Berbagai Risiko Pacaran di Usia Belia
Pacaran di usia remaja mengarah pada kekerasan seksual.
Rabu, 10/2/2010 | 09:24 WIB

KOMPAS.com — Sebagai remaja, putra atau putri Anda tentu ingin merasakan indahnya masa pacaran. Pada masa itu, yang mereka lihat dan rasakan hanya yang indah-indah saja. Mereka belum mampu mengendalikan perasaannya sehingga ketika ada sesuatu yang tak beres menimpa dirinya, ia tak mau percaya bahwa dirinya telah menjadi korban.

Sebagai orangtua, sebaiknya orangtua lebih banyak berdialog dengan si ABG tentang berbagai resiko pacaran. Anda bisa memberikan peringatan apabila anak mengenal sang pacar dari dunia maya atau yang bukan dari lingkungan pergaulannya sehari-hari. Dengan sering berdialog, baik anak maupun orangtua bisa lebih bijak menanggapi situasi jika mendapati si ABG berada dalam kesulitan.

Kepada anak, berikan penjelasan bahwa inilah yang mungkin akan ia hadapi:
1. Kehamilan dan penularan penyakit menular seksual
Anak yang berpacaran di usia dini mengarah pada kemungkinan yang lebih besar untuk melakukan hubungan seksual. Hal itu sangat memungkinkan terjadinya kehamilan dan penularan penyakit menular seksual (PMS). Menurut The Centers for Disease Control (CDC), kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS.

2. Kekerasan fisik
Koalisi Antikekerasan di Alabama menyebutkan bahwa satu dari tiga anak mengalami kekerasan fisik selama pacaran usia dini. Bentuknya seperti mendorong, memukul, mencekik, dan membunuh. Kejahatan tersebut sangat tertutup karena pihak korban ataupun pelaku tidak mengakui adanya masalah selama hubungan kencan. Penyebab kekerasan fisik pada remaja di antaranya kecemburuan, sifat posesif, dan temperamen dari pasangan si anak remaja. Pelaku, misalnya, mengontrol cara berpakaian si anak. Hal itu sebenarnya adalah bentuk kekerasan, yang sering kali dilihat oleh si anak sebagai bentuk perhatian.

3. Kekerasan seksual
Pemerkosaan dalam pacaran adalah bentuk kekerasan seksual dalam pacaran. Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Indonesia mengategorikan kekerasan jenis itu sebagai kekerasan dalam pacaran (KDP). KDP secara seksual terjadi ketika seseorang diserang secara seksual oleh orang lain yang dikenal dan dipercaya, seperti teman kencan. Kekerasan seksual dapat juga terjadi saat korban mabuk di suatu pesta, misalnya. Pesta menjadi ajang yang paling mudah bagi pelaku untuk mengincar remaja dengan lebih dahulu memberikan narkoba, kemudian menjadikannya korban kekerasan seksual.

4. Predator internet
Predator internet biasanya orang dewasa yang menampilkan dirinya sebagai remaja di internet dengan mengubah statusnya. Mereka berusaha manarik perhatian remaja pengguna internet. Mereka adalah pelaku seksual yang sering kali menjanjikan hadiah, mengundang remaja ke pesta-pesta supaya target bersedia berhubungan dengannya. Predator internet ini biasanya menggunakan sarana chatting dalam menjaring target. Situs jejaring sosial seperti Facebook menjadi alat ampuh. Pelaku menampilkan diri dengan meyakinkan, misalkan dengan foto atau profil yang seakan-akan masih remaja.


C1-10

Editor: din

Sumber: LiveStrong
Share on Facebook
Nilai 3.5 A A A
umbul ari pratiwi @ Kamis, 11 Februari 2010 | 18:36 WIB
setujuuuuuuuu bu asih..... ya hobby menjadikan anak berpikir positif dan lebih berwawasan. dari smp saya hobbynya buat kue dan masak makanan yang enak-enak, sekarang saya jadi pengusaha catering.
NYSA @ Kamis, 11 Februari 2010 | 13:12 WIB
ADUH JADI NGERI AKU
Save @ Rabu, 10 Februari 2010 | 11:31 WIB
Hm.. ortu nya harus didik anak nya jg biar punya sifat positif n hal" yg bner.. hehe..
oom Tung @ Rabu, 10 Februari 2010 | 10:51 WIB
Paradigma bahwa tujuan utama kehidupan adalah membentuk "keluarga shakinah" perlu dienyahkan. Perkawinan hanya satu dari sekian banyak pilihan hidup. Anak harus dikenalkan dengan banyak pilihan, misalnya: profesi, karier, pengabdian sosial, sukarelawan dll. Kalau cuma diplot lulus sekolah cari kerja, setelah dapat kerja terus menikah, punya anak dst., hasilnya ya hanya generasi pacaran. Tidak menikah juga pilihan hidup yang mulia lho ! Banyak bukti bahwa syahwat juga bisa dikendalikan.
dwi @ Rabu, 10 Februari 2010 | 10:05 WIB
memberlakukan hal yang sudah ada dalam agama menghindarkan anak remaja terancam dari risiko2 seperti yang diatas,dengan melakukan berpacaran setelah menikah,....
6 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.