
KOMPAS.com - Makin banyaknya restoran baru di mal-mal baru disambut gembira oleh para penikmat makanan. Semakin banyak makanan baru, tentu makin banyak pilihan makanan yang bisa dinikmati. Apalagi bila acara makan ini kita lakukan sambil bersosialisasi, karena ada teman yang ulang tahun, teman yang baru datang dari luar kota, atau teman yang sudah lama tidak bertemu. Akan makin seru bila kita juga saling mencicipi makanan milik teman.
Namun sadarkah Anda, bahwa makanan yang disajikan di restoran-restoran atau kafe ini jauh dari kata sehat? Kandungan bahan makanan maupun cara memasak berbagai hidangan yang disajikan hanya akan memanjakan lidah para penikmatnya. Boleh dikatakan, pola makan yang memanjakan lidah ini yang memicu terjadi obesitas. Dr. David A. Kessler, mantan kepala Food and Drug Administration, dalam bukunya, The End of Overeating: Taking Control of the Insatiable American Appetite (2009), membeberkan bagaimana industri makanan mendorong konsumennya untuk makan berlebihan.
Terlalu banyak gula, lemak, dan garam
Kebanyakan makanan yang disajikan di restoran mengkombinasikan gula, lemak, dan garam. Sebagian menjadi bahan utama (seperti daging, sayuran, kentang, atau roti), atau ditaburkan di bagian atasnya. Misalnya, sayap ayam. Bagian paling berlemak dari ayam ini digoreng secara deep-fry yang tentunya menyerap banyak minyak. Kemudian disajikan dengan saus krim atau saus tomat manis yang tentunya juga mengandung banyak garam. Atau baked potato, dimana kentangnya dibelah, sementara kulitnya digoreng, yang memungkinkan bagian permukaannya mengambil lemak. Kemudian sejumlah potongan bacon, sour cream, dan keju ditaburkan di atas kentang.
Makanan yang mudah dikunyah
Teknik pemrosesan makanan yang modern memungkinkan kita untuk makan lebih cepat, dan mengonsumsi lebih banyak kalori. Kita tidak menyadari hal ini, karena makanan yang langsung lumer di mulut memang terasa lebih yummy. Teknik pemrosesan makanan yang diaplikasikan oleh berbagai restoran dan pembuat makanan menciptakan "makanan bayi yang dikonsumsi orang dewasa". Bagian-bagian yang sulit dikunyah, seperti serat dan tulang muda, dipisahkan dari makanan. Padahal kita tahu, serat diperlukan untuk membantu metabolisme tubuh. Hasilnya adalah makanan seperti chicken nugget, atau saus tartar.
Makanan untuk sosialisasi
Industri makanan memperhatikan beberapa hal untuk menonjolkan daya tarik makanan, termasuk kalori, cita rasa, dan kemudahan menikmatinya. Karena itu ada makanan-makanan yang dikategorikan "fun food", yang bisa dinikmati saat ngobrol bersama teman-teman, atau menonton TV. Makanan ini dilengkapi dengan beragam saus atau bahan cocolan untuk menambah kenikmatan. Milkshake dan candy bar termasuk yang menstimulasi nafsu makan dan mendorong kita untuk makan lebih banyak meskipun sudah kenyang. Makanan-makanan ini memiliki beberapa lapis gula, lemak, dan garam dalam jumlah besar, untuk mengkondisikan otak "membimbing" kita untuk tidak segera puas, namun menginginkannya lebih banyak.
Mitos ayam panggang yang sehat
Ayam yang direndam bumbu lalu dipanggang, selama ini dianggap lebih sehat. Tetapi benarkah? Cara yang umum untuk merendam daging ke dalam bumbu adalah melalui injeksi. Ratusan jarum digunakan untuk menusuk daging, merobek jaringan atau urat-uratnya, menambahkan garam, gula, dan lemak. Injeksi ini tidak hanya meningkatkan cita rasa, tetapi juga membuat daging terasa lebih empuk dan lumer begitu dimasukkan ke mulut.
Gula dalam banyak nama
Jika ada makanan yang mengandung lebih banyak gula daripada bahan yang lain, badan pengawas makanan biasanya akan meminta agar gula diletakkan pada urutan pertama pada label kemasan. Namun untuk mengelabui ibu-ibu yang sudah sadar kesehatan, para pembuat makanan menyembunyikan jumlah kadar gula dengan mendaftarkannya sebagai sumber bahan lain secara terpisah. Produk sereal untuk sarapan, misalnya, sering memasukkan beberapa kombinasi gula, brown sugar, fruktosa, gula jagung tinggi fruktosa, madu, dan tetes tebu. Kesannya berbeda-beda, padahal semua itu masuk golongan gula.