Sabtu, 25 Februari 2017

Female

Psikolog Sebut Anak Konglomerat Tidak Selalu Hidup Bahagia

SHUTTERSTOCK Ilustrasi

KOMPAS.com – Tahukah Anda bahwa yang paling menyenangnkan adalah bukan menjadi orang kaya, tetapi menjadi anak dari orangtua yang kaya raya.

Namun, menurut David Puttnam, seorang produser dan edukator, terlahir dengan keluarga super kaya raya dengan segalanya selalu tersedia bisa berakibat buruk pada kestabilan emosional.

Dia menambahkan bahwa emosional yang tidak stabil lebih banyak terlihat pada anak-anak dari keluarga kaya raya, ketimbang anak keluarga miskin.

Puttnam mengatakan pada Nicholas Hellen kepada Sunday Times, pikiran yang salah adalah rasa percaya diri rendah dan pesimistis banyak terjadi pada lingkungan sosial miskin.

Sebab, menurut dia, masalah gangguan emosional jumlahnya paling tinggi terjadi pada lingkungan sosial yang supermapan.

“Anda periksa dan catat data dari sejumlah sekolah privat mahal dan universitas paling bergengsi. Anda akan mendengar dan melihat bahwa masalah gangguan masalah mental yang terus bergulir di sana,” ujar Puttman.

Pernyataan serupa juga dikonfirmasi oleh Suniya Luthar, seorang profesor psikolog, mengatakan bahwa anak dari orangtua dengan penghasilan minimal 100.000 poundsterling  atau setara dengan Rp 1,7 miliar berpotensi merasa kesepian dan tidak stabil secara emosional.

Luthar menguraikan, kondisi itu bisa terjadi karena tekanan sosial untuk anak-anak ini menjadi lebih sukses dari orangtua mereka.

Selain itu, kurang perhatian dan arahan dalam fase tumbuh kembang memengaruhi mentalitas serta rasa percaya diri anak-anak kaya raya.

Kehadiran media sosial, kata Puttnam, menjadi outlet untuk para anak-anak orang kaya untuk mencari perhatian dari orang lain.

“Kurangnya empati dari orangtua yang tidak tertarik pada kehidupan anak-anaknya menyebabkan mereka semakin berlebihan pada media sosial,” pungkas Puttnam.

Penulis: Kontributor Female, Rakhma
Editor : Syafrina Syaaf
Sumber: Daily Mail,
TAG: