Silang Asa, Silang Budaya di JFW 09/10
Sebastian Gunawan, dengan koleksi Tilakkhana, diperagakan dalam acara gala dinner charity, Jakarta Fashion Week 2009/2010, Pacific Place, (14/11)
Senin, 16/11/2009 | 12:54 WIB

KOMPAS.com - Di balik keglamorannya, Jakarta Fashion Week 2009-2010 (JFW 09/10) juga menyimpan misi tersendiri yang lebih dari sekadar peragaan busana. Hal ini dibuktikan pada malam pembukaan JFW 09/10 yang berlangsung pada hari Sabtu (14/11), di Pacific Place. Pada malam tersebut, JFW 09/10 menggawangi sebuah pagelaran busana tertutup dalam rangka pengumpulan dana untuk korban gempa di Sumatera Barat. Acara yang dikemas dalam bentuk gala dinner ini juga ditujukan untuk mempererat hubungan dunia mode India-Indonesia.

Diberi tajuk “A Tale of Two Cultures”, acara gala dinner untuk amal ini dibuat eksklusif. Dalam acara ini, JFW menunjuk 4 orang desainer (2 dari Indonesia dan 2 dari India) untuk memeragakan hasil rancangan mereka menggunakan kain dari negeri yang berlawanan. Adalah Sebastian Gunawan dan Priyo Oktaviano yang menjadi desainer Indonesia terpilih untuk melakukan rancangan silang budaya ini. Sementara dari India, Tarun Tahiliani dan Malini Ramani menjadi perwakilan terpilih untuk unjuk kebolehan mereka. Keempat desainer ini memperoleh kesempatan untuk menggali kekayaan kain dan busana negara tujuannya sejak bulan Juni yang lalu.

Dalam kariernya, nama Sebastian Gunawan sebagai perancang tak perlu diragukan lagi. Pengalamannya selama lebih dari 20 tahun malang melintang dimulai ketika ia menempuh pendidikan di Instituto Artistico dell’ Abbigliamento Marangoni di Milan, Italia. Sementara Priyo Oktaviano, termasuk perancang muda berbakat yang sudah menunjukkan kegemilangannya sejak awal 90-an, bahkan sempat magang di House of Balenciaga. Sementara Tarun Tahiliani, adalah desainer senior asal India yang mengecap pendidikan di Fashion Institute of Technology di New York, dan sudah membuka butik pertamanya sejak tahun 1987. Malini Ramani, yang juga lulusan dari universitas yang sama dengan Tarun, merupakan desainer muda yang memulai debutnya pada tahun 2000. Ia memiliki antologi desain Rock Star Meets Indian Princess.

Membuka pagelaran busana di gala dinner, Sebastian Gunawan memberi judul kreasinya, Tilakkhana. Kepada Kompas.com, Sebastian bercerita bahwa judul tersebut berasal dari ajaran Buddha. Tilakkhana mewakili 3 fase kehidupan; kelahiran, berkembang, dan berubah. Ketika hidup dimulai, segalanya masih berupa sebuah misteri, karenanya ia menggunakan warna hitam pada awal rancangan yang ia peragakan malam itu. Namun kemudian, masuklah fase kehidupan yang berkembang, ditandai dengan adanya warna-warni dalam pakaian. Kemudian pada akhirnya, hidup yang berubah ditandai dengan aplikasi bunga-bunga pada kreasinya. Sebastian  mengatakan bahwa untuk koleksinya malam itu, ia memang berusaha untuk bisa menggali lebih dalam tentang kain di India.

“Saya tidak mau hanya menggunakan sari, karena sudah terlalu common (biasa). Saya mau angkat sesuatu yang berbeda. Karena, di India, sama seperti Indonesia, punya banyak kain cantik lainnya yang belum terekspos,” terang Sebastian. Ia menyatakan bahwa kreasi-kreasinya terinspirasi dari selendang pashmina yang banyak digunakan wanita India. Koleksinya  menggunakan pashmina yang dibuat dengan teknik kashidah. Teknik kashidah ini tergolong sulit, karena terbuat dari semacam alat tenun bukan mesin (atbm), dan merupakan kerajinan rumahan. Ia mengakui banyak menemukan kendala ketika harus menggunakan lebih dari 2 selendang. Tak jarang ia harus merombak ulang desain karena jika harus menggunakan 2 selendang, seringkali ditemukan ada perbedaan warna meski motifnya sama. Untuk menciptakan 16 rancangan ini, Seba membutuhkan 3 bulan, 28 potong pashmina bermotif, dan 20 pashmina polos.

Sementara Priyo Oktaviano memilih untuk mengulik Kantha, sari sutera satin dengan bordiran motif burung dari daerah Bengal, India. Dalam koleksinya yang berjumlah 18 set, Priyo mengangkat tema Eden & Earth. Sebuah peragaan kecil dengan tema yang berkonsep cukup berat, mencerminkan keseriusan Priyo dalam menggarap proyek ini. Ia menampilkan rancangan dalam dua babak. Untuk Eden, Priyo banyak menggunakan warna-warna nude, yang menggambarkan indah dan damainya dunia dulu yang masih murni. Dalam babak ini, ia menggambarkan kecintaan masyarakat India dengan kain lilit. Banyak rancangan kain yang dililit pada bagian atas tubuh, bermotif alam, dan kain serupa jarik. Sementara dalam koleksi Earth, Priyo memperlihatkan kepiawaiannya mencipta koleksi maksimalis dan keras, yang menjadi cerminan masalah kompleks manusia akibat dosa dan perbuatan buruknya. Warna-warna hitam pekat, dipertegas dengan aksesoris metal, dan tata rias tribal.

Malini Ramani, menggunakan tema rancang Tribal Chic. Melalui rilis kepada media, Malini mengakui ketika dibekali kain-kain asal Indonesia, pada awalnya ia merasakan kesulitan untuk menggabungkan dengan ciri khas rancangannya. Namun kemudian ia menemukan cara untuk menggabungkan ciri khasnya dengan kain batik Indonesia lewat teknik sulam dengan kaca, biji-bijian, threadwork, sequin, applique (tambalan kain), dan lainnya. Malini banyak menggunakan bahan batik dari Allure yang ia berikan tambahan biji-bijian dan sequin, dan ia buat dengan siluet feminin. Sesuai temanya, Tribal, Malini banyak menggunakan “rasa” tribal, dengan siluet-siluet kaftan, rok, jumpsuit, jaket, bahkan gaya pengantin India, Lehenga (rok menutupi mata kaki, atasan berlengan, namun masih memeragakan perut, dan selendang).

Tarun Tahiliani, desainer senior ini terlihat banyak menggunakan kain batik dari Allure. Kepada Kompas.com ia menyatakan bahwa rancangannya memang ingin memadukan kain dari Indonesia, dengan sedikit cita rasa India. Hasilnya, bahan batik dari Allure yang khas, dibuat dengan desain ala Sari khas India, lengkap dengan warna-warninya. Sesekali terlihat kain songket yang digunakan dalam rancangannya di sana-sini.

Dalam peragaan ini, masing-masing perancang memang mengemban amanat yang cukup berat untuk bisa menjalankan tugasnya ini. Masing-masing perancang harus bisa menggali budaya asing lebih mendalam untuk mencipta busana. Keempatnya diberi kepercayaan untuk mengulik budaya asing, dan kemudian mengangkatnya, tanpa menyinggung pihak mana pun. Bukan tugas yang mudah. Tentunya akan ada pro dan kontra jika terjadi kesalahan atau ketidaksempurnaan penggarapan.

Mengomentari peragaan busana tersebut, Ali Charisma, salah seorang perancang Indonesia yang sudah malang melintang dan sudah berkiprah lama di ranah fashion internasional menilai, “Saya menilai konsep acara kemarin malam, untuk memadukan 2 budaya amat baik. Tapi, menurut saya, desainer yang dari India nampaknya belum bisa mengimbangi desainer dari Indonesia. Kelas keduanya masih jauh dibanding Sebastian dan Priyo. Dari konsep, siluet, pemilihan bahan, dan detail, belum bisa mengimbangi. Sebenarnya masih banyak desainer India yang muda dan bagus. Tapi usaha untuk melakukan kegiatan ini sudah amat baik. Mudah-mudahan di ajang ke depannya, akan lebih baik.”


NAD
Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.