Yang tak kalah pentingnya adalah masalah pendapatan.
Selasa, 15/9/2009 | 15:58 WIB

KOMPAS.com - Banyak pasangan yang ingin segera menikah, namun keputusan untuk mengikat diri dalam perkawinan itu seringkali tidak dilandasi dengan pemikiran yang matang. Padahal, membangun keluarga yang solid bukanlah hal yang mudah. Banyak pasangan tidak menyadari bahwa menyatukan dua individu yang berbeda kepribadian dan latar belakang memerlukan kerja keras dan waktu yang lama.

Menurut Prof. DR. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, diperlukan ilmu khusus untuk membangun keluarga yang tangguh.

"Yang pertama adalah, suami-istri harus diikat dengan iman. Dengan begitu tanggung jawab bukan hanya pada pasangan, tetapi juga pada Tuhan," papar Komarrudin, di sela-sela workshop pranikah dan parenting di Jakarta, Selasa (15/9).

Konsep saling berbagi di dalam keluarga tidak cukup hanya dilihat dari materi semata. Pasangan harus mempunyai kecerdasan emosi untuk memiliki sikap saling percaya dan berempati satu sama lain. Kecerdasan emosi bisa diperoleh asalkan kedua pasangan terus belajar saling memahami. Bila hal ini sudah cukup terasah, rasa percaya dan empati tersebut akan muncul dengan sendirinya. 

Hal penting yang perlu diketahui pasangan, kehidupan rumah tangga juga harus selalu dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang. Kita tidak bisa hanya mengandalkan cinta yang kita rasakan saat pertama kali bertemu dengan pasangan, karena perasaan berbunga-bunga ini akan segera pupus. Cinta harus selalu dipupuk dan disirami. Jika rasa sayang dan cinta tersebut diabaikan, pasangan akan mengalami akibat buruknya, seperti perselisihan yang terus terjadi.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah masalah pendapatan. Bagaimana pun juga, pasangan hidup di dunia nyata, dimana semua kebutuhan rumah tangga harus dipenuhi. "Cinta dan iman juga harus dilengkapi dengan income. Meskipun begitu, pendapatan jangan dijadikan fokus," tukas Komarrudin.

Ia juga berpendapat, tidak menjadi masalah jika pendapatan istri lebih besar dari suami. Komarrudin mencontohkan, pendapatan Nabi Muhammad SAW lebih kecil dari pada penghasilan Siti Khadijah, istrinya. Namun Siti Khadijah tetap dapat menghormati suaminya. "Pendapatan istri boleh saja lebih besar, namun suami harus lebih kaya hati dari istri," ujarnya.

Dikatakannya, setiap pasangan harus mempunyai benteng yang kuat agar tidak mudah tergoda dengan hal-hal yang dapat merusak rumah tangga. Jika merasa benteng yang dimiliki tidak cukup kuat, maka sebaiknya hindari semua godaan tersebut.

"Jangan mendekati godaan kalau tidak dapat melawannya, jauhi saja," saran dia.

Jadi, siapkah Anda menikah?


RDI
Share on Facebook
Nilai 4 A A A
rie @ Selasa, 29 Desember 2009 | 13:29 WIB
Insya Allah siap...:)
asfie @ Rabu, 16 Desember 2009 | 12:15 WIB
soLidnya sbuah Rmh tangga tergantung dr Telatennya seorang Istri dan Bertanggung jawabnya Seorang Suami,,,
Lawe @ Jumat, 6 November 2009 | 09:35 WIB
Alhamdulillah saya menikah 16 tahun yang lalu. Awalnya kami menikah berdasarkan cinta walau kurang direstui pihak keluarga isteri. Namun sekarang yang terjadi isteri lebih mementingkan keluarga besarnya daripada perhatiaan kepada suaminya. Saat ini saya lagi diklat di Luar Negeri selama 3 bulan, entah apa yang terjadi dengan perkawinan saya sepiuang dari Luar Negeri. Yang terjadi terjadilah Tuhan Maha Kuasa Atas Hambanya.
amy @ Senin, 21 September 2009 | 15:14 WIB
spt nakodah yg berlayar. tak mudah melewati derasnya gelombang lautan. liku2 RT mmg ad saja. harta, tahta, kedudukan atau perempuan adalah godaan yg hrs dihadapi dlm RT. slh 1'y pasti jdi pemicu retak'y RT.
indana atfaini @ Rabu, 16 September 2009 | 08:14 WIB
saya sudah menikah 15 tahun, memang benar tidak gampang membangun RT yg solid .. iman, cinta ,pendapatan dan pengertian adalah 4 hal pokok yg hrs selalu kita pegang teguh .. dg berbekal ke 4 itu erat biduk rumah tangga kita insya Alloh akan bisa melewati segala rintangan n hambatan ...
12 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.