalam budaya Betawi, layang-layang dimainkan dari generasi ke generasi, dari ayah ke anak. Layang-layang mengajarkan kerja keras dan kreativitas. Ketika si anak harus menerbangkannya, dibutuhkan keahlian dalam menaikkannya, dan upaya ini kental akan nilai kerjasama.

“Ternyata permainan ini sarat dengan makna, terbukti dengan banyaknya filosofi dan nilai-nilai yang terkandung dalam layangan,” ujar Yuna Eka Kristina, Head of Corporate and Marketing Communications OrangTua Group.

Karena adanya filosofi yang bisa diajarkan ke anak melalui permainan layang-layang itulah, Tango Wafle berkomitmen untuk menetapkan setiap hari Sabtu pada minggu kedua setiap bulan sebagai hari bermain. Layang-layang pun diangkat untuk kembali dipopulerkan di kalangan anak-anak.


Untuk makin merekatkan hubungan keluarga, Anda dapat membuat layangan sendiri di rumah bersama anak, dan mewujudkan nilai-nilai yang melekat pada permainan layangan.


Penulis :
K. WAHYU UTAMI
Editor :
Felicitas Harmandini
BERITA LAIN: