Sabtu, 1 November 2014
Bila Penghasilan Istri Lebih Besar dari Suami
Kamis, 5 September 2013 | 10:55 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Jika ingin menjadi karyawan yang diperhitungkan, ikuti rumus REACH.
SHUTTERSTOCK Jika ingin menjadi karyawan yang diperhitungkan, ikuti rumus REACH.

Kompas.com - Kesenjangan penghasilan antara suami dan istri, terutama jika penghasilan istri lebih besar, bisa menjadi "duri" dalam kehidupan perkawinan. Jembatani dengan melakukan berbagai kompromi.

Laki-laki yang memegang teguh nilai maskulinitas tradisional umumnya akan merasa tidak nyaman dan terancam jika istri lebih sukses dari dirinya.

"Karena merasa direndahkan, banyak suami yang balik merendahkan istrinya. Misalnya dengan tidak memberikan uang belanja ke istri dengan alasan istri sudah bekerja dan punya penghasilan lebih tinggi," kata Psikolog Anna Surti Ariani, dari Medicare Clinic Jakarta ketika dihubungi Kompas Female.

Namun menurut Nina yang paling sering terjadi adalah suami menghambat kemajuan istri, misalnya menuntu istri untuk selalu pulang cepat.

"Kekerasan dalam rumah tangga juga bisa diawali dari kesenjangan penghasilan. Bentuk kekerasannya tidak harus fisik tapi juga verbal," paparnya.

Sebagai wanita yang berada di posisi lebih unggul dari suami, Anda bisa berbuat banyak untuk menjembatani komunikasi dengan suami sehingga konflik tersebut tidak melebar.

"Komunikasikan secara detail dan spesifik apa saja yang mengganggu pasangan jika penghasilan kita lebih tinggi. Mungkin juga suami khawatir jika jabatan istri lebih tinggi nanti lebih sering pulang malam karena beban pekerjaan meningkat, atau istri menjadi sok-sokan," tutur Nina.

Membicarakan dengan spesifik apa yang menjadi keberatan pasangan akan membantu untuk mencari solusi yang lebih spesifik pula. Dengan demikian kedua pihak merasa terpenuhi kebutuhannya.

"Kalau tidak spesifik tidak akan bisa menjawab kebutuhan, akibatnya tidak puas satu sama lain sehingga kepuasan perkawinan pun menjadi rendah," imbuhnya.

Selain itu, meski penghasilan lebih besar istri seharusnya juga dapat menjaga sikapnya sehingga suami merasa dihargai dan dibutuhkan. Dengan demikian kesenjangan penghasilan tidak akan memengaruhi kedudukan suami sebagai kepala keluarga.

Nina menambahkan, idealnya sebelum menikah kedua belah pihak sudah mengetahui apa yang diinginkan masing-masing untuk masa depannya. Misalnya membicarakan apa rencana karier di masa datang.

"Pria juga bisa mengatakan kepada calon istrinya jika ia tidak mengharapkan istri memiliki penghasilan lebih besar. Paling tidak semua dibicarakan sejak awal," katanya.

Lantas, bagaimana dengan pasangan yang tidak mau berpacaran dulu sebelum menikah? Nina menyarankan agar perlu dilakukan adaptasi berdua. "Akan lebih enak kalau dibicarakan keinginan dan harapannya," pungkasnya.

Editor :
Lusia Kus Anna
BERITA LAIN: